18 Okt 2026

Resep Gyoza Juicy

Hanif sangat suka gyoza. Sebetulnya saya cukup sering membuatnya, namun menggunakan adonan yang sama dengan dimsum. Beda di kulit saja. Kali ini saya ingin coba membuat yang ala resto, yang ada rasa jahenya dan dagingnya juicy. Rahasianya ada di tambahan air dan penyimpanan mentah. Jadi ini merupakan improvement dari resep gyoza sebelumnya ya. Berikut resep yang dihasilkan dari Gemini haha...ternyata bisa hemat waktu hunting resep.

Bahan:
500 gram paha ayam giling
1 sdt kaldu jamur
1/2 sdt merica bubuk
1/2 sdt gula pasir
2 sdm kecap asin
1 sdm saus tiram
2 sdm minyak wijen
6 sdm air es
4 siung bawang putih haluskan
1,5 ruas jahe parut (sekitar 1,5 sdt setelah diparut)
100 gram wortel parut
50 gram daun bawang iris tipis
Kulit dimsum kurleb 80 lembar
Air untuk perekat

Cara membuat:
  1. Campur ayam giling dengan bahan kering (kaldu jamur, merica dan gula). Aduk sampai menyatu
  2. Masukkan air es secara bertahap, dua sendok-aduk sampai meresap, ulangi kembali sampai 2 kali lagi -ini kuncinya agar juicy-
  3. Masukkan bumbu basah perkecapan (saus tiram, kecap asin, minyak wijen). Aduk rata.
  4. Masukkan wortel parut dan daun bawang. Aduk, lalu diamkan 10-15 menit dalam kulkas agar adonan termarinasi sempurna
  5. Keluarkan adonan. Taruh 10 gram adonan (1 sdt) di atas kulit gyoza, olesi air bagian tepinya dan lipat pinggirannya.
  6. Jika ingin langsung dimasak: panaskan 1 sdm minyak, masak 1 menit, tuang 50ml air lalu tutup, masak 3-4 menit dg api kecil 
  7. Jika ingin disimpan frozen: bekukan gyoza dengan ditata rapi sekitar 1 jam, setelahnya bisa dipindah ke plastik/wadah yg lebih besar tanpa perlu ditata supaya hemat penyimpanan. Gyoza tidak akan lengket karena sudah setengah beku. Memasak gyoza beku caranya sama tanpa perlu dicairkan terlebih dahulu, hanya waktu kukus lebih lama 6-8 menit dan airnya lebih banyak 80ml.
  8. Wortel bisa diganti dengan kol yang diiris tipis, baluri garam dan peras sebelum dicampur ke adonan agar mengurangi kadar air. Resep adonan disesuaikan menjadi 1 sdt gula dan 4 sdm air es.

Musikal Mar

view dari kursi terdepan balkon atas

Setelah pertengahan tahun lalu perdana nonton Musikal Keluarga Cemara, saya selalu ingin menonton musikal lagi. Qadarullah beberapa kali ada musikal belum rejeki nonton, entah karena bertepatan dengan acara keluarga atau telat tahunya jadi tinggal seat yang mahal hehe... Alhamdulillah bulan Mei lalu ada Musikal Mar yang digelar oleh rumah produksi yang sama dengan Musikal Keluarga Cemara dan waktunya pun pas setelah periode penilaian akhir semester. Ceritanya ini self reward ya. Tempatnya di Ciputra Artpreneur sama juga dengan yang lalu. Namun kali ini sy ambil seat di balkon atas, viewnya penuh walau berjarak agak jauh dari panggung, tetep sih beli yang paling murah ^^.

Musikal Mar ini berkisah tentang kisah romansa antara Sersan Mayor Marzuki dan Perawat Aryati dengan latar belakang peristiwa Bandung Lautan Api. Kisah dibuka dengan Aryati masa depan yang bertutur tentang kisahnya pada cucunya. Mulai saat perkenalan antara Sersan Mayor Mar yang ganteng tapi awkward dengan Suster Aryati yang cantik di warung Ambu, kemudian mereka terpaksa menjalani hubungan jarak jauh saat Mar dipindahtugas ke Yogyakarta, keduanya bertemu kembali di Jakarta, pulang dan menikah di Bandung sampai terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Sepanjang pertunjukan diiringi dengan koreo apik dari lagu-lagu Ismail Marzuki. Oh iya musikal ini adalah tribute untuk komposer Ismail Marzuki walau saya agak heran kenapa lokasinya tidak di TIM.

Kali kedua nonton musikal memberikan pengalaman yang berbeda dengan pertama kalinya. Selain viewnya lebih penuh, genre ceritanya kali ini romansa dan lagunya lagu-lagu nostalgia. Lagu favorit saya adalah Payung Fantasi. Kalau adegan yang paling saya suka adalah semua scene di Warung Ambu yang ceritanya jadi tempat nongkrong muda mudi kala itu. Lucu aja meski kadang ada bagian yang saya tak paham karena berbahasa Sunda. Interaksi Mar dan Aryati juga bikin gemes di awal perkenalan, karena cowoknya kaku kayak kanebo kering sementara ceweknya malu-malu kucing. Adegan peristiwa Bandung lautan api divisualisasikan dengan megah menggunakan tirai transparan memproyeksikan kobaran api. Ceritanya sad ending ya (maaf kalau spoiler), namun ternyata tak sampai membuat saya terbawa perasaan. Padahal cewek-cewek di sebelah saya banyak juga yang nangis. Entah mungkin karena alurnya sudah terlalu familiar -bukan berarti ga menarik ya-. Somehow agak mengingatkan saya tentang cerita masa lalu Diana (Wonder Woman) juga kisah Candy Candy yg juga jadi perawat saat perang. Mungkin juga saya sibuk kagum dengan pergantian setting panggung yang terlihat sangat jelas dari balkon. Bagaimana warung bisa dibolak balik jadi rumah sakit, ditambah dinding jadi stasiun, jadi tempat pengungsian. Keren banget. Pengalaman kedua di Ciputra Artpteneur ini membuat sy menyadari bahwa sound di sini sedikit kurang jelas, beberapa kali obrolan pemainnya kurang bisa saya tangkap sehingga saya harus ekstra fokus jika percakapannya agak panjang. Namun saya cukup puas menonton Mar kali ini meski harus keluar rumah selama total 6 jam (berangkat jam 1 siang, tiba kembali di rumah jam 7 malam). Kalau pertunjukannya saja berlangsung dari jam 14.40 sampai dengan 17.10 dengan jeda 20 menit (jam 16.00-16.20). Kalau ditanya lebih suka mana Mar atau Keluarga Cemara, saya lebih suka Keluarga Cemara sih karena lagu-lagunya lebih sesuai selera saya.

scene di warung Ambu

scene di rumah sakit

scene di stasiun

the wedding

visualisasi Bandung Lautan Api

mengabadikan jalan terjal menuju balkon atas wkwk

Review: The Sheep Detective (2026)

Suatu hari saya mengambil cuti untuk mengurus beberapa keperluan yang ternyata selesai lebih cepat dari perkiraan saya, mumpung masih ada waktu saya pun pergi nonton film. Dengan siapa? Sendirian. Koq bisa sih? Hehe...mungkin kapan kapan saya akan tuliskan tentang hal itu. Pilihan film saya jatuh ke The Sheep Detective, hasil dari googling sesaat sebelum nonton. Awalnya ingin Devil Wears Prada 2 tapi saya pikir nanti juga bisa streaming di Disney+ (saya ada akun bawaan paket Indihome).

Filmnya bercerita tentang George Hardy, seorang gembala yang eksentrik (diperankan oleh aktor yang jadi Wolferine -lupa namanya). Hardy sangat dekat dengan domba-dombanya bahkan kerap membacakan mereka buku-buku termasuk novel misteri. Dan ternyata setelahnya para domba itu saling diskusi menebak gerangan pelaku sebenarnya. Domba paling pintar di antaranya bernama Lily. Selain Lily, ada juga Mopple domba yang tak pernah lupa -di film ini para domba memiliki kemampuan selective amnesia, kecuali Mopple-, Sebastian si domba jantan yang penyendiri, Winter Lamb -anak domba yang lahir saat musim dingin sementara domba umumnya dibiakkan untuk lahir di musim semi-, domba kembar yang gemar menyeruduk (ga tahu namanya), dan beberapa karakter domba lainnya yang saya lupa hehe...

Di suatu malam berhujan deras, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkan George ditemukan tergeletak tak bernyawa di luar caravannya pada pagi harinya. Lily dan domba lain sangat terguncang lalu memutuskan untuk melupakan kejadian itu. Namun Lily urung melakukannya karena diingatkan oleh Mopple betapa Hardy sangat sayang kepada mereka semua. Lily, Mopple dan Sebastian akhirnya memutuskan untuk menyelidiki kematian Hardy dan berusaha memberitahukannya ke pihak yang berwenang.

Kesan pertama film ini mengingatkan saya pada Shaun The Sheep. Di sini para domba bisa berbicara satu sama lain, namun terdangar mengembik bagi manusia. Menonton film ini terasa campur aduk. Sedih, kocak dan tegang bercampur jadi satu. Sedih melihat para domba mengatasi kehilangan gembala yang disayanginya. Kocak menikmati tingkah polah domba-domba dengan karakternya masing-masing. Kemudian ada rasa tegang dari misteri kematian Hardy yang awalnya terkesan semua orang bisa jadi tersangkanya. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati The Sheep Detective. Kalau ada serialnya, saya mau banget menontonnya. CSI versi domba lah hehe...

ini salah satu scene terlucu, saat Lily dan Mopple untuk pertama kalinya keluar dari farm 
dan hendak menyeberang jalan raya *awang2en

pic: credit to google

25 Mei 2026

Review: Living Room No Matsunaga-san

Lama ngga nulis blog padahal banyak ide di kepala. Ya begitu kalau kerjaan sedang banyak jadi malas mau menulis hehe...


Kali ini saya akan review drama jepang sekaligus versi manga-nya. Tokoh utamanya bernama Miko. Ia terpaksa tinggal di rumah kos karena orang tuanya pindah untuk merawat neneknya di kampung sementara ia tinggal setahun lagi di SMA. Di rumah kos milik pamannya itu, Miko tinggal bersama 5 penghuni lain. Ada Matsunaga-san (Jun) desainer grafis, Kentaro bartender, Ryo mahasiswa, Akane chef, dan Asako pekerja kantoran. Kisahnya berkutat tentang Miko yang belajar hidup mandiri dan interaksinya dengan teman-teman kosnya. Tentu saja diwarnai kisah romansa dari masing-masing tokohnya.

Jujur tertarik nonton karena suka manganya. Sayang di Indonesia hanya terbit sampai nomor 4 kalau tidak salah, selebihnya saya baca ilegal (jangan ditiru ya). Manganya sampai volume 11. Artnya bagus banget sampai akhirnya membuat saya memutuskan untuk baca walau agak pesimis melihat sinopsisnya. Yang di pikiran ada kos campuran anak SMA dan orang dewasa muda...bawaannya langsung suudzon haha... Tapi ternyata tidak demikian, makanya dont judge book by its synopsis deh. Vibe sepanjang cerita semua penghuni kos seolah bertindak sebagai kakak bagi Miko -ngemong gitu- walau nantinya ada yang falling in love tapi tetap menjaga. Dengan tokoh lainnya penulis memang membebaskan hubungan sebelum menikah, namun pada Miko penulisnya mempertahankan sosoknya yang masih pure. Mungkin karena Miko masih sekolah dan Jun bertindak sebagai walinya (menggantikan paman Miko yang keluar negeri), tapi yang jelas kesempatan itu ada di rumah kos campuran bahkan kamar yang bersebelahan. Makanya saya merasa interaksi Miko dan Jun sweet banget. Bahkan di akhir Jun sampai pindah kos setelah menyatakan perasaannya pada Miko (ups spoiler). Versi manganya lebih slow burning romance nya, sementara di versi drama lebih cepat pace nya namun saya tetap dapat feel cerita yang sama. Akting pemainnya juga oke banget, meski di awal saya sempat merasa karakteristik fisik aktornya kurang pas dengan gambaran fisik versi manga. Pemeran Miko terlalu tinggi dan Jun kurang tinggi namun termaafkan dengan chemistry yang oke di antara keduanya. Drama ini rekomen untuk kamu yang suka drama minim skinship tapi tetap sweet.

aww


all cast: miko, ryo, akane, kenji, asako, jun

10 Feb 2026

Resensi: Satine dan Langit Mengambil

Ika Natassa, 2024 dan 2025
Gramedia Pustaka Utama

Sejujurnya saya terlalu malas untuk membuat postingan berbeda untuk dua novel karya Ika Natassa. Satine terbit di tahun 2024. Saya baru membacanya di tahun 2025 akhir setelah membelinya di awal tahun 2025. Sementara Langit Mengambil terbit di awal tahun 2026. Kali ini saya bahkan ikutan PO bukunya yang plus merchandise. Begitulah minat baca saya akhir-akhir ini, kadang giat, seringnya malas. Lebih memilih untuk tidur atau membaca webtoon yang lebih singkat. Ternyata saya tak ada bedanya ya dengan penggemar dracin hehe...lebih suka short escape.

Oke...kita mulai dari Satine. Berkisah tentang Satine, seorang bankir yang punya segalanya, kecuali jodoh. Dari sini bisa tertebak ya ke mana arah ceritanya. Satine bertemu dengan Ash melalui dating agency. Keduanya bersepakat untuk contract dating pada awalnya, namun berkembang menjadi lebih dalam karena Satine dan Ash adalah dua orang yang membawa luka pengasuhan. Satine yang selalu dituntut sempurna, Ash dengan trauma kekerasan domestik. 

Sementara itu Langit Mengambil bercerita tentang Tara, jurnalis investigasi, yang kehilangan segala setelah insiden penculikan yang dialaminya saat bertugas melakukan penyelidikan terhadap sindikat judi online. Insiden tersebut berdampak pada orang-orang di sekitarnya, termasuk Raka suaminya.

Dua novel ini depressing wkwk. Tapi Satine lebih mudah dibaca alias lebih ringan konfliknya dibandingkan Langit Mengambil. Ketika membaca Satine, saya merasa relate dalam hal rasa kesepian dalam keramaian yang dialami Satine. Wanita yang berkarir akan merasakan hal yang sama saat sebagian besar temannya sudah menikah sementara ia belum. Masalah komunikasi anak dengan ortu pun terasa familiar, urusan komunikasi memang tak semudah teori di perkuliahan. Membaca Satine ini masih terasa vibe Ika Natassa banget, background bankir, wanita karir yg chic ditambah pengetahuan baru tentang art -yang menjadi kesukaan tokoh Ash-.

Dalam Langit Mengambil, bisa dibilang sangat berbeda. Di sini tema coping with traumatic event sangat mendominasi. Sepanjang novel banyak monolog yang dilakukan Tara dan Raka. Saya sampai merasa stress sendiri, menyimak bagaimana Tara menolak semua orang, berpura-pura baik-baik saja sampai akhirnya mulai membuka diri. Bahkan saya pun bisa memaklumi ketika Raka seperti menemukan nyaman ketika bertemu dengan 'old fling' karena kesehariannya sudah lelah mengikuti sandiwara Tara. Ada porsi misteri di novel ini terkait investigasi Tara, tapi terasa nanggung krn tidak mendalam dan sudah berat di porsi tragedinya. At the end, saya jadi belajar dari peristiwa Tara bahwa ketika menghadapi pihak yang coping with trauma, harus banyak sabaar, menunggu dan berserah pada Allah, sang Maha Pembolak balik Hati. Udah gitu aja...^^

6 Des 2025

Karim dan Dokter Gigi

 


Bagi yang pernah membaca tulisan saya tentang Hanif dan serba serbi dokter gigi di sini, hal yang sama pun saya terapkan ke Karim, adiknya. Alhamdulillah lebih lancar prosesnya, meski tidak langsung mau treatment dalam sekali datang. Karim baru mau buka mulut di kunjungan kedua. Saat ini Karim sudah bisa dicabut gigi tanpa drama. Hal yang belum pernah terjadi ketika masa Hanif karena gigi Hanif selalu tanggal sendiri atau tanggal dengan paksaan alias dipegangin. Sekarang saya juga sudah bisa berkunjung ke dokter gigi bertiga dengan Karim dan Hanif. Awalnya saya hanya ingin Karim melihat kakaknya treatment dengan harapan bisa menguatkan hatinya. Namun jadi keterusan, lumayan hemat waktu sekali dayung dua pulau dapet.

In frame: Karim ketika treatment cabut gigi, Hanif main henpun di belakang dokternya jd tidak terlihat. Bagi yang kepo kliniknya, monggo search sendiri ya ada di foto nama kliniknya. Ini dokter yang sama dengan di klinik BPJS, namun saat itu saya sedang tidak punya waktu di pagi hari sehingga janjian dengan praktiknya di klinik swasta.

gemes...buah tangan abis cabut gigi

23 Nov 2025

Resensi: Di Depan Kabah Kutemukan Jawaban


Riza Almanfaluthi, 2025
Maghza Pustaka, 200 halaman

Buku ini adalah buku kedua Pak Riza yang saya review. Saya punya beberapa buku beliau tulis dan ini yang paling terakhir saya beli. Namun paling berkesan bagi saya. Mungkin karena saya -sebagaimana muslim lain- juga rindu ke Baitullah ya. Semoga Allah ijabah kesempatan untuk berhaji atau umroh.

Buku ini berisi kisah perjalanan haji dan umrah yang pernah penulis alami. Berhajinya sudah di tahun 2011 dengan istrinya dan ibadah umroh di tahun 2025 awal dengan keluarga (istri dan anak). Penyajian buku terbagi 5 bab tentang persiapan, berbagai ritual dalam haji dan umrah, kisah-kisah di kota Nabi, kisah terkait Kabah dan terakhir tentang pulang. Ceritanya dituturkan dalam fragmen slice of life, bercampur antara momen saat haji maupun umrah. Selain menyelipkan  rujukan ayat al quran dan hadits, penulis juga menuliskan berbagai tips dan hacks baik untuk persiapan dan saat ibadah di sana. Pun merekomendasikan beberapa buku yang layak dibaca untuk menambah ilmu sebelum ibadah. 

Kesan saya seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, sangat berkesan. Bahkan saya sampai menangis saat membaca di beberapa bagian. Meski bercampur antara experience di dua timeline berbeda, perpindahannya mulus dan tidak membuat bingung. Kadang penulis menceritakan pengalamannya sendiri atau keluarganya, pengalaman orang lain yang dikenal, pengalaman orang lain yang dibacanya atau kisah kaum teladan terdahulu. Terus terang saya kagum, penulis bisa mengolah berbagai kisah, fiqih singkat dan merangkainya menjadi cerita yang mengalir. Rujukannya banyak sampai 4 lembar panjangnya daftar pustaka buku ini. Rasanya seperti membaca kombinasi tulisan perjalanan berpadu tuntunan ringkas ibadah haji dan umrah hehe. Tapi tentu ini lebih mudah dibaca karena berupa tuturan kisah. Buku ini cocok dibaca untuk yang mau persiapan ibadah haji atau umrah, juga untuk yang ingin ikut merasakan pengalaman spiritual yang dialami penulis. 

Sebagai orang yang belum pernah ke Baitullah, tadinya saya sempat berpikir andai saja buku ini dilengkapi foto-foto tempat yang menjadi latar ceritanya pasti akan memberikan visual yang menambah rasa batin saat membacanya. Namun saya teringat bahwa di pengantarnya ditulis penulisan buku ini direncanakan setelah ibadah umroh jadi pasti di sana fokus ibadah. Sementara jika menggunakan foto orang lain, pasti akan ada persoalan hak cipta dan sebagainya. Aah...memang harus berimajinasi sendiri supaya makin kuat doanya untuk ke Baitullah^^

Resep Gyoza Juicy

Hanif sangat suka gyoza. Sebetulnya saya cukup sering membuatnya, namun menggunakan adonan yang sama dengan dimsum. Beda di kuli...