Kesusahpayahan
Suatu hari ketika menjemput Hanif pulang sekolah, anak-anak berhamburan keluar kelas menuju bundanya dan berceloteh riang menceritakan harinya, tiba-tiba saya merasa galau sendiri. Saya iri melihat anak-anak lain tumbuh dengan normal tanpa gangguan perkembangan, saya juga ingin memiliki anak yang ‘normal’. Ahh...sesak rasanya. Di kejauhan terlihat Hanif keluar kelas belakangan, ia memakai sepatu tanpa melihat ke arah kaki dan terus diingatkan guru bayangannya. Pandangan matanya ke atas, ke segala arah tapi tidak melihat sepatu yang hendak dipakainya sehingga lama pakai sepatunya. Saya memandangnya dari tempat menunggu sambil tak sadar menghela napas. Ketika matanya menemukan saya, seulas senyum terukir di wajahnya dan saya melambai. “Hanif belajar apa?” tanya saya saat Hanif sudah di hadapan saya. Ia tak menjawab, matanya kembali tak fokus. Saya memegangi pelipisnya agar Hanif memandang, kemudian ia mengulang perkataan ibu gurunya yang menjawab pertanyaan saya. Lagi-lagi saya mengh...