6 Feb 2012

Hanif Campak

Sepulang dari Taman Topi, Hanif mendapat oleh-oleh. Keesokan harinya, badannya mulai panas. Panas mulai memuncak di hari Rabu sehingga saya putuskan untuk tidak masuk sekolah dulu. Mau dibawa ke dokter, ah...tunggu besok siapa tahu sembuh. Ternyata masih demam dan mulai muncul bintik merah di punggungnya. Saya pikir alergi, karena Hanif sudah 2 kali merah-merah karena alergi. Tapi kali ini bintiknya lebih kecil dan tidak gatal seperti sebelumnya. Selera makannya memang agak turun, tapi minumnya alhamdulillah banyak banget. Mintanya teh anget terus, bisa 5 gelas besar sehari. Tentu saja hanya saya beri sedikit gula dan warna tehnya pun pucat, asal berwarna aja. Hari Jumat, bintiknya makin menyebar ke seluruh tubuh bahkan sampai belakang telinga. Kata mbak yang bantuin di rumah itu tampek a.k.a campak. Setelah dibaca-baca di internet, kayaknya iya. Urung di bawa ke dokter karena panasnya sudah turun. Seiring meluasnya bercak merah, demam dan nafsu makan membaik. Alhamdulillah Hanif benar-benar sembuh hari Selasa, pas seminggu sakit. Obatnya hanya Sanmol, banyak minum, dan istirahat (ngga keluar rumah). Makannya saya bikinin bubur sendiri, dimakan sedikit-sedikit 2-3 suap, tapi sering. Hikmah sakitnya Hanif kali ini saya jadi tahu gimana rasanya punya anak pendiam hehe.... Ketika sakit, ia jadi pendiam dan tiduran terus di kasur. Padahal sehari-hari Hanif sangat mobile, hobi ngoceh dan bersenandung. Begitu badannya mulai enak, langsung deh ocehannya keluar. Kata ayahnya, “salah makan apa nih?.” Itu tandanya anaknya sudah sehat, ayah...

Info campak bisa dibaca di sini.