14 Des 2012

Resensi: Seandainya


Windhy Puspitadewi, Gagas Media, 2012

Rizki, Juno, Arma dan Christine adalah teman sekelas di kelas unggulan sebuah SMA di Surabaya. Awalnya mereka berkenalan tanpa sengaja saat sama-sama dikerjain oleh seniornya. Mereka berempat menjalin persahabatan meski masing-masing ternyata memendam masalah sendiri. Rizki, yang baru bisa melanjutkan SMA-nya setelah 2 tahun vakum, mempunyai trauma bergaul dengan kalangan ‘berpunya’. Christine, hidupnya selalu kesepian meski ia adalah putri seorang pejabat yang bergelimang harta. Arma, bertekad keras menjadi dokter demi membanggakan adiknya meski ia benci dengan profesi dokter. Juno, gadis periang yang kekanakan, menyimpan ‘rasa’ sendiri pada seseorang. Mereka berempat saling membantu dan mendukung hingga sadar akan satu hal penting bahwa ‘ada hal yang harus dikatakan baru bisa dimengerti’...

Sinopsisnya ngga jelas ya hehe..., sengaja karena ceritanya sangat sederhana. Ngga seru kalau seluruh plotnya terbaca dari sinopsis. Windhy lagi-lagi mengambil tokoh persahabatan dua cowok-dua cewek, sama seperti di Morning Light. Tapi kali ini persahabatan keempatnya terasa tanggung dan kurang akrab. Penyampaian ‘pesan moral’nya pun terasa agak kurang mulus karena permasalahan tiap tokohnya tak berujung pada inti yang sama. Meski saya tak terlalu suka endingnya, tapi...cukup ‘kena’ untuk yang pernah mengalami hal yang sama (ehm...). Memang ada hal yang harus dikatakan baru bisa dimengerti, tapi ada juga hal yang tak perlu dikatakan karena sudah terlambat. Saya suka pilihan lagu “One Day in Your Life”-nya Michael Jackson di ending novel ini, pas banget. Bagi saya, novel ini cukup ‘sesuatu’ aja *syahrini mode-on.