22 Okt 2026

Resensi: Yang Telah Lama Pergi

Rasanya sudah lama sejak terakhir membaca novel. Bahkan saya rasa masih lebih cepat Tere Liye menerbitkan novel baru daripada kecepatan saya membaca novel. Salah satu penyebabnya adalah mata yang lebih cepat lelah ketika baca buku dan saya masih kerap malas pakai kacamata. Buku ini pun sudah lama nangkring di rak. Baiklah, mari canangkan 1 minggu 1 buku untuk dibaca, bebas genrenya sekalian menghabiskan tumpukan buku yang belum terbaca di rumah.

Buku ini bercerita tentang Mas'ud seorang kartografer pembuat peta yang berasal dari Bagdad. Suatu ketika ia tertangkap oleh kapal perompak bajak laut saat dalam perjalanan ke Swarnadwipa. Takdir mempertemukannya dengan Remasut, raja perompak yang mempunyai misi balas dendam terhadap Kerajaan Sriwijaya. Mas'ud lantas diangkat sebagai penasihat karena kemampuannya mengingat detail lokasi. Dalam perjalanan tersebut selain harus terpaksa menjalani beberapa pertempuran, ia juga berinteraksi dengan orang-orang terdekat Remasut yang masing-masing punya kisahnya sendiri di mana Mas'ud banyak mengambil pelajaran.

Fix, ini jadi salah satu novel Tere Liye yang saya suka selain Janji (saya juga belum sempat menuliskan resensinya). Novel ini membuktikan bahwa sejarah kerajaan Indonesia bisa jadi latar cerita petualangan yang epik. Ini bukan cerita genre fantasi isekai yang pergi ke masa lampau ya, namun cerita bajak laut di zaman Sriwijaya. Plot twist strategi perangnya seru dan tak terduga sampai-sampai saya berpikir mungkinkah ini didasarkan pada kisah nyata. Saya membayangkan kalau dibuat film pasti seru, ga akan kalah dengan drama korea era Joseon. Pun kisahnya bukan petualangan biasa karena di setiap tokohnya ada hikmah yang bisa dipetik meski tetap memiliki sisi kelam. Ya tokoh-tokoh di novel ini punya sisi hitam dan putih, bukan sosok yang sempurna. Lalu yang paling gong, saya baru menyadari di hampir akhir cerita bahwa kondisi yang terjadi di Sriwijaya dalam cerita ini mirip dengan kondisi negara kita (clue: dari nama penasihat/perdana menteri kerajaan Sriwijaya) . Waaw, ternyata penulisnya menyelipkan kritik terhadap pemerintah dengan elegan nan ciamik. 

Berikut quote yang saya suka dari novelnya:

"Semua masa lalu itu. Semua kehilangan. Rasa sakit. Peluk erat-erat, Remasut. Karena kalau pun kita kehilangan, gagal, tidak mendapatkan apa pun, kita tetap memperoleh sesuatu yang spesial. Menemukan sesuatu yang berharga. Pelajaran. Dan boleh jadi itulah yang penting dan abadi. Atau boleh jadi, itulah yang sedang membentuk karakter, masa depanmu. Kamu sedang disiapkan untuk sesuatu yang besar tadi."

Antara Diary, Blog dan Instagram

Saya suka menulis sejak SD. Meski tetap tak suka ketika harus mengerjakan mengarang bebas yang tak pernah absen dari ujian Bahasa Indonesia ...