21 Des 2013

Ulang Tahun ke-6

Aiiih tak terasa sudah bulan Desember. Lama nian tak diapdet blog ini. Maklumlah kesibukan kerja ditambah mengurus anak kerap membuat saya tidak mood untuk menulis dan lebih memilih membaca hehe...
Anak semata wayangku akhirnya berusia 6 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya dan sudah menjadi tradisi sejak saya kecil ulang tahun tak lengkap rasanya tanpa hidangan nasi kuning. Hanya tahun kemarin saja saya tidak membuatkan nasi kuning karena menunggui utinya yang kala itu sakit. Setahun ternyata sebentar sekali ya... Tahun ini saya lebih pede dengan kemampuan masak saya hoho...*sombong. Urusan belanja dan memasak lauk (tahu kan nasi kuning lauknya banyak^^) saya tangani sendiri. Khusus nasi kuning saya subkontrak ke si mbak yang memang pintar bikin nasi kuning. Sayang karena sibuk masak plus  banyak acara di hari sabtu itu, saya jadi lupa motoin nasi kotaknya *halah...
Hanif di usianya yang ke-6 tambah pandai, meski saya koq merasa ni anak sedang suka melawan. Walau sudah dibilang tak boleh, tetap aja dilakukan ketika tak diawasi. Di sekolah laporan dari gurunya Hanif belum bisa menyelesaikan tugas tanpa bantuan shadow teacher. Padahal kalau di rumah bisa loh...meski masih pakai reward. Namanya juga anak-anak ya... Kadang masih ketawa-ketiwi, teriak meski tak sesering dulu daaan suka mencubit pipi!!! Hadoooh...ni gara-gara bapak sama emaknya suka gemes sama Hanif jadi ditiru sekarang. Alhamdulillah Hanif gemar membaca walau bacanya ngawur. Nunjuk tulisan di buku sambil ngoceh ngga jelas padahal dia sudah bisa membaca 2 suku kata. Suka menirukan iklan di tivi juga akibat sering nonton tv sama si mbak. Saya sebenarnya dilema punya mbak yang sayang sama Hanif tapi di sisi lain Hanif sering diajak nonton tv apalagi sukanya nonton Pesbuker-_- Soal sekolah...haah...saya sudah galau tingkat dewa nih. Intinya Hanif belum dapat sekolah...mungkin tar aja ceritanya kalau lagi mood. Hikmahnya beberapa minggu saya browsing dan hunting sekolah adalah saya jadi banyak baca artikel parenting yaaaang...sudah jarang banget saya lakukan sejak aktif bekerja. Rasanya jadi terpacu kembali untuk berusaha menjadi ibu yang lebih baik lagi. Selama ini saya akui Hanif agak terabaikan karena pulang ke rumah dalam keadaan yang sudah capek lahir batin. Malah sering terbersit rasa iri kalau melihat anak teman yang 'normal'. Astaghfirullah...padahal Allah pasti selalu memberi yang paling pas untuk umatNya dan saya tahu itu. Semoga segala sesuatunya akan ditunjukkan jalannya dan dipermudah... Amiiin... Semoga ibu bisa membimbingmu menjadi orang yang berguna bagi ummat, anakku sayang... Selamat milad Haniif xxx I love you

Hanif sekarang...setinggi tumpukan 15 dus makan

2 Okt 2013

Resep: Cilok




Sudah jadi kebiasaan saya dan Hanif kalau makan siomay, pasti tanpa bumbu kacangnya. Merusak rasa original siomay yang dari sononya udah enak (berkat msg yang entah seberapa banyak hehe...). Nah...akhir pekan lalu saya melihat ada bumbu kacang bawaan siomay di kulkas saya. Terpikirlah bikin cilok sebagai sarana menghabiskan bumbu kacang.
Bahannya:
250 gram tepung tapioka
250 gram tepung terigu
2 siung bawang putih, parut
1 sdt garam
1 sdt msg (haha ketahuan kan ini buat konsumsi emaknya)
1/2 sdt merica bubuk
400 ml air panas
Daun bawang, iris tipis

Cara membuat:
  1. Campur semua bahan. Masukkan air panas sedikit demi sedikit sambil diulen pakai spatula kayu (jangan sekali-kali pakai tangan...panas hehe). Hentikan penambahan air jika dirasa adonan sudah cukup kalis (lagi-lagi pakai perasaan). Pengalaman saya 400 ml air pas sampai kalis. Mengulennya memang agak ekstra (alot soalnya).
  2. Bulatkan sesuai selera dengan dua tangan. Boleh juga diisi potongan telur. Adonannya beda dengan adonan bakso, yang ini lebih liat. Sementara adonan bakso bisa dibentuk dengan mudah dengan telunjuk dan ibu jari.
  3. Didihkan air dalam panci, masak sampai mengapung dan tiriskan. Siap disantap hangat-hangat dengan bumbu kacang. Pakai abon cabe juga enak. 
Kali ini Hanif ngga makan. Selain agak alot (pas dingin), saya pakai msg agak banyak di adonan. Tapi koq rasanya ngga terlalu gurih juga ya. Asin samar-samar saja... Anyway...selamat mencoba.

27 Sep 2013

Resep: Steamed Patin in Pot



Pas ada ikan patin tapi ngga punya daun pisang dan kemangi. Jadilah masakan ini, Steamed Patin in Pot...alias Patin Kukus hehe... Meski rasanya ngga senendang pepes patin, patin kukus ini wuenak (dasarnya ikannya udah enak). Yang jelas proses mengolahnya juga jadi lebih singkat karena minus bungkus-bungkus pake daun pisang.

Bahan-bahannya:
600 gram patin potong (saya biasa beli yang sudah potongan, isinya 4 potong besar bagian badan patin)
3 lembar daun salam
4 lembar daun jeruk
2 batang sereh, geprek dan potong 5 cm-an
1 butir tomat, potong-potong
Bumbu halus:
5 butir bawang putih
3 butir kemiri
3 cabe kriting
2 cabe rawit
1/2 ruas jahe
1 ruas kunyit
Garam dan gula secukupnya

Cara membuat:
1. Cuci bersih patin. Uleg semua bumbu, jika memakai blender usahakan jangan menambahkan air (nah lo mana bisa? makanya diuleg aja hehe...)
2. Campur ikan, bumbu halus dan tomat dalam baskom, cicipi bumbu sampai rasanya pas. Diamkan 15 menit.
3. Letakkan sebagian daun dan sereh di dasar pinggan tahan panas, taruh ikan di atasnya dan tutup lagi dengan sisa daun dan sereh.
4. Kukus selama 30 menit. Angkat dan siap dimakan dengan nasi hangat. Hmmm...yummm...

Hasilnya jadi agak berkuah, tapi enak karena air berasal dari kaldu ikan. Makanya saya tidak menyarankan menambahkan air ketika menghaluskan bumbu karena rasa ikan akan menjadi hambar. Selamat mencoba.

17 Sep 2013

Resensi Buku: Nancy Drew Files #62: Easy Mark

Cover aslinya...jadul ya
Kali ini Nancy diminta oleh Harrison Lane, Anggota Komite Brewster Academy untuk menyelidiki pelaku 'pengubah nilai' di database sekolah. Kasus ini melibatkan putri ketua komite yang menjadi salah satu 'klien' dari pelaku. Awalnya Nancy berpikir kasus ini akan selesai dengan menyelidiki pemilik rekening di mana uang dari para klien ditransfer. Tapi ternyata identitas yang digunakan adalah milik seorang wanita tua sebatang kara dan telah meninggal. Sementara para 'klien' semuanya dikontak via akun email sekolah. Maka tak ada jalan lain bagi Nancy selain menyamar untuk dapat masuk ke sekolah sebagai tutor pelajaran tambahan. Salah satu murid tutornya adalah Victor Paredes, computer-freak yang bermasalah dengan nilai bahasa inggrisnya. Selain itu ada Miss Phyllis Hathaway yang merupakan kandidat kuat calon kepala sekolah tetapi tidak terpilih. Ada juga Dana MacCauley yang sepertinya sedang mengalami kesulitan keuangan di perusahaan komputer miliknya. Mereka berdua terlibat dalam membangun seluruh sistem komputerisasi di Brewster. Kecurigaan Nancy menjadi sedikit bias ketika ia mulai terlibat dengan Victor, yang menurutnya cukup menyenangkan sebagai teman.

Ini buku pertama Nancy Drew yang saya baca. Saya seringkali membaca namanya di serial Hardy Boys, yang bukunya ada di perpus sekolah saat saya SMA. Malahan saya lebih dulu menonton film-nya yang diperankan oleh Emma Roberts dan saya suka banget. Makanya sudah sejak lama pingin baca bukunya. Tapi ketika membaca yang ini, koq rasa-rasanya lebih dewasa ya. Setelah baca di wikipedia, ternyata memang Nancy Drew terdiri dari beberapa versi. Versi originalnya adalah Nancy Drew Story (usia pertengahan remaja). Sementara Nancy Drew Files yang saya baca adalah versi lebih dewasa. Agaknya Nancy sudah lulus sekolah, tapi memilih untuk tidak kuliah. Tentang alur ceritanya sendiri, saya cukup menikmati. Meski bila dibandingkan Lima Sekawan dan Trio Detektif, ceritanya ngga terlalu seru karena minus adegan penyanderaan dan ngga ada kejar-kejaran dengan penjahat (yang selalu ada di Lima Sekawan hehe..). Di sisi lain, ada cerita roman yang cukup membantu saya menikmati buku ini. Nancy diceritakan sudah jadian dengan Ned, tapi tetap ada saja yang naksir. Buku ini cocok dibaca oleh pemula bahasa inggris. Tak terlalu tebal dan bahasanya juga mudah. Mungkin lain kali saya akan membaca yang versi teen-nya.

Berikut beberapa gambar dari filmnya yang highly recommended untuk ditonton. Saya sampai punya vcdnya:p

Nancy "Emma" Drew...dengan baju vintagenya

Nancy and Ned

16 Sep 2013

Hanif dan Gadget

Sudah bukan rahasia lagi kalau Hanif sangat suka memainkan gadget, apapun! Mulai dari handphone, kamera digital, tab dan laptop. Mungkin tak hanya Hanif saja, hampir semua anak rata-rata juga suka dengan gadget. Hanya saja untuk Hanif, hal ini sedikit banyak turut mempengaruhi perilakunya. Seperti berteriak-teriak menirukan suara karakter angry birds atau yang terkini adalah lari-larian tanpa henti akibat game Subway Surfer. Sisi positifnya (walau ngga banyak) adalah ia semakin berani bereksplorasi -yang beberapa kali berakhir dengan kerusakan -_-. Gadget juga seringkali saya jadikan reward alias iming-iming agar Hanif mau melakukan apa yang saya minta. Saat ini porsinya berinteraksi dengan gadget jauh berkurang. Ini saya lakukan atas pertimbangan dari guru dan terapisnya. Alhasil HP dan netbook saya pun boring alias ngga diisi game macem-macem...biarlah demi anak. Nah...kali ini saya ingin memejeng (bahasa apaa ini?) foto-foto Hanif dan gadgetnya. Cekidot!

1. Hanif dan Laptop



Hanif kecil (7 bulan) suka menirukan ayahnya di depan laptop. Berlagak pura-pura mengetik, padahal yang ada keyboard digebrak-gebrak. Hasilnya notebook tecra yang setia menemani saya sejak kuliah pun afkir dengan keretakan pada keyboardnya.  Heleuh... Kalau yang ini, Hanif sekarang dengan netbook HP saya lengkap dengan headset. Dia sudah mahir menggunakan mouse bahkan bisa mencari sendiri lagu atau video yang disukanya.


2. Hanif dan Handphone




Dari bayi Hanif sudah suka kutik-kutik handphone. Yang lebih lucu lagi, saat saya baru ganti HP samsung (S3 mini) tiba-tiba ada telepon masuk, saya kebingungan belum tahu cara mengangkat panggilan, lalu Hanif yang ada di sebelah saya dengan santainya men-swipe gambar telfon hijau di layar HP. Jiah...anakku lebih jago rupanya hehe... Alhamdulillah untuk HP masih awet meski kadang Hanif suka melemparnya (lagi-lagi gara-gara Angry Birds).

3. Hanif dan Digital Camera




Suatu ketika si ayah iseng mengutak-atik kamera DSLRnya di rumah. Hanif kontan saja tertarik. Daaan...seperti biasanya kamera pocket Canon milik saya lah yang dikorbankan untuk memuaskan keingintahuan Hanif. Lihat saja gayanya mengoperasikan kamera lengkap dengan tripod. Alhasil, hari itu juga kamera saya langsung rusak. Gimana engga, dihidupin dimatiin berkali-kali. Bahkan setelah dimatikan dan lensanya belum masuk sempurna, sudah dihidupkan lagi. Namanya anak-anak dikasih tahu teteup aja. Hiks...

4. Hanif dan Galaxy Tab



Kalau yang ini, baca ceritanya di sini dan di sini. Samsung GT-1000 ini memang bandel. Bahkan berkali-kali dilempar oleh Hanif (paling jauh pernah sejauh 4 meter), tetap bisa beroperasi meski kadang lemot. Tapi overall gadget ini masih berfungsi dengan baik. Posisinya sedikit terlupakan dengan adanya S3 mini haha... Kalah pamor. Mungkin Hanif sudah bosan juga.


5. Hanif dan DVD Player


Hanif suka sekali nonton VCD. Tapi hanya di bagian-bagian tertentu. Jadi ia kerap mem-fast forward atau me-rewind untuk melihat bagian yang disukanya atau dianggapnya lucu berulang-ulang. Diperlakukan seperti itu tiap hari, rusaklah DVD player doorprize saat gathering kantor 3 tahun lalu. Sepertinya optiknya harus diganti tapi saya tunda dulu sampai Hanif mengerti bagaimana merawat barang-barang di rumah. Haaah...emaknya jadi 'libur' nonton DVD.



31 Agt 2013

Resep: Nugget Tempe


Sapu-sapu dulu... Sebulan ngga ditengok ni blog. Harap maklum kesibukan ramadhan, lanjut mudik dan langsung digempur oleh kerjaan kantor plus bimbingan laporan mahasiswa. Fiuh... Mumpung masih bulan syawal tak lupa saya mengucapkan met idul fitri minal aidin wal faizin amiin. Mohon maaf lahir dan batin.
Postingan kali ini tentang resep yang rasa-rasanya sudah lama banget ngga posting hasil eksperimen. Saya masih menyempatkan diri untuk masak makanan di pagi hari. Tapi yang standar saja sayur dan lauk. Beberapa waktu lalu iseng browsing resep, ketemulah resep nugget tempe (entah di blog siapa lupa, insya Allah pahalanya tetap dihitung Allah karena sudah menginspirasi saya hehe...).
Bahan:
Sepotong tempe (kurleb 200 gram)
Ayam kurleb 100 gram
1 butir telur
Setengah batang wortel (lebih banyak juga boleh)
3 biji bawang merah
2 siung bawang putih
Merica secukupnya
Garam secukupnya
Air atau susu cair secukupnya
Larutan tepung (untuk pencelup)
Bread crumbs aka tepung tempura (saya pakai mama suka)
Cara membuat:
1. Haluskan tempe dengan ulekan dan cincang ayam fillet. Campurkan keduanya dengan telur, wortel parut,bawang yang telah dihaluskan (kalau saya diparut, males ngulek), garam dan merica. Tambahkan air atau susu bila teskstur masih belum homogen alias menyatu. Bagusnya pake food processor ya tapi berhubung ngga punya ya seadanya. Jika terlalu cair, don't worry tambahkan saja tepung terigu sampai mendapatkan adonan yang pas (pake perasaan aja, masak ya kayak gitu apa2 pake perasaan -_-'). Ohya, jangan lupa cicipi.
2. Tuang adonan ke loyang atau wadah tahan panas yang sudah dilapisi plastik. Tekan-tekan supaya padat. Hal ini penting karena adonan yang tidak padat akan membuat nugget mudah patah. Kukus selama 15 menit.
3. Angkat dan dinginkan sampai benar-benar dingin kalau perlu masukkan kulkas. Setelah dingin potong sesuai selera dan simpan dalam kulkas.
4. Ambil nugget secukupnya, celupkan dalam larutan tepung dan air (jangan terlalu cair ya) lalu gulingkan di tepung tempura. Sisihkan. Setelah selesai goreng dalam minyak panas dengan api sedang sampai kecoklatan. Hidangkan.
Hasilnya cukup memuaskan. Enak dan Hanif suka. Sekali bikin bisa untuk cemilan sekaligus lauk. Selamat mencoba.
Hasilnya 10 biji @seukuran dobel finger (agak kegedean sich).

24 Jul 2013

Challenge: Receh for Books 2013



Saat SD 1000 rupiah =  2 mangkuk bakso + 2 teh botol
Ketika SMP 1000 rupiah = ongkos angkot ke sekolah pp + jajan pisang molen 2 biji + es teh
Pas SMA 1000 rupiah = sepiring nasi pecel Bu Pin + es teh
Zaman kuliah 1000 rupiah = segelas es teh manis
Sekarang 1000 rupiah = bayar parkir (kadang 2 ribu malah)

1000 rupiah atau nominal yang lebih kecil seringkali kita sebut receh. Dari sebutannya saja receh, kedengarannya remeh bukan? Bahkan uang 1000 rupiah yang semula berbentuk uang kertas, kini dicetak dalam koin seolah semakin menunjukkan bahwa nilai 1000 adalah receh. Meski demikian, segala sesuatu yang kecil jika dikumpulkan akan menjadi bukit. Begitulah kiranya semangat yang diusung oleh floriayasmin yang menggagas tantangan "Receh for Books 2013". Syaratnya cukup mudah:
1.Kumpulkan uang receh dari Januari-Desember
2.Jangan dihitung sampai akhir tahun 2013
3.Setelah semua uang terkumpul, belikan buku yang kamu inginkan/bukunya dihadiahkan ke orang lain
4.Kalau mau ikut, bikin posting mengenai challenge ini di blog masing-masing (tidak harus blog buku) kemudian masukkan link dari postingan kamu di mr.linky (ada di blog hostnya)
5.Pasang banner Receh for book(s)

Meski sebenernya dah telat banget untuk ikutan, saya tetap semangat ikut karena pingin tahu seberapa banyak recehan yang bisa terkumpul di akhir tahun nanti (secara di kantongan tas kantor recehan banyak banget). Hadiahnya...tentu saja buku yang akan dibeli dengan uang yang terkumpul nanti. Semangaaaat!!!!


ni dia celenganku...handmade dari kotak bekas amplop

tulisan iseng ayu *temen kantor hehe...

23 Jul 2013

[Re-post] Menjadi Ibu dari Anakku


Ketika Hanif lahir hingga usianya menjelang 2 tahun, saya berpikir menjadi seorang ibu tidaklah sesulit yang kubayangkan sebelumnya. Hanif kecil sangat mudah diasuh, jarang rewel dan doyan makan. Selain keterlambatan bicara, semua perkembangannya cukup normal. Hanif memang belum bisa memanggil ayah ibu tapi ia senang bersenandung dan sudah hafal abjad di usia 20 bulan. Ayahnya sempat agak curiga ketika Hanif tidak menoleh ketika dipanggil atau melihatnya suka memutar-mutar benda. Namun di satu saat, ia bisa sangat responsif dan bisa dialihkan untuk tidak memutar benda. Ah, anak ini ngga papa koq, pikir saya waktu itu.
Saat usianya 2,5 tahun dan belum juga berbicara selain kata “aduh”, akhirnya saya memantapkan hati untuk membawanya ke Klinik Tumbuh Kembang di Harapan Kita. Hasilnya Hanif dinyatakan bisa bicara tapi tidak digunakannya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Padahal fungsi bahasa adalah untuk berkomunikasi. Hanif sudah bisa menyanyi beberapa lagu, tapi jika ingin sesuatu ia hanya menarik tangan saya atau mbaknya. Selain itu, dokter juga bilang Hanif hanya tertarik pada benda, tidak pada orang. Memang waktu itu ia diminta bermain dan ketika mainannya diambil, ia sama sekali tidak melihat dokter yang mengambil mainannya juga tidak marah, Hanif hanya berusaha menggapai mainannya kembali dan ketika tidak bisa, ia beralih ke mainan yang lain. Lalu saya diberi rujukan untuk konsultasi dengan psikiater. Saya menemui 2 psikiater berbeda dan hasilnya memang ada gejala autis meski spektrumnya ringan. Mendengar semua itu, saya langsung lemas. Saya tahu anak autis itu ada, tapi baru terasa begitu nyata ketika predikat itu tertempel pada anak sendiri. Bulan pertama setelah itu adalah masa-masa yang stresful. Saya sempat merasa di kantor lebih menyenangkan daripada di rumah karena saya bisa melupakan barang sejenak. Hanif yang beberapa saat sebelumnya saya pikir anak yang easy going dan sedikit cuek, ternyata memang ada yang salah dengannya. Benar jika dikatakan bahwa penerimaan akan suatu kondisi tergantung pada tingkat ketakwaan manusia. Alhamdulillah, ayah Hanif menerimanya dengan lebih baik dan mendorong saya untuk terus berusaha untuk Hanif. Sedangkan saya...butuh waktu beberapa lama untuk bisa benar-benar menerima semua ini dan masih terus berusaha menata hati hingga kini.
Kini hampir setahun berlalu sejak hari itu. Hari di mana kata “autis” mulai menjadi hal yang akrab di telinga saya. Sejak saat itu Hanif ikut terapi dan hasilnya alhamdulillah kosakatanya semakin banyak dan ia sudah bisa merangkai 2 kata. Memang kemampuan bicaranya masih setara umur 1,5 tahun, tapi bagi saya itu hal yang luar biasa mengingat awalnya saya sempat sangsi Hanif bisa mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. Kontak mata dengan orang lain sudah lumayan, meski Hanif masih suka asyik dengan dirinya sendiri. Beberapa bulan yang lalu, akhirnya saya memantapkan diri mengambil cuti panjang untuk mengurus Hanif sendiri, keputusan yang juga tak pernah saya bayangkan akan berani saya ambil. Keluar dari kebebasan finansial, meski dibayangi biaya terapi yang tidak murah. Mungkin ini saatnya saya menempa jiwa tawakkal dan semangat pengiritan hehe...
Menjadi ibu dari anakku memberikanku pelajaran berharga
Bahwa menjadi sempurna bukanlah segala-galanya
Dan menjadi berbeda juga bukanlah aib
Menjadi ibu dari anakku mendorongku
Untuk lebih kuat dan terus berusaha
Memupuk kesabaran juga merajut keyakinan
Bahwa Allah pasti punya rencana terbaik bagi hambaNya. 

Ditulis 30 Juni 2011, dipos ulang untuk diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise”


22 Jul 2013

Resensi Buku: Pride and Prejudice

cover edisi terjemahan

Jane Austen, Project Gutenberg, 2008

Elizabeth Bennet (Lizzy), lahir di keluarga menengah dengan 4 saudara perempuan. Ibunya, Mrs. Bennet, mempunyai impian untuk menikahkan putri-putrinya dengan pria-pria yang 'mapan'. Ketika mendengar tanah tetangga, Netherfield, akan segera kedatangan penghuni baru yang kabarnya berpenghasilan tinggi, ia begitu bersemangat mendesak suaminya untuk mengunjungi sang tetangga baru agar mereka bisa berkenalan. Keinginan Mrs. Bennet agaknya terwujud saat Mr. Bingley, sang tetangga baru, tampak berlama-lama berdansa dengan Jane, putri tertuanya di sebuah pesta. Mr. Bingley tak datang sendirian, ia bersama adik perempuannya, Caroline dan sahabatnya, Mr. Darcy. Berbeda dengan Bingley yang ramah, Mr. Darcy yang konon 'lebih kaya' daripada Bingley terlihat angkuh dan sombong. Ia bahkan berkomentar bahwa Elizabeth 'tak secantik kakaknya dan hanya biasa saja' saat Bingley menawarkan diri untuk memperkenalkannya pada adik Jane, yaitu Elizabeth. Lizzy yang saat itu duduk tak jauh, mendengarnya dan beranggapan Mr. Darcy memang sombong dan angkuh. Apalagi ketika kemudian ia berkenalan dengan George Wickham, anggota resimen tentara yang ternyata adalah saudara angkat dari Darcy. Dari Wickham, Lizzy mengetahui bahwa Darcy telah berbuat tak adil dan membuatnya dibuang dari keluarga angkatnya. Lalu saat Bingley tiba-tiba menjauh dari Jane tanpa penjelasan apapun, ia pun curiga bahwa Darcy turut andil mempengaruhi Bingley untuk tidak menikahi kakaknya. Tapi betulkah semua praduga Lizzy terhadap Mr. Darcy?

Pride and Prejudice adalah salah satu novel klasik yang paling legendaris. Kisahnya menginspirasi banyak karya sejenis  (mungkin nanti akan saya review beberapa yang sudah saya baca-link) dan juga film! Saya sudah menonton PP versi film (yang dimainkan Kiera Knightley) dan versi miniseri keluaran BBC. Haha...maniak banget ya? Ngga juga sih. Waktu itu karena saya merasa di versi filmnya banyak bagian yang dihilangkan (setelah sebelumnya membaca summarynya di wikipedia hehe), akhirnya saya berburu versi miniseri BBC. Saya juga sudah membaca edisi terjemahan indo-nya yang diterbitkan Qanita. Kali ini saya mencoba membaca versi Englishnya untuk Reading English Challenge. Sepintas kisah PP terlihat standar, seorang gadis dari keluarga menengah yang dicintai oleh pria dari keluarga terpandang. Awalnya benci, sering bertengkar tapi setelah mengetahui sifat masing-masing akhirnya jatuh cinta. Plot yang familiar bukan? Tapi sesungguhnya buku ini juga mengandung pemikiran penulisnya, yang pada masa itu dianggap kontroversial. Lizzy, sang tokoh utama, digambarkan cerdas, berani, dan sangat menentang penikahan tanpa landasan cinta. Diceritakan Charlotte, sahabat Lizzy, menikah atas pertimbangan pragmatis. Di sini juga banyak diungkap fenomena sosial pada masa tersebut. Misal seorang wanita dianggap tidak patut jika bepergian sendirian, adanya tunjangan tahunan untuk anak perempuan yang telah menikah, pendidikan oleh guru privat bagi anak keluarga berada, sementara yang lainnya cukup belajar sendiri di rumah. Sementara itu tokoh prianya William Darcy, kerap dijadikan sosok ideal pria idaman bagi banyak penggemar kisah ini. Kenapa? Hehe...menurut saya tentu karena perpaduan antara tampan, baik dan tajir^^. Nah, lesson dari buku ini adalah jangan terlalu gampang menilai orang. Bisa jadi yang di luar tampak tak ramah, sebenarnya hanya kurang bisa bersosialisasi kayak Mr. Darcy. Cukup menyenangkan membaca (lagi) Pride and Prejudice, meski di beberapa bagian saat Lizzy menganalisis karakter orang-orang, saya merasa agak bosan...

poster filmnya

Bennet sisters (ka-ki: Mary, Jane, Lizzy, Kitty, Lydia)

versi miniseri BBC

Resensi Buku: Sammy Keyes and The Hotel Thief


Wendellin Van Draanen, Yearling, 1998

Samantha Keyes tinggal bersama neneknya, Rita Keyes di sebuah apartemen subsidi pemerintah khusus para lansia. Sebenarnya ia tidak diperbolehkan tinggal di sana, tapi apa boleh buat ibunya memilih mengejar mimpinya sebagai aktris Hollywood dan menitipkannya pada Sang Nenek -Rita-. Tetangga satu lantai, Ny Graybill kerap mencurigai Sammy tinggal bersama Rita. Akibatnya Sammy jadi tak bebas keluar masuk apartemen. Hari itu ia kebosanan setengah mati di dalam apartemen. Ia pun memata-matai kegiatan orang-orang di sekitar apartemen melalui teropong. Sebenarnya neneknya sering melarangnya bermain teropong, tapi toh ia tak berbuat kejahatan. Namun di sebuah kamar Hotel yang terletak tepat di seberang apartemennya, seseorang tampak terburu-buru mencari sesuatu. Tiba-tiba laki-laki tersebut mendongak dan melihat ke arahnya. Entah kenapa, Sammy masih dengan teropongnya malah balas melambai (haha...). Ketika kemudian terdengar berita pencurian di hotel tersebut, Sammy semakin yakin pria itu adalah pencurinya dan pria itu juga melihatnya! Kenapa pula ada sesuatu yang familiar pada pencuri misterius itu?

Jika suka membaca cerita detektif macam Lima Sekawan atau Nancy Drew, serial Sammy Keyes ini patut dilirik. Novel ini menawarkan keseruan yang sama dengan pendahulunya tetapi dengan sentuhan kekinian. Sammy digambarkan sebagai siswi kelas 7 yang tak hanya mengalami konflik dengan ibunya, ia juga harus berurusan dengan problematika anak masa kini yakni bullying. Tapi berkebalikan dengan Nancy Drew yang good girl, Sammy adalah tipe yang melawan balik jika diserang. Interaksinya dengan si musuh bebuyutan Heather Acosta berhasil ia selesaikan dengan cerdas di buku ini. Sammy juga berteman dengan Marissa, gadis kaya yang seringkali dimanfaatkan oleh orang di sekitarnya. Ia sering mengaku saudara tiri Marissa ketika orang lain bertanya tentang tempat tinggalnya. Buku ini cocok dibaca siapa saja yang kangen cerita detektif anak. Serinya sudah ada 17 loh... Tapi kita dapat membacanya tanpa berurutan.

sosok Sammy...(tapi sayang belum ada filmnya)

Hanif di TK B

Tak terasa Hanif sudah TK B sekarang. Perkembangannya di sekolah berdasarkan rapor kemarin alhamdulillah semakin baik. Motorik kasarnya berkembang pesat, motorik halusnya juga mulai baik dan kata-katanya makin banyak terutama benda-benda yang disukainya. Kini ia bisa mengidentifikasi makanan tertentu, tempat tertentu dan orang-orang di sekitar dengan cepat. Kadang hal ini jadi bumerang tersendiri ketika Hanif terus-terusan mengajak pergi ke McD atau minta beli pop mie tiap kali pergi ke warung (haha...). PRnya masih masalah konsentrasi dan komunikasi dua arah... Hhmmm...-__-

Hari pertama sekolah sengaja saya ambil cuti. Ternyata Hanif malah ngadat, ngga mau masuk pagar. Katanya 'pulaaang...mau HP', yaah kebanyakan main HP ni pas libur. Setelah berjuang membujuk bahkan menggendong, alhamdulillah Hanif mau berbaris dengan teman-temannya di kelas Jingga 1. Saat ia mulai asyik, saya menyelinap turun ke bawah (kelas Hanif di lantai 2). Tak berapa lama bahkan saya masih di tangga, terdengar tangisannya. Tapi saya terus turun, toh ada shadow teachernya. Terselip rasa bahagia...ternyata Hanif juga seperti anak lainnya...ngga mau ditinggal ibu^^. Semoga Hanif bisa menikmati sekolahnya di TK B.

Ini beberapa hasil karya Hanif di TK A...
 
finger painting dan menempel

masih berupa coretan acak

maksud hati menggambar apa... gambarnya ngga jelas^^

menempel biji-bijian

19 Jun 2013

Resensi Buku: Confeito

 

Windhy Puspitadewi, GPU, 2005

Once again...teenlit time. Kali ini atas nama pertemanan saya membaca buku ini. Si penulis adalah teman satu almamater saat kuliah, tapi beda jurusan. Tidak kenal dekat, sekedar tahu nama dan orangnya. Tapi boleh dong ikutan bangga punya teman penulis hehe...

Bercerita tentang Hana, panggilan dari Hanacaraka Datasawala Magabathanga Padajayanya (hehe...saya langsung ketawa membaca nama si tokoh utama), si cewek tomboi, penyuka komik dan terpaksa masuk jurusan Teknik Mesin atas request Sang Papa. Hana berteman akrab dengan empat cowok keren, yang diceritakan seringkali membuatnya menerima tatapan membunuh dari cewek-cewek lain (hmmm...sound familiar with the story ha?). Ada Leonardi, cowok oriental yang gemar buku-buku Gibran, Gede Prama dan semacamnya. Saran darinya seringkali menjadi jalan pembuka bagi masalah orang-orang di sekitarnya, meski dirinya sendiri menyimpan sebuah rahasia bahkan dari keempat temannya. Seta, si kutu buku yang tidak pernah tidak mendapat nilai A tapi menganggap dirinya tak berarti apa-apa tanpa kepandaiannya. Ridwan yang dalam pencarian "Miss Right" aka gonta-ganti cewek namun selalu kepentok tipe cewek yang sama. Lalu Angga yang cinta mati bahkan bisa dibilang cinta buta dengan Arin, pacarnya sejak SMP. Persahabatan mereka berlima yang berbeda karakter bak permen confeito yang ditaruh di dalam stoples. Terasa manis, meski kadang bergesekan satu sama lain....

Novel ini adalah karya perdana penulis. Saya menemukan nama-nama yang familiar (teman-teman kuliah) di ucapan terima kasihnya. Bahkan ada dosen yang masuk dalam cerita dan mirip dengan deskripsi aslinya haha...'si bapak' yang satu itu memang tak ada duanya. Awalnya saya pikir ceritanya akan mirip dengan F4. But it's not. Diceritakan dari sudut pandang setiap tokohnya, kisah pertemanan lima sekawan ini cukup membuat saya senyam-senyum dengan percakapan antar tokohnya. Berasa nostalgia. Tapi konflik ceritanya menurut saya lebih ke anak SMA daripada anak kuliahan. Di sisi lain, saya juga salut atas banyaknya quote dari berbagai buku. Walau saya juga penggemar buku, saya tidak pernah sampai mengingat kata-kata dari buku yang saya baca. Secara keseluruhan, meski ceritanya sedikit mudah ditebak, novel ini memiliki 'sesuatu' yang bisa dipetik oleh pembacanya. Sebagaimana tujuan awal penulisnya ketika melahirkan novel ini (tertulis di bagian belakang buku).

ini nih yang namanya confeito
Gambar dari google.





16 Jun 2013

Book Review: Mockingjay (Hunger Games #3)


Suzanne Colllins, Bloomsburry, 2010

Finally I write this review after read the book about two months ago. Bwahaha...bit busy lately and never have time for reading anyway. But it’s been slowing down right now so I decided to finish this before moving on to another book.

After being saved from Quarter Quell arena, Katniss lives in District 13. It’s not ruined and have been survived for many years by built its country underground. Coin, the president of District 13, demands her to be Mockingjay, the symbol of rebellion. For the first, she is reluctant to do it. But since Peeta is being held by the Capitol and seen being forced to speak against his will on tv, she agrees and demands the rescue of him as payback, also the right to kill Snow herself. Being Mockingjay is harder than she think. Not joining the battle, but much on taking shoots for propaganda video. She is not the one who can act on camera but the show must go on. When Peeta is rescued and brought to District 13, he sees Katniss as enemy. The Capitol has brainwashed him, then the doctor ask help from his childhood friend, Delly, to remind him some happy memories from the past. Katniss feels helpless and decides to join the operation team with Gale. The rebellion is rolling and all districts are on rebel side. Time for Capitol has arrived. Katniss and her team go on mission to The Capitol, and later Peeta is sent to join them by Coin.  It made Katniss feeling uneasy since he tend to attack her every time they met before. No matter what Coin’s plan by sending Peeta, will this operation succeed? Can she kill Snow herself?

This final installment is little bit disaponting. I said little because yeah...I know this is the reality when it comes to war. We see our Katniss being very exhausted mentally from the guilt. Seeing the ruined District 12, Peeta’s brainwashed, and the death of person she loved. All because what she did on the game.  No body can cope with all that, including Katniss. Then we have President Coins in District 13. I thought she is the type of good leader (I realized she is woman near the ending hehe...). But Coins is no better than Snow. I guess politic can make people greed. There is not much lovey scene here since Peeta being brainwashed and Gale is enthusiastic with bombing thing. But there is some sweet scene when Peeta recalls some memory of him and her. The ending...all I can say is realistic happy ending. They live happily with all the bad and good memories.

Yaay...finally it’s wrapped. It made me addicted, wacthing the movie over and over, visiting the official web to get latest update and can’t wait for the next movie. I love The Hunger Games! It’s been great to read, watch and review it.

“You love me. Real or not real?” –Peeta- 
“Real”. –Katniss-


14 Jun 2013

Mengenal Autisme Lebih Dekat


Berikut adalah materi yang disampaikan Ibu Sri Muji Rakhmawati ketika acara pemutaran film I’m STAR pada akhir bulan April lalu. Sengaja saya biarkan dalam format FAQ, supaya lebih mudah dimengerti.

Apa itu Autistic Spectrum Disorder?

ASD merupakan gangguan perkembangan yang dapat terlihat sebelum anak berusia 2 tahun. Gangguan ini memiliki 3 ciri-ciri utama yaitu:

1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, minimal harus ada 2 dari gejala-gejala di bawah ini:
  • Tidak mampu menggunakan perilaku non-verbal, seperti kontak mata, ekspresi muka, gerak-gerik untuk melakukan interaksi sosial.
  • Tidak bisa bermain dengan teman sebaya.
  • Kurang mampu untuk berbagi kesenangan, minat, atau achievement dengan orang lain.
  • Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, minimal harus ada 1 dari gejala-gejala di bawah ini:
  •     Kemampuan bicara yang terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal.
  •     Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.
  •     Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
  •     Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang dapat meniru.
3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan, minimal harus ada 1 dari gejala-gejala di bawah ini:
  •     Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan.
  •     Terpaku pada satu kegiatan ritual atau rutin yang tidak ada gunanya.
  •     Ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

Apa Penyebab Autistic Spectrum Disorder?

Saat ini secara umum telah disepakati bahwa autisme adalah sebuah gangguan yang disebabkan oleh kelainan pada perkembangan syaraf otak (perkembangannya yang terganggu, tidak optimal).

Hal ini dapat disebabkan oleh lebih dari satu penyebab.  Untuk dapat memahami autisme kita harus mempertimbangkan masalah-masalah yang mungkin muncul pada awal masa perkembangan, pengaruh genetik dan penemuan-penemuan dalam bidang neuropsikologi dan neurobiologi.

1. Masalah pada Awal Masa Perkembangan

Anak dengan autisme : mengalami masalah saat kehamilan dan proses kelahiran yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak lain. Cth: kelahiran premature, pendarahan atau infeksi sewaktu kehamilan, toxemia (keracunan darah) diidentifikasikan pada sebagian kecil dari populasi anak dengan gangguan autisme. Masalah-masalah selama kehamilan dan kelahiran ini bukanlah penyebab utama dari autisme.

Autisme dikaitkan dengan vaksinasi Rubella (MMR). Ada anggapan bahwa: vaksin ini dapat “membangunkan” symptom-simptom autistic yang sudah ada pada seorang anak. Penelitian dan bukti terakhir menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksinasi dengan autisme. Kemungkinan terjadi dugaan: kebetulan pada usia 18 bulan usia seorang anak untuk mendapatkan vaksin MMR. Sementara pada usia yang sama pula berkembangnya kemampuan bicara atau komunikasi seorang anak. Usia 18 bulan juga merupakan usia on-set autism (usia di mana tanda-tanda autisme mulai terlihat).

2. Pengaruh Genetik

Family Studies :
    3% s/d 7% saudara kandung (sibling) dan anggota keluarga besar dari anak dengan autisme, juga memiliki gangguan ini.
    Kemungkinan autisme akan muncul dua kali dalam sebuah keluarga yang sama adalah sebesar 50 hingga 100% lebih besar, daripada pada sebuah keluarga yang sama sekali tidak memiliki riwayat autisme.

Twin Studies: kemungkinan kembar identik sama-sama memiliki gangguan autisme berkisar antara 60% hingga 90%. Hal yang sebaliknya terjadi pada anak kembar fraternal.

Kesimpulan: peran faktor genetik (herediter) dalam menyebabkan gangguan autisme adalah sebesar 90%.


3. Chromosomal and Gene Disorders.

    Adanya kelainan pada kromosom fragile-X pada 2% sampai 3% dari populasi anak autisme, membangkitkan pemikiran bahwa hal ini (kelainan kromosom) mungkin berhubungan & menjadi salah satu penyebab autisme.
    Molecular Genetics
    Beberapa area dalam kromosom-kromosom otak: kromosom 2,7,13 dan 15, kemungkinan lokasi susceptibility genes (gen penyebab) autism.
    Namun gen penyebab yang mana yang paling tepat, masih belum bisa diidentifikasi. Masih dibutuhkan penelitian-penelitian serupa untuk bisa mengidentifikasikannya.

4. Kelainan Otak

Kelainan pada lobus frontalis, lobus temporalis bagian tengah, cerebellum dan system limbic secara konsisten kerap ditemukan pada anak dengan gangguan autisme. Cerebellum (otak besar) adalah pusat dari gerakan motorik, juga diasosiasikan dengan bahasa, belajar, emosi, proses berpikir dan perhatian.

Beberapa bagian spesifik dari cerebellum ditemukan lebih kecil secara signifikan dari ukuran normal, pada mayoritas anak-anak dengan gangguan austime. Kelainan pada cerebellum ini diindikasikan sebagai penyebab dari salah satu masalah anak autisme yaitu cepatnya rentang perhatiannya.

Bagian tengah dari lobus temporalis, dan stuktur otak yang berhubungan langsung dengan system limbic, yaitu amygdala dan hippocampus.

Area-area inilah yang diasosiasikan dengan fungsi-fungsi yang terganggu pada anak autisme, seperti: regulasi emosi, pembelajaran, dan memory

Amygdala memegang peranan penting dalam mengenali stimulus emosi secara signifikan, dan bagaimana bertingkah laku terhadap stimulus emosi tersebut. Sementara hippocampus memegang peranan dalam fungsi long-term memory.

Aliran darah di area lobus frontalis dan temporalisnya lebih lambat dari otak anak normal. Hal ini diasosiasikan dengan kemungkinan keterlambatan kematangan area-area otak ini, dimana area-area inilah yang berhubungan langsung dengan fungsi-fungsi yang terganggu pada anak dengan gangguan autisme.

Bagaimana Reaksi Orang Tua Ketika Menerima Diagnosa?
  •     Terkejut dan menolak diagnosa (denial), ‘berbelanja dokter’, pengobatan alternative (dapat berlangsung cukup lama, penting untuk berpikir jernih).
  •     Merasa tidak berdaya (bingung harus melakukan apa), keinginan melakukan penanganan dengan cara berbeda (antaranggota keluarga).
  •     Munculnya berbagai macam emosi negatif (merasa bersalah, marah, berduka/bersedih).
  •     Mampu menerima keadaan (emosi negatif masih ada, namun sudah bisa mengarahkan dan mencari pertolongan yang tepat, lebih positif, reorganisasi).
  •     Pola ini akan berulang selama menangani anak.

Stress Apa yang Mungkin Dialami  oleh Orang Tua dan Keluarga?
  •     Biaya untuk pengobatan dan terapi.
  •     Hubungan antar anggota keluarga.
  •     Perubahan dalam hubungan sosial.
  •     Pendidikan anak.
  •     Tingkah laku dan masalah emosional anak (kecemasan, takut, terlalu tergantung pada orang tua, marah, sedih).
  •     Menarik diri pada anak dan orang tua.

Penting Bagi Para Orang Tua

Sebaiknya orang tua tidak berlama-lama pada tahap denial, segera bekerja sama dengan tim yang terintegrasi yang terdiri dari psikolog, dokter, terapis, dan tempat terapi atau sekolah yang menangani anak, sehingga berbagai intervensi yang dibutuhkan anak dapat segera diberikan.
    Dengan merubah pola pikir yang lebih konstruktif, seperti: melihat masalah secara lebih fleksibel/tidak hanya berdasarkan satu sudut pandang; adaptif, mau dan mampu menyesuaikan diri; rasional, tidak emosional, dan mampu berpikir jernih; positif; fokus pada solusi, pemecahan masalah, tidak menyalahkan orang lain, tidak mengasihani diri sendiri; dapat membuat orang tua segera keluar dari stress yang dialaminya.
    Karena tujuan intervensi bagi anak-anak dengan autism adalah untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki dan membantu anak serta keluarganya untuk dapat mengatasi masalah atau stress yang mereka alami secara efektif dan terintegrasi dengan baik.
    Intervensi yang tepat dan diberikan sedini mungkin sangat membantu anak dengan ASD untuk dapat berkembang secara lebih baik dan optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Macam-Macam Intervensi Dini yang dapat Diberikan kepada Anak ASD
  • Applied Behavior Analysis (ABA) -- terapi perilaku, melatih komunikasi, kemampuan motorik, keterampilan sosial dan bermain, self-help.
  •     Social Skill Training.
  •     Relationship Development Intervention (RDI) -- untuk meningkatkan kualitas hidup mereka agar tidak terus menerus berpikir secara kaku, dapat menerima perubahan, belajar untuk berempati, dan memahami persepsi orang lain (dimana hal ini tidak diajarkan dalam ABA).
  •     Floortime -- yang memfokuskan pada perkembangan sosial dan emosional anak.
  •     Sensori Integrasi -- agar anak dapat memproses informasi yang diterima melalui indra secara seimbang.
  •     Pharmacotherapy dan berbagai terapi penting lainnya: seperti diet makanan tertentu, dan lain-lain.

Yang harus diingat adalah anak yang berbeda memiliki kemampuan yang berbeda pula, dan hal ini tentu saja mengarahkan kepada penanganan yang berbeda.

1. Penanganan pada Low Function Autism
  •     mengeliminasi perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
  •     self-help.
  •     pemahaman aturan dan instruksi sederhana.
  •     perilaku sosial dan emosional dasar mengkomunikasikan kebutuhan.

2. Penanganan pada High Function Autism
  •     keterampilan berbahasa atau berkomunikasi.
  •     interaksi sosial dengan teman sebaya.
  •     perilaku dan kemampuan yang diharapkan di sekolah.
  •     Perilaku dan kemampuan yang diharapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  •     Kemandirian.
  •     Menemukan minat dan bakat anak dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Meskipun tetap bergantung pada banyak faktor, anak-anak dengan high-functioning autisme lebih dapat dilatih dan dipersiapkan untuk terjun ke lingkungan sosial, komunitas, dan diajarkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan di dunia pekerjaan.

Hal yang perlu diingat adalah tidak lupa untuk selalu melihat kelebihan anak dan menggali potensi yang dimilikinya sehingga orang tua dan tim ahli tidak hanya memfokuskan diri pada kekurangan anak ASD saja, tetapi juga lebih memfokuskan diri pada kelebihan yang mereka miliki (misalnya: anak ASD yang dapat menulis puisi, melukis, bermain musik).

Dari bakat yang mereka miliki ini, anak dengan ASD dapat mengaktualisasikan dirinya, membuat hidup mereka lebih berwarna dan menyenangkan, serta mendapatkan ‘hasil’ baik berupa karya maupun sisi materi yang dapat mendukung mereka kelak untuk hidup secara lebih mandiri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Semoga bermanfaat^^...

8 Jun 2013

Suvenir Pernikahan: Foto Instan

Minggu lalu saya diundang oleh teman kantor untuk menghadiri resepsi pernikahannya yang kebetulan diadakan di aula kantor. Saya datang bersama si ayah dan Hanif. Setelah mengisi buku tamu, si mbak penerima tamu memberi saya sepotong kertas kecil bertuliskan "Redeem Your Ticket at Our Booth. Applicable for one snap only." Saya pun melirik ke sebelah kiri tak jauh dari meja penerima tamu sudah terpasang background untuk foto lengkap dengan fotografernya. Bahkan pernik-pernik pelengkap foto seperti topi, kacamata, tulisan lucu-lucu pun tersedia. Saya langsung teringat pada booth foto dari salah satu merek produk susu yang sering ada di Carefour hehe... Setelah itu, saya berlalu masuk ruangan aula. Pas pulang melewati booth foto, ramee banget...sama temen sendiri. Yang awalnya ngga minat,malah jadi nimbrung foto bareng. Saya pun memanfaatkan ticket saya untuk foto sekeluarga. Hasilnya...surprise, bagus banget dan Hanif pas melihat kamera (jarang-jarang tuh, secara Hanif ngga bisa diam). Cetak fotonya pun sangat cepat dan hasil print-nya bagus. Si ayah juga bilang bagus, karena jerawatnya ngilang semua di foto itu wkwkwk... Padahal si mbak penjaga booth yang berdiri di depan laptop sama sekali tak terlihat mengedit-edit. Inovasi baru suvenir pernikahan. Ngga cuma acara wisuda, fun bike atau wisata yang ada foto instan, pernikahan di mana hadirinnya berpenampilan cantik dan keren juga patut diabadikan dalam foto. Yang berminat or pingin tahu, klik di sini .

saya, hanif, dan si ayah


kru puspa...

Akhirusannah 2013

hanif dan ayah

Akhir minggu lalu sekolah Hanif mengadakan Akhirusannah, Pentas Akhir Tahun Ajaran di mana setiap siswa menampilkan aksi panggung. Jika tahun kemarin Hanif berpartisipasi dalam drama dan senam irama, tahun ini Hanif dan teman-teman ekskul bolanya menampilkan demo kontrol bola. Alhamdulillah Hanif cukup bersemangat dalam persiapannya, bahkan seringkali terlihat latihan kontrol bola sendiri di rumah sambil menggumamkan lagu tema Piala Dunia yang lalu. Ternyata saat beraksi, lagu tersebut adalah lagu pengiringnya. Penampilan Hanif mengalami banyak kemajuan dibandingkan tahun lalu yang masih berkeliling panggung tanpa mau mengikuti gerak temannya maupun instruksi ibu guru. Kali ini Hanif bisa bersabar menunggu giliran, mengikuti barisan, dan melakukan kontrol bola dengan baik. Saya senangnya bukan main hehe... Selesai tampil di panggung, masing-masing anak diberikan tropi dengan predikat sesuai kelebihan masing-masing. Tahun ini Hanif mendapatkan predikat "Cerdas dalam Menghafal." Alhamdulillah... Terima kasih banyak buat Guru-guru di TK Baitul Maal, terutama Ibu Guru kelas A3 (Bu Ida dan Bu Mega) juga Shadow Teacher Hanif (Bu Nita) yang sudah sabar membimbing Hanif selama di sekolah. Semoga Allah memberikan balasan yang terbaik atas keikhlasannya. Amiin...


tropi hanif

hanif beraksi

foto bareng teman ekskul bola kelas A

dengan ibu

Kerjaan oh Kerjaan

Jika awal bulan lalu saya sempat memposting kepindahan saya ke bidang lain, here I am in my new place. Yaah, masih new lah, kan baru sebulan lebih. Saya dipindahkan ke Bidang Perencanaan dan Pengembangan Diklat. Sesuai dengan namanya, kerja bidang ini adalah merencanakan dan mengembangkan diklat, khususnya di bidang pajak. Di bidang Renbang ada tiga subbidang, yaitu program, kurikulum dan tenaga pengajar. Subbid program menentukan diklat-diklat apa saja yang perlu dilakukan dalam setahun, subbid kurikulum memotori pembuatan kurikulum dan bahan ajar, lalu subbid tenaga pengajar menangani rekomendasi pengajar untuk masing-masing diklat serta pengembangan widyaiswara (pengajar). Saya ada di subbid tenaga pengajar.
Penyesuaian awal saya lakukan dengan agak susah payah. Menghafalkan widyaiswara (WI) yang jumlahnya 28 orang, letak mejanya dan kompetensinya. Yang terakhir yang paling susah. Sebenarnya para WI tersebut sudah dikelompokkan berdasarkan kluster kompetensinya yaitu KUP, PPh, dan PPN. Tapi ternyata tak sesederhana itu karena terkadang mata pelajaran dinamai spesifik seperti Imbalan Bunga, Karakteristik Subjek Pajak. Saya yang berbackground akuntansi ini super-duper-oon masalah perpajakan. Yang mana KUP, yang mana PPh.... But the show must go on, learning while doing. Lalu jika pengajar di Pusdiklat penuh atau kompetensinya tidak sesuai dengan materi, maka saya juga harus menghubungi pengajar dari luar, baik dari Balai Diklat di daerah, Pusdiklat lain maupun dari kalangan akademisi. Bersurat, bertelepon, bersms...di sini kemampuan berkomunikasi mutlak dibutuhkan. Saya yang biasa menulis tak lantas membuat urusan 'komunikasi' ini berjalan lancar. Memilih kata-kata sedemikian rupa sehingga pesan tersampaikan kepada pihak lain secara halus tetapi tetap tepat secara makna. Kesalahan berbahasa bisa menimbulkan artikel baru di website (baca di sini).
Bekerja di tempat baru memberi kesadaran bahwa saya masih harus banyak belajar. Mungkin saat ini saya merasa berada dalam zona tak nyaman, tapi bukankah hal yang sama terjadi pada masa-masa awal saya menjadi bendahara di BDK Balikpapan? Ibarat belajar jalan, saya masih nabrak-nabrak dan sering jatuh saat ini hehe... Semoga segala sesuatunya akan lebih baik ke depannya nanti. Amiin...

seusai in house training