23 Nov 2025

Resensi: Di Depan Kabah Kutemukan Jawaban


Riza Almanfaluthi, 2025
Maghza Pustaka, 200 halaman

Buku ini adalah buku kedua Pak Riza yang saya review. Saya punya beberapa buku beliau tulis dan ini yang paling terakhir saya beli. Namun paling berkesan bagi saya. Mungkin karena saya -sebagaimana muslim lain- juga rindu ke Baitullah ya. Semoga Allah ijabah kesempatan untuk berhaji atau umroh.

Buku ini berisi kisah perjalanan haji dan umrah yang pernah penulis alami. Berhajinya sudah di tahun 2011 dengan istrinya dan ibadah umroh di tahun 2025 awal dengan keluarga (istri dan anak). Penyajian buku terbagi 5 bab tentang persiapan, berbagai ritual dalam haji dan umrah, kisah-kisah di kota Nabi, kisah terkait Kabah dan terakhir tentang pulang. Ceritanya dituturkan dalam fragmen slice of life, bercampur antara momen saat haji maupun umrah. Selain menyelipkan  rujukan ayat al quran dan hadits, penulis juga menuliskan berbagai tips dan hacks baik untuk persiapan dan saat ibadah di sana. Pun merekomendasikan beberapa buku yang layak dibaca untuk menambah ilmu sebelum ibadah. 

Kesan saya seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, sangat berkesan. Bahkan saya sampai menangis saat membaca di beberapa bagian. Meski bercampur antara experience di dua timeline berbeda, perpindahannya mulus dan tidak membuat bingung. Kadang penulis menceritakan pengalamannya sendiri atau keluarganya, pengalaman orang lain yang dikenal, pengalaman orang lain yang dibacanya atau kisah kaum teladan terdahulu. Terus terang saya kagum, penulis bisa mengolah berbagai kisah, fiqih singkat dan merangkainya menjadi cerita yang mengalir. Rujukannya banyak sampai 4 lembar panjangnya daftar pustaka buku ini. Rasanya seperti membaca kombinasi tulisan perjalanan berpadu tuntunan ringkas ibadah haji dan umrah hehe. Tapi tentu ini lebih mudah dibaca karena berupa tuturan kisah. Buku ini cocok dibaca untuk yang mau persiapan ibadah haji atau umrah, juga untuk yang ingin ikut merasakan pengalaman spiritual yang dialami penulis. 

Sebagai orang yang belum pernah ke Baitullah, tadinya saya sempat berpikir andai saja buku ini dilengkapi foto-foto tempat yang menjadi latar ceritanya pasti akan memberikan visual yang menambah rasa batin saat membacanya. Namun saya teringat bahwa di pengantarnya ditulis penulisan buku ini direncanakan setelah ibadah umroh jadi pasti di sana fokus ibadah. Sementara jika menggunakan foto orang lain, pasti akan ada persoalan hak cipta dan sebagainya. Aah...memang harus berimajinasi sendiri supaya makin kuat doanya untuk ke Baitullah^^

Resensi: Log In: Habib dan Onad

Husein Ja'far Al Hadar, 2025
Penerbit Hiatus, 200 halaman

Pertama tahu buku ini dari iklan di email. Konon materi buku ini diambil dari podcast Habib Ja'far dan Onad. Jujur saya bukan penggemar podcast *orang visual saya. Pun tak tahu siapa Onad tapi saya tahu Habib Ja'far dan kiprah dakwahnya yg 'anak muda' banget. Itulah yang kemudian mendorong saya membeli buku ini kala peluncurannya di mizanstore.com.

Buku ini dikemas dalam 20 bab (termasuk epilog) dengan judul-judul yang cukup provokatif. Maksudnya kerap kita dengar ditanyakan oleh orang-orang yang belum atau baru kenal Islam. Contohnya 'kalau Tuhan Maha Esa, kok, agama banyak?' 'katanya Islam damai, kok, boleh perang?' 'kok Islam engga asyik, dikit-dikit haram'. Menarik yaa, bahkan saya sendiri jadi mikir jawab apa ya kalau ada yang nanya begitu. Penjelasannya ditutur dengan bahasa yang ringan dan kerap menggunakan analogi sederhana sehingga mudah dipahami. Meski demikian Habib tetap merujuk pada ayat Al Quran dan hadits. Di beberapa kalimat sengaja dicetak dengan warna biru tebal untuk membantu pembacanya menangkap pokok gagasan yang penting. 

Ekspektasi saya ketika membeli buku ini adalah menjadi tambahan amunisi ketika berhadapan dengan pertanyaan anak, baik anak sendiri maupun anak mahasiswa. Namun ternyata setelah membacanya saya jadi semakin 'bangga' jadi muslim dan semakin yakin bahwa Allah Maha Penyayang. Kenapa Allah menciptakan neraka, merahasiakan waktu kiamat, bahkan memberikan manusia akal dan kehendak meski Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tentang Islam yang sesuai fitrah manusia, berpuasa tetapi boleh berbuka, beribadah tetapi juga boleh beristri, perceraian yang meski Allah benci tapi diperbolehkan, ketakwaan yang sesuai dengan kemampuan, juga bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Islam adalah toleransi, tanpa paksaan dan diibaratkan seperti pohon besar yang menaungi semuanya. Ya...meski judulnya Log In, buku ini tidak lantas mengajak orang lain untuk masuk Islam. Buku ini lebih ke memperkenalkan Islam dengan bahasa yang mengalir dan logika yang mudah diterima. Sekali lagi bukan ngajak log in ya (kayaknya itu diambil dari nama podcast-nya kalau tidak salah). Di dalamnya tidak ada sama sekali pernyataan yang menghakimi agama lain. Mungkin karena latar pendidikan Habib Ja'far adalah filsafat Islam, makanya berbagai analogi yang digunakan di buku ini 'kena' banget dan membuat saya berpikir 'iya juga ya'. At the end, buku ini cocok bagi kamu yang ingin tahu tentang Islam atau mungkin ingin me-refresh keimanan sebagai seorang muslim. Kalau nanti Log In jilid 2, saya pasti akan beli sih.

21 Nov 2025

Antara Diary, Blog dan Instagram

Saya suka menulis sejak SD. Meski tetap tak suka ketika harus mengerjakan mengarang bebas yang tak pernah absen dari ujian Bahasa Indonesia kala itu. Bagi saya menulis itu harusnya tanpa beban dan tanpa paksaan. Maka saat itu saya mulai menulis diary. Hanya menceritakan keseharian dan apa yang saya rasakan. Tidak pula untuk konsumsi orang lain.

Ketika dewasa, saya menghindari menulis diary. Memilih untuk curhat langsung saja pada Allah dan beberapa kawan dekat. Jujur agak khawatir ketika tumpahan emosi sesaat yang berjejak tersebut akan menimbulkan konflik di kemudian hari. Tapi saya tetap ingin menulis. Saat itu baru mulai trend blogging dan saya pun ikut membuatnya. Topiknya seputar keseharian saat itu yakni mengurus anak kala mengambil cuti panjang sekitar 2 tahun. Jadilah isi blog ini review buku dan film (karena saya suka baca novel dan nonton tapi bukan yang hobi banget), resep (dulu sempat dipaksa berkutat di dapur karena hanif harus diet CFGF) dan cerita perjalanan (biar ada cerita untuk dikenang). Namun lepas 2 tahun dan saya mulai aktif bekerja kembali membuat menulis blog jadi on-off.

Ketika sekarang muncul Instagram, saya masih memilih blog. Entah mungkin karena Instagram terlalu riuh dan saya merasa agak kurang nyaman berbagi di sana. Pun tulisannya tidak bisa terlalu panjang. Mungkin juga saya yang tidak terlalu pede tulisan saya dibaca orang lain tapi tetap ingin menulis di ruang publik. Gimana dong? I know i'm weird. Di sini saya merasa bisa menuliskan tanpa beban, tentunya tentang topik yang aman ya mengingat bisa diakses oleh siapa saja. Berharap bisa sedikit memberi manfaat, tapi tidak mau terlalu terlibat dalam polemik perbedaan pendapat. I just wanna write...just as simple as that

Kalau tulisan ilmiah...yaa saya masih harus belajar banyak terkait hal itu. Apalagi profesi saya saat ini mengharuskan output tulisan ilmiah setiap tahunnya. Banyak pakem-pakem dan aturan yang sampai sekarang saya masih terus belajar untuk mempraktikkannya. Belum bisa menikmati tidak lantas membuat alasan untuk tidak melakukan. Kan digaji untuk itu salah satunya hehe... Kalau mau menulis bebas, ya di blog aja. Semoga dimampukan dan diberikan semangat dalam menulis.

Baik menulis artikel ilmiah maupun postingan ala-ala di blog, keduanya memberikan manfaat. Kepuasan karena sudah menghasilkan sesuatu pasti. Tapi yang lebih penting, menulis kerap membantu menata pikiran sebelum menuangkannya menjadi aksara bermakna. Tak jarang saya mereka ulang suatu kejadian di kepala saya dan mengingat apa yang saya rasakan saat itu. Di situ terjadi proses validasi perasaan yang ternyata penting dalam proses mencari ketenangan hati. Itu yang saya rasakan ya, bisa jadi setiap orang berbeda. Kebiasaan menulis katanya juga membantu untuk bisa berbicara di depan publik secara lebih runut. Nah apakah benar begitu? Mungkin ada benar karena saat ini saya merasa lebih lancar berbicara di depan umum. Namun bisa juga karena profesi saya sekarang menuntut saya semakin sering melakukannya. Meski ketika harus berbicara di luar rutinitas (selain di depan mahasiswa), saya sih tetap grogi hehe... Semoga Allah memberikan kekuatan untuk bisa terus menulis. Aamiin...

Resensi: Satine dan Langit Mengambil

Ika Natassa, 2024 dan 2025 Gramedia Pustaka Utama Sejujurnya saya terlalu malas untuk membuat postingan berbeda untuk dua novel ...