29 Agu 2024

Film: Heartbreak Motel (2024)



Yeay...akhirnya nonton juga filmnya di minggu terakhir tayang di bioskop dan...saya lumayan surprise.
Film dibuka dengan adegan Ava bekerja sebagai housekeeping di sebuah hotel, kemudian berselang-seling dengan adegan Ava yang sedang akting, Ava di luar syuting, Ava remaja dan Ava kecil di tengah pertengkaran orang tuanya. Di kehidupannya sebagai housekeeper hotel, ia bertemu Raga -tamu hotel yang kerja di bidang finance-, sementara di kehidupan artis dia bertemu Reza -aktor lawan main yang kemudian jadi kekasihnya-. 

Saya surprise dengan alurnya, berbeda dengan novel meski ada beberapa hal yang sama. Di awal saya sempat menerka Ava punya kehidupan ganda, yang mana tak ada di novelnya. Kemudian voila...di tengah film barulah saya paham arah alurnya. Secara umum, saya lumayan menikmati film ini. Alurnya unik (sudah saya singgung sebelumnya), aktingnya jempolan (terutama Laura Basuki, bisa ya akting tanpa kata-kata tapi feelnya tetap sampai ke penonton) dan visualisasinya juga bagus. Namun saya agak kesulitan membedakan Ava dan Reza di kehidupan biasa dengan Ava dan Reza yang sedang syuting jadi pasangan suami istri *mbatin loh ini udh nikah atau belum sih.

Lalu karena saya baca novelnya, saya merasa ada bagian esensial yang hilang. Versi novelnya Ava yang mengalami childhood trauma sulit mencintai dirinya sendiri. Oleh karenanya ia suka akting, menemukan kesenangan menjadi orang lain sehingga untuk kembali menjadi dirinya, ia perlu menyepi di hotel yang ia sebut Heartbreak Motel. Di versi film, hotel lebih tampak sebagai pelarian Ava ketika terkena kasus dengan Reza, terlebih ia sampai menyamar sebagai housekeeper. Di novel, Ava kekeuh tidak mau mengungkap identitas aslinya dari Raga karena merasa Raga tidak akan mencintai 'Ava' yang sebenarnya. Di filmnya, sosok Ava yang sulit menerima dirinya sendiri ini seperti kurang tegas ditampilkan, lebih kepada panic attack yang kerap muncul dipicu hal-hal yang mirip trauma masa kecilnya. Lalu saya suka banget dengan scene di novel ketika Raga nembak "aku mau jadi orang yang menemani kamu menerima dirimu sendiri" *auto meleyot. Tapi ini ga ada di film hiks. Yaah, adaptasi novel dengan batasan durasi film memang tak mudah sehingga ceritanya dibuat sedemikian rupa. Mudahan nanti dibuat serial yang mirip novelnya *maunya saya. Oh iya satu lagi yang beda, di versi film Reza Malik (yang diperankan Reza Rahardian) berkali-kali lipat lebih tampol-able alias nyebelin daripada versi novelnya *hadeeh.

27 Agu 2024

Resensi: The Duke and I



Julia Quinn, 483 halaman
GPU, 2013

Inti cerita buku ini tentang hubungan palsu yang akhirnya jadi cinta betulan. Tokoh utamanya adalah Daphne (anak ke-4 dari Bridgerton bersaudara) yang merasa kerap di'friend-zone'kan oleh para pria di sekitarnya. Ia menyenangkan dijadikan teman tapi tidak untuk diperistri. Di sisi lain ada Simon Basset yang bertekad untuk tidak menikah karena 'luka' masa kecil. Padahal para ibu menganggapnya sebagai the most eligible bachelor untuk jodoh putrinya. Kemudian dalam suatu kejadian, Simon bertemu Daphne dan membuat kesepakatan. Daphne berharap pamornya naik dengan mengencani Simon dan Simon ingin menghalau para ibu yang berebut menyodorkan putrinya. 

Menurut saya, alur buku ini mudah ditebak dan agak sedikit membosankan. Tipikal historical romance. Kenapa serialnya begitu hits? Hhmm...saya menduga mungkin visualisasinya berperan besar. Walau saya belum berminat menontonnya. Sejujurnya membeli ebooknya di googleplay karena sedang diskon dan penasaran ceritanya.

Saya bukan penggemar historical romance ya, lebih suka yang genre roman modern (seperti Sophie Kinsella) atau fantasy (dongeng). Tapi saya suka Pride and Prejudice pada masanya haha (review di sini, sini, dan sini). Saya mulai kenal novel historical romance ketika SMA. Kebetulan ibu dari teman saya Dewi gemar membaca genre tersebut jadi saya diperbolehkan pinjam. Dari situ saya jadi tahu bahwa ada banyak levelnya, dari yang lite, medium, sampe 'kipas-kipas' haha.... Tidak banyak sih yang saya baca, cukup tahu aja. Saya pernah baca karangan Barbara Cartland (ini termasuk light), seri Harlequin (dari light sampai kipas ada) dan Nora Roberts (agak kipas sih ini). Kalau serial Bridgerton ini termasuk light menurut saya. Serinya ada 7 buku, masing-masing menceritakan kisah cinta dari 7 anggota keluarga Bridgerton walau tidak urut kelahiran. Daphne diceritakan pertama karena ia putri tertua meski anak ke-4. Biasanya saya suka dengan cerita yang berkaitan dalam satu universe. Tapi yang ini belum mendorong saya untuk ingin membaca seri berikutnya. 

Resensi: Gelap Terang Hidup Kartini


KPG, 2022 

Dulu saat masih sekolah, saya mengenal sosok Kartini sebagai pahlawan emansipasi wanita di Indonesia. Beliau mendirikan sekolah bagi para wanita di Jepara yang kala itu lazimnya tidak mengenyam pendidikan. Pemikirannya diketahui dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang merupakan kumpulan surat Kartini kepada Ny. Abendanon. Hanya sebatas itulah yang saya dapat dari pelajaran sejarah. Padahal saya merasa memiliki keterikatan dengan sosok Kartini, hanya karena lahir di tanggal yang sama haha...

Ketika Tempo menerbitkan seri tokoh bangsa, saya juga tak langsung tertarik. Maklum saya bukan penikmat biografi *lirik buku tentang Pak Hatta yang belum tuntas dibaca. Baru dibaca 1 dari 3 buku. Tapi ketika mengangkat Kartini, saya tertarik karena alasan sentimentil yang saya sebut sebelumnya daan...karena film Kartini besutan Hanung berhasil memantik rasa penasaran saya untuk mengenal sosok Kartini lebih jauh.

Meski disajikan secara singkat, buku ini banyak mengulik tentang pergolakan batin Kartini. Lahir sebagai putri bupati, tidak lantas membuatnya berdiam melihat ketidakadilan yang dialami kaum perempuan pada masa itu. Mulai dari perlakuan terhadap ibunya yang 'cuma' istri selir (ia bahkan tak boleh memanggil ibu pada ibu kandungnya), tradisi pingitan hingga pernikahan 'paksa'. Keterbukaan ayahnya Bupati Jepara turut berperan dalam perkembangan Kartini. Sang ayah mengizinkannya bersekolah (meski sampai sekolah dasar), melanggankan berbagai bacaan (yang membuatnya bisa mengasah kemampuan menulis dan berkorespondesi), membebaskannya dari pingitan (yang hanya dijalani Kartini 4 tahun), tidak memaksanya menikah, bahkan memberinya izin untuk bersekolah ke Belanda (meski tidak jadi berangkat). Selain kiprahnya yang sudah jamak diketahui seperti mendirikan sekolah wanita dan mengangkat nilai ukiran Jepara, Kartini juga pemikir yang gelisah. Hal ini dia tuangkan dalam berbagai tulisan ilmiah (sejak usia 16 tahun!). Sebagian besar ditulis dengan nama ayahnya dan nama samaran. Kegelisahannya juga tercurah melalui korespondesinya ke beberapa teman yang ternyata tak hanya Ny. Abendanon. Ada Estella -tokoh sosialis Belanda dan Ny. Ovink -isteri asisten residen Jepara. Total suratnya mencapai 361 pucuk surat (termasuk surat adik-adik Kartini). Yang dibukukan konon hanya sekitar 115 surat, wow... 

Buku ini jg mengungkap berbagai pandangan tentang kiprah Kartini. Sebagian pihak merasa Kartini adalah produk Belanda karena hubungannya yang intens dengan tokoh Belanda. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pemikirannya cukup radikal untuk perempuan pribumi pada masa itu. Ketika akhirnya Kartini menerima pinangan Bupati Rembang pun (padahal sebelumnya ia menentang pernikahan paksa), banyak pendapat diungkap tentang alasan Kartini. Mungkin karena rasa sayangnya pada ayahanda yang mulai sakit-sakitan (yang selama ini sudah memberinya banyak kebebasan di tengah pandangan sinis orang lain), atau bisa juga ia telah melihat tak selamanya pernikahan yang dijodohkan itu buruk (dari pernikahan 2 saudarinya yang bahagia), atau karena didorong oleh kekecewaan tidak jadi berangkat sekolah ke Belanda. Tak ada yang tahu pasti. Konon Bupati Rembang melamar Kartini karena wasiat almarhumah istrinya yang mengagumi Kartini. Terlepas dari berbagai pandangan tentang Kartini, kiprahnya di usianya yang hanya seperempat abad telah mendorong kebangkitan (kembali) kiprah perempuan Indonesia. Kok kembali? Ya, jadi menurut buku Kisah kisah Pahlawan Nusantara (kapan kapan direviu) diungkap bahwa sesungguhnya peminggiran kaum perempuan bukanlah budaya feodal Jawa melainkan pengaruh dari Belanda sendiri. Konon 100 tahun sebelum Kartini lahir, kiprah perempuan sudah lazim diakui contohnya nenek buyut Pangeran Diponegoro yang juga memimpin pasukan. Menarik ya...

Membaca buku ini membuat saya menyadari bahwa saya berbeda dengan Kartini😏. Kayaknya saya tidak mungkin seberani beliau, memiliki pemikiran yang berbeda. *saya tipe-tipe malas konfrontasi. Singkat kata, biografi membuka cakrawala pandangan kita terhadap kondisi zaman tertentu. Oke saya akan mulai membaca biografi, ga novel melulu. Karena ditulis oleh jurnalis, buku ini seperti reportase yang mengungkap berbagai sudut pandang tentang satu peristiwa. Rasanya seperti jadi detektif,  menduga-duga alasan dari tindakan sang tokoh. Hal ini berbeda dengan biografi ala novel yang pernah saya baca, dimana tidak ada perdebatan pandangan di dalamnya. Di dalam buku ini, juga menyebutkan banyak judul buku lain tentang Kartini sebagai referensi. Mungkin suatu saat kalau saya tertarik, akan saya baca. Mungkin...entah kapan hehe...

19 Jun 2024

Resensi: Berpikir Suprarasional



Raden Ridwan Hasan Saputra
Penerbit Republika, 2020
189 halaman, ebook

Buku ini pernah disebut oleh salah seorang rekan dosen di salah satu rapat. Lalu saya penasaran dan mencarinya di Googleplay. Voila...ternyata ada dan langsung dibeli.

Buku ini mengenalkan suatu konsep cara berpikir yang disebut suprarasional. Apa itu suprarasional? Di atas akal manusia (rasional) ada keimanan. Singkatnya, tetap berpikir dengan akal disertai memandang segala sesuatunya dari kacamata keimanan. Sistematika penyajiannya sebagai berikut: (saya tuliskan dalam poin supaya lebih mudah dibaca)
  1. pengertian suprarasional -sebagaimana yang saya tulis di awal paragraf, semoga kesimpulan saya tidak salah-
  2. menjadi karyawan Allah -saya setuju dengan POV ini karena seringkali orang lebih takut dengan atasan daripada Allah sehingga jadikanlah Allah seperti atasan-
  3. kiat merencanakan kesusahan -ini juga betul banget walau syulit melakukannya karena orang penginnya yang mudah-mudah padahal setelah itu pasti datang kesusahan. Oleh karena itu rencanakan kesusahan, supaya kemudahanlah yang akan didapat kemudian. Bukankah surga juga dikelilingi hal yang tak menyenangkan?-
  4. paradigma pahala lebih baik daripada uang -ini jadi introspeksi buat saya sih supaya tidak ikutan arus apa-apa harus ada honornya. Ketika memang tak ada honornya, ya itulah kesempatan kita mendulang pahala atau tabungan gaib. Kuncinya harus bisa ikhlas supaya pahalanya dapat hehe-
  5. perihal rezeki tergantung dari pahala -tabungan gaib dapat dikonversi menjadi materi maupun nonmateri. ini sebenarnya debatable, apa iya rezeki sepenuhnya tergantung pahala. terus bagaimana orang yang tak beriman tapi rezekinya banyak. well, itu rahasia Allah sih. tapi jika bisa meyakini ini maka kita akan terus berusaha memantaskan diri saat doa kita belum terkabul. luar biasa banget ya-
  6. berbagai fenomena kehidupan dari pandangan suprarasional -di bagian ini penulis menggunakan logika suprarasional untuk mengambil hikmah berbagai peristiwa hidup seperti bencana alam, perceraian sampai anak yang tidak suka matematika-
  7. solusi suprarasional untuk permasalahan bangsa -solusinya agak-agak promosi nih^^-
Penulis buku ini adalah guru matematika dan suprarasional ia cetuskan dari pengalaman hidupnya. Justru ketika ia membuka 'bimbel' dengan bayaran seikhlasnya malah mendatangkan kesuksesan besar. Beliau menggambarkan tabungan gaib sebagai segitiga biru (jadi inget tepung) yang bisa bertambah karena amal kebaikan terhadap sesama manusia dan ibadah kepada Allah. Tabungan tersebut bisa dikonversi melalui doa tak hanya jadi materi tapi juga nonmateri. Lantas bagaimana kalau doa tidak terkabul? Berarti tabungannya belum cukup, maka teruslah memperbesar segitiga biru kita. Penulisnya mendeskripsikan konsep ini melalui gambar grafik, khas guru matematika. Penjelasannya juga logis dan mudah diterima. Lantas apakah hidup kita bisa dihitung seperti matematika? Tidak juga, bahwa ada ranah Allah dalam hal seberapa besar penambahan luas segitiga biru akibat suatu amalan. Hanya Allah yang bisa menilai bobot keikhlasan, termasuk juga bobot ganjaran dosa yang mengurangi luasan segitiga biru. 

Bagian yang paling berkesan di buku ini adalah tentang merencanakan kesusahan dan pahala lebih penting dari uang. Lalu bagian yang agak kurang sreg mungkin bagian akhir di mana penulis memasukkan klinik matematikanya sebagai salah satu solusi menghadapi permasalahan bangsa Indonesia untuk dapat berpikir suprarasional. Kesannya seperti jualan sih, walau saya percaya penulisnya pasti tidak berniat demikian. Toh sejak awal klinik matematikanya tidak mematok bayaran alias seikhlasnya. Saya juga sudah tertarik dengan konsep klinik matematikanya sebelum membaca bagian akhir buku ini. Singkat kata, saya suka buku ini. Seolah merefresh kembali diri saya untuk semangat menambah tabungan gaib -yang sejatinya itulah bekal kita di akhirat nanti-.

12 Jun 2024

Resensi: I've Got Your Number



Novel ini saya beli beberapa waktu lalu di Google Play karena diskon dengan 38 ribu rupiah saja. Kadang di Google Play ada buku menarik yang diskon dan yang gratis juga ada. Sering-sering aja scroll buat ngecek. Lumayan walau tak sebanyak di Amazon.

Ceritanya diawali dengan Poppy yang kehilangan cincin pertunangannya saat acara kumpul bridemaids. Ketika teman temannya bergantian mencoba cincinnya tiba tiba alarm kebakaran berbunyi dan tak ada yang ingat cincin itu terakhir ada pada siapa. Tak cukup sial, ponselnya pun dijambret orang saat ia sangat membutuhkannya untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang mungkin menemukan cincinnya. Ditambah lagi sore itu ia akan bertemu calon mertuanya (tanpa memakai cincin pertunangan yang merupakan harta keluarga Magnus calon suaminya!!). Di tengah hectic siang itu, Poppy tiba tiba menemukan sebuah ponsel di tempat sampah -mungkin itu pertolongan Tuhan-. Ponsel itu ternyata milik asisten pribadi dari Sam Roxton, konsultan di White Globe Consulting. Poppy pun meminjam sementara ponsel tersebut dengan syarat memforward semua email yang masuk ke ponsel Sam. Namun siapa sangka berbagi email membuatnya mengenal Sam lebih jauh, bahkan terlibat dalam suatu skandal konspirasi yang berlangsung di White Globe.

Membaca novel ini seperti mendapat paket komplit, mulai dari komedi, romance sampai suspense. Awalnya simpatik dengan kondisi Poppy yang sial banget, lalu berubah jadi komedi ketika Poppy harus menahan rombongan klien dari Jepang sementara Sam masih terjebak di tempat lain. Sam juga membantu Poppy menang telak permainan scrabble dengan keluarga Magnus yang hampir semuanya profesor -walau sebenarnya curang karena Sam searching internet dan mewaprinya ke Poppy yang beralasan sedang konsul jarak jauh dengan pasiennya-. Oiya, Poppy ini merasa insecure dengan keluarga calon mertuanya yang akademis banget sementara ia adalah fisioterapi yang belum pernah menulis artikel jurnal ilmiah (dejavu yhaa...sama jurnal). Bahkan novel ini pun ditulis dengan footnotes/catatan kaki yang merupakan inner thought dari Poppy sehingga turut memperkuat kesan upaya Poppy untuk terlihat lebih akademis hehe.... 

Karakter Poppy ini sejujurnya bikin saya gemas karena terlalu suka ikut campur sampai membuat saya berhenti membaca beberapa kali karena tak siap mengetahui kelanjutan dampaknya haha...tegang. Selain itu ia juga sulit berkata tidak dan kepo-an. Di sisi lain, karakter Sam juga tidak sempurna, ia digambarkan dingin, formal dan tanpa basa basi. Namun keduanya saling menyadarkan kekurangan masing-masing dan berusaha menjadi lebih baik. Ups spoiler hehe. 

Anyway, ini judul yang paling saya suka di antara novel Sophie Kinsella yang pernah saya baca. Pacenya terjaga sampai akhir, alurnya tidak mudah ditebak walau endingnya sudah bisa diduga. Tapi saya cukup terkesan dengan endingnya karena tidak ada satu pihak yang menderita banget alias semua mendapatkan sesuai perbuatannya. I love it.

Resensi: Lebih Muda 20 Tahun


dr. Hans Tandra
Penerbit Andi, 2021
400 halaman


Beberapa waktu lalu, saya menonton reels dr Hans di feed instagram saya. Ia banyak memberikan tips kesehatan mulai dari mengatur makan sampai berolahraga. Penyampaiannya yang menarik membuat saya akhirnya membeli salah satu bukunya...dengan harapan bisa memperkuat motivasi untuk lebih sehat.

Buku ini secara garis besar terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama membahas perubahan yang terjadi pada tubuh seiring bertambahnya umur, bagian kedua mendeskripsikan berbagai gaya hidup sehat yang bisa dijalani dan bagian ketiga menjelaskan tentang berbagai jenis penyakit yang sering dialami oleh orang Indonesia. Meski banyak menggunakan istilah kedokteran, bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah dipahami. Alur pernyajiannya pun terasa pas, dengan memulai gambaran perubahan tubuh seiring penuaan, lalu membahas gaya hidup sehat secara detil dan dilanjutkan pembahasan berbagai penyakit disertai pengobatan serta gaya hidup sehat yang sesuai untuk mengatasi penyakit tersebut. Beberapa informasi penting yang perlu perhatian sengaja disajikan dalam kotak sehingga mudah ditangkap mata. Penyampaiannya juga mengalir sama seperti mendengarkan penjelasan dr. Hans di channel Youtube GoodTalk. 

Beberapa tips yang saya ingat adalah 
  1. Pengaturan jam makan, organ tubuh perlu istirahat, sarapan itu penting, makan pagi seperti pangeran makan siang seperti pejabat dan makan malam seperti pengemis haha...maksudnya porsinya ya. Komposisi juga harus lengkap.
  2. Olahraga 30 menit sehari atau 150 menit dalam seminggu. Bisa dimulai dengan berjalan kali 1 jam setelah makan selama 10 menit lalu ditingkatkan bertahap.
  3. Jangan stress, tidak merokok dan melakukan hobi yang membuat bahagia. Karena bahagia itu juga kunci kesehatan.
Banyak banget informasi bermanfaat di buku ini. Tidak perlu menunggu tua untuk membaca buku ini, anak muda pun perlu. Sebaiknya memang tidak dibaca sekali namun dibaca berulang kali sebagai pengingat atau motivasi. Yuk mulai dari langkah kecil merutinkan 30 menit jalan kali setiap hari dan makan benar di jam yang teratur. Semoga istiqomah dan terus semangat sehat.

26 Mei 2024

Resep: Bone Broth (Kaldu Tulang)


Karim waktu masih bayi punya kulit yang sensitif sekali. Tidak bisa pakai sabun bayi yang mengandung SLS dan jika digigit serangga kulitnya akan berbekas kehitaman. Kemudian saya putuskan untuk memberikan Karim bone broth. Alhamdulillah biiznillah daya tahan tubuhnya membaik, sudah bisa pakai sabun biasa dan tidak lagi berbekas jika tergigit serangga. Saat itu konsumsinya sekitar 8-10 jar per bulan dan per jar harganya 85 ribu. Lumayan yaa haha...konsumsinya sekitar setahunan. Anggap saja pengganti pengeluran sufor karena tidak minum sufor.

Beberapa bulan ini Karim sering sekali demam dan flu. Lalu saya melihat ig salah satu influencer (@olevelove) yang gencar memberi anaknya kaldu tulang buatan rumah sebagai BB boster. Jadilah saya terpikir untuk bikin sendiri kaldu tulang.

Bahan:
500 gram tulang sapi/ayam/ikan
4-5 batang wortel (potong besar)
5 batang daun bawang (potong besar)
1 bawang bombay (iris bulat bulat)
5 siung bawang putih (kupas dan geprek)
3 siung bawang merah (kupas dan geprek)
2 sdm cuka apel (skip jika tidak ada)

Cara:
  1. Masukan semua bahan ke slowcooker. Saya pakai merek Kris 3,5 liter.
  2. Tambahkan air sampai penuh (sekitar 2,3 liter)
  3. Masak selama 24 jam dengan setting low
  4. Setelah 24 jam, saring kaldu. Tambahkan garam secukupnya (saya 1 sdt).
  5. Masukan ke jar kaca dan simpan ke frezeer setelah dingin. Hasilnya sekitar 7-8 jar kaca ukuran 250ml
Konsumsi bone broth baik dilakukan ketika perut kosong. Karim biasa konsumsi pagi dan sore, sebelum makan pagi dan sore. Kadang diminum dalam keadaan dingin (saya pindah ke chiller ketika sore untuk dikonsumsi esok hari), kadang juga dalam kondisi hangat jika sedang batuk (cukup rendam jar dalam mangkuk berisi air hangat). 

Apakah sama khasiatnya dengan bone broth yang beli? Sejujurnya saya kurang tahu. Bone broth yang pernah saya beli diklaim dimasak selama 48 jam dalam panci titanium. Hasilnya memang lebih pekat dan bertekstur jelly ketika dingin. Sementara bikinan sendiri hanya dimasak 24 jam dan tidak bertekstur jelly kecuali yang pakai ceker ayam. Selama ini saya sudah mencoba pakai tulang sapi (back bone, oxtail), tulang ayam (ceker, tulang dada) dan tulang ikan (salmon). Jika terlalu amis, kadang saya tambahkan irisan jahe. Tapi jika tidak berbau amis, saya buat simpel seperti yang saya tuliskan di atas.  Alhamdulillah Karim doyan. Sehari habis 1-1,5 jar. Tulangnya saya beli di online shop, diusahakan yang organik atau kampung. Tujuannya supaya tidak ada hormon yang ikut larut ke kaldu ketika dimasak. Namun disesuaikan saja dengan budgetnya jika belum memungkinkan beli yang organik. Oh iya, penambahan cuka apel berfungsi membantu pengeluaran kalsium dan mineral dari tulang ketika pemasakan lambat (slow cooking). 

Apakah ada pengaruh yang signifikan terhadap Karim?
Saya perhatikan memang frekuensi dan durasi sakitnya sudah berkurang. Kadang masih flu tapi tidak selama yang dulu. Berat badannya sekarang 19,2 kg (usia 5 tahun). Bismillah saya niatkan ikhtiar untuk kesehatan anak. Karim lebih mudah sakit dibanding kakaknya, Hanif.
Selamat mencoba.

Review: Living Room No Matsunaga-san

Lama ngga nulis blog padahal banyak ide di kepala. Ya begitu kalau kerjaan sedang banyak jadi malas mau menulis hehe... Kali ini saya akan r...