14 Des 2012

Film: Brave (2011)







Sebagai orang visual, saya suka sekali nonton film. Ketika musim libur sekolah zaman masih SD, saya sampai lupa mandi gara-gara asyik nonton film anak dari satu saluran ke saluran tv lain. Kini nonton film adalah hal yang langka. Beda dengan membaca buku yang bisa dicicil per lembar, untuk menonton film saya harus meluangkan waktu minimal 1,5 jam tanpa gangguan. Hanya mungkin dilakukan ketika Hanif tidur siang atau mengurangi jatah tidur malam, yang biasanya saya ikutan tidur juga atau menyempatkan online. Minggu kemarin Hanif tidur siang lebih cepat karena capek berenang, akhirnya bisa juga saya nonton film ini yang DVDnya sudah dibeli entah dari kapan.
Merida adalah putri mahkota dari Raja Fergus dan istrinya. Tak seperti putri pada umumnya, Merida tumbuh sebagai remaja tomboi yang gemar berkuda dan memanah. Sang ratu bahkan harus sering mengingatkannya untuk berlaku anggun layaknya putri raja. Mengingat usia Merida yang beranjak dewasa, Ratu mengirim surat undangan untuk berkompetisi menjadi calon suami Merida ke tiga klan tetangga. Ternyata ketiga klan tetangga setuju untuk menjadi pelamar potensial dan turut kompetisi. Merida yang merasa belum siap untuk menikah protes, tapi tak digubris ibundanya. Ketika ia membuat kekacauan di kompetisi tersebut, Ratu marah besar dan membuang busur kesayangan putrinya ke perapian. Merida yang kalut kabur dari rumah dan tak sengaja tersesat ke pondok seorang penyihir. Kemudian ia meminta ramuan untuk mengubah ibunya agar tak lagi memaksanya menikah. Ramuan itu berhasil, ibunya benar-benar berubah jadi...beruang!! Kini Merida tak hanya harus berjuang mengembalikan wujud ibunya,tapi juga harus menyembunyikan sang ibu –yang sekarang beruang- dari ayahnya yang sudah kehilangan sebelah kakinya karena menyelamatkan Merida kecil dari serangan beruang.
Saya selalu suka dongeng. Makanya ketika Pixar mengeluarkan film bertema dongeng, saya langsung pengen nonton. Apalagi film ini digadang-gadang sebagai film pertama Pixar yang tokoh utamanya perempuan. Saya juga baru sadar hal itu, padahal saya sudah nonton hampir semua kartun Pixar. Temanya sih klasik, tentang pertentangan ibu dengan putrinya yang beranjak dewasa yang melibatkan kekuatan sihir. Film yang saya ingat mengambil tema (hampir) serupa adalah “Freaky Friday”-nya Lindsay Lohan. Jujur, awalnya saya sempat agak kecewa ketika menyadari film ini ngga ada ‘prince charming’-nya, haha...ternyata saya kuno sekali ya. Ketiga ‘calon’ Merida di film ini sama sekali ‘ngga banget’ tapi lucu sih. Kelucuan juga tercipta berkat ketiga adik kembar Merida yang jahil, pun ketika Sang Ratu berusaha tetap anggun dengan wujud beruangnya. Film ini terasa istimewa berkat penyampaian cerita yang apik dan gambar animasi yang indah khas film-film Pixar. Keharmonisan hubungan Raja dan Ratu yang beda karakter juga memberi kesan tersendiri bagi saya. Biar dikata endingnya tertebak, tetep aja saya ikutan nangis di endingnya, terharu hiks... Film ini cocok ditonton bersama keluarga.