13 Feb 2013

Film: Now and Then (1995)



Saya lagi senang nonton film jadul. Dulunya sudah pernah saya tonton, tapi tetap saja ada hal-hal yang saya baru 'ngeh' ketika menontonnya kali kedua. Awalnya saya tahu film ini dari resensi film di salah satu majalah remaja yang saya baca dan kebetulan sekali saat ditayangkan di TV, pas saya lagi nonton. Saya ingat betul waktu itu kelas 3 SMP.
Now and Then berkisah tentang persahabatan 4 gadis, Sam, Teeny, Roberta dan Chrissy. Cerita dibuka dengan Chrissy dewasa mengundang Sam dan Teeny untuk datang menjelang kelahiran putri pertamanya. Sam yang penulis terkenal dan Teeny yang juga sudah menjadi artis akhirnya pulang kampung dan reunian dengan Roberta serta Chrissy yang tetap tinggal di Gaslight Addition. Berkumpul kembali membuat mereka mengenang masa-masa liburan musim panas tahun 1970, saat mereka berusia 12 tahun, which is the best summer ever. Liburan kala itu mereka berempat bertujuan membeli sebuah rumah pohon sebagai lambang independensi (wuiih). Selain sibuk bekerja sambilan, mereka berempat juga bersenang-senang bermain sepeda, soft ball dan melakukan ritual pembangkitan arwah. Maklum saja saat itu belum ada nintendo juga MTV. Saat ritual pembangkitan arwah, secara tak sengaja Sam dkk membangunkan arwah Dear Johnny, yang meninggal sewaktu masih anak-anak. Merasa dihantui, akhirnya mereka berempat melacak misteri penyebab kematian Dear Johnny. Banyak hal terjadi selama liburan saat itu yang merubah sesuatu dalam diri mereka berempat. Sam harus menghadapi perpisahan kedua orang tuanya. Teeny yang anak tunggal sering diabaikan orang tuanya. Sementara Roberta masih terus berjuang mengatasi rasa kehilangan sejak ibunya meninggal saat ia masih kecil. Mungkin hanya Chrissylah yang hidupnya relatif tanpa masalah dibandingkan ketiga temannya. Meski demikian mereka saling mendukung dan berjanji untuk selalu ada untuk satu sama lain.

I always like teenage movie, alasannya karena selalu ada pesan-pesan di dalamnya. Yah, walau di sisi lain perbincangan antar remaja di Amrik jelas jauh lebih dewasa daripada remaja seusianya yang hidup dalam budaya ketimuran. Hal inilah yang baru saya sadari saat menonton film ini lagi. Pas saya lihat ratingnya P-13 for adolescent sex discussion, pantesan. Bahkan Ibu Chrissy  menyebut ketiga teman Chrissy ‘trash-mouth’ karena Sam, Teeny dan Roberta begitu casual talking about sex things. They’re only 12 years old! *geleng-geleng

Anyway, nonton film ini juga membuat saya bernostalgia dengan masa sekolah dasar. Saat tayangan TV belum banyak, internet belum ada, boro-boro Ipad. Menghabiskan masa liburan dengan kegiatan outdoor mulai dari  bersepeda, main rame-rame di lapangan dan ... musuhan sama cowok-cowok. Di film ini Sam dkk punya musuh bebuyutan Wormer Brothers, yang salah satunya diperankan oleh Devon Sawa. Terus terang awalnya tertarik film ini karena Christina Ricci dan Devon Sawa. Sebelumnya mereka pernah main bareng di film Casper (ingat-ingat?). Di sini Ricci jadi si tomboi Roberta dan Sawa jadi Scott Wormer yang suka sama Roberta, meski awalnya mereka musuhan. Ada satu adegan Sam dkk ngga sengaja memergoki Wormer Brothers lagi mandi di sungai, lalu mereka balas dendam dengan mengambil baju cowok-cowok itu :D.
Banyak pesan yang disampaikan di film ini antara lain tentang berbagai sikap ortu terhadap anak (contoh buruknya) dan juga satu quote dari Crazy Pete yang saya suka “Things will happen in your life that you can’t stop but that’s no reason to shut out the world, there’s always purpose for the good and the bad.” Intinya selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa baik maupun buruk. Nice movie for watching with old friends...

Teeny, Sam, Chrissy, Roberta in cute vintage fashion...

Cute couple^^