10 Feb 2026

Resensi: Satine dan Langit Mengambil

Ika Natassa, 2024 dan 2025
Gramedia Pustaka Utama

Sejujurnya saya terlalu malas untuk membuat postingan berbeda untuk dua novel karya Ika Natassa. Satine terbit di tahun 2024. Saya baru membacanya di tahun 2025 akhir setelah membelinya di awal tahun 2025. Sementara Langit Mengambil terbit di awal tahun 2026. Kali ini saya bahkan ikutan PO bukunya yang plus merchandise. Begitulah minat baca saya akhir-akhir ini, kadang giat, seringnya malas. Lebih memilih untuk tidur atau membaca webtoon yang lebih singkat. Ternyata saya tak ada bedanya ya dengan penggemar dracin hehe...lebih suka short escape.

Oke...kita mulai dari Satine. Berkisah tentang Satine, seorang bankir yang punya segalanya, kecuali jodoh. Dari sini bisa tertebak ya ke mana arah ceritanya. Satine bertemu dengan Ash melalui dating agency. Keduanya bersepakat untuk contract dating pada awalnya, namun berkembang menjadi lebih dalam karena Satine dan Ash adalah dua orang yang membawa luka pengasuhan. Satine yang selalu dituntut sempurna, Ash dengan trauma kekerasan domestik. 

Sementara itu Langit Mengambil bercerita tentang Tara, jurnalis investigasi, yang kehilangan segala setelah insiden penculikan yang dialaminya saat bertugas melakukan penyelidikan terhadap sindikat judi online. Insiden tersebut berdampak pada orang-orang di sekitarnya, termasuk Raka suaminya.

Dua novel ini depressing wkwk. Tapi Satine lebih mudah dibaca alias lebih ringan konfliknya dibandingkan Langit Mengambil. Ketika membaca Satine, saya merasa relate dalam hal rasa kesepian dalam keramaian yang dialami Satine. Wanita yang berkarir akan merasakan hal yang sama saat sebagian besar temannya sudah menikah sementara ia belum. Masalah komunikasi anak dengan ortu pun terasa familiar, urusan komunikasi memang tak semudah teori di perkuliahan. Membaca Satine ini masih terasa vibe Ika Natassa banget, background bankir, wanita karir yg chic ditambah pengetahuan baru tentang art -yang menjadi kesukaan tokoh Ash-.

Dalam Langit Mengambil, bisa dibilang sangat berbeda. Di sini tema coping with traumatic event sangat mendominasi. Sepanjang novel banyak monolog yang dilakukan Tara dan Raka. Saya sampai merasa stress sendiri, menyimak bagaimana Tara menolak semua orang, berpura-pura baik-baik saja sampai akhirnya mulai membuka diri. Bahkan saya pun bisa memaklumi ketika Raka seperti menemukan nyaman ketika bertemu dengan 'old fling' karena kesehariannya sudah lelah mengikuti sandiwara Tara. Ada porsi misteri di novel ini terkait investigasi Tara, tapi terasa nanggung krn tidak mendalam dan sudah berat di porsi tragedinya. At the end, saya jadi belajar dari peristiwa Tara bahwa ketika menghadapi pihak yang coping with trauma, harus banyak sabaar, menunggu dan berserah pada Allah, sang Maha Pembolak balik Hati. Udah gitu aja...^^

6 Des 2025

Karim dan Dokter Gigi

 


Bagi yang pernah membaca tulisan saya tentang Hanif dan serba serbi dokter gigi di sini, hal yang sama pun saya terapkan ke Karim, adiknya. Alhamdulillah lebih lancar prosesnya, meski tidak langsung mau treatment dalam sekali datang. Karim baru mau buka mulut di kunjungan kedua. Saat ini Karim sudah bisa dicabut gigi tanpa drama. Hal yang belum pernah terjadi ketika masa Hanif karena gigi Hanif selalu tanggal sendiri atau tanggal dengan paksaan alias dipegangin. Sekarang saya juga sudah bisa berkunjung ke dokter gigi bertiga dengan Karim dan Hanif. Awalnya saya hanya ingin Karim melihat kakaknya treatment dengan harapan bisa menguatkan hatinya. Namun jadi keterusan, lumayan hemat waktu sekali dayung dua pulau dapet.

In frame: Karim ketika treatment cabut gigi, Hanif main henpun di belakang dokternya jd tidak terlihat. Bagi yang kepo kliniknya, monggo search sendiri ya ada di foto nama kliniknya. Ini dokter yang sama dengan di klinik BPJS, namun saat itu saya sedang tidak punya waktu di pagi hari sehingga janjian dengan praktiknya di klinik swasta.

gemes...buah tangan abis cabut gigi

23 Nov 2025

Resensi: Di Depan Kabah Kutemukan Jawaban


Riza Almanfaluthi, 2025
Maghza Pustaka, 200 halaman

Buku ini adalah buku kedua Pak Riza yang saya review. Saya punya beberapa buku beliau tulis dan ini yang paling terakhir saya beli. Namun paling berkesan bagi saya. Mungkin karena saya -sebagaimana muslim lain- juga rindu ke Baitullah ya. Semoga Allah ijabah kesempatan untuk berhaji atau umroh.

Buku ini berisi kisah perjalanan haji dan umrah yang pernah penulis alami. Berhajinya sudah di tahun 2011 dengan istrinya dan ibadah umroh di tahun 2025 awal dengan keluarga (istri dan anak). Penyajian buku terbagi 5 bab tentang persiapan, berbagai ritual dalam haji dan umrah, kisah-kisah di kota Nabi, kisah terkait Kabah dan terakhir tentang pulang. Ceritanya dituturkan dalam fragmen slice of life, bercampur antara momen saat haji maupun umrah. Selain menyelipkan  rujukan ayat al quran dan hadits, penulis juga menuliskan berbagai tips dan hacks baik untuk persiapan dan saat ibadah di sana. Pun merekomendasikan beberapa buku yang layak dibaca untuk menambah ilmu sebelum ibadah. 

Kesan saya seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, sangat berkesan. Bahkan saya sampai menangis saat membaca di beberapa bagian. Meski bercampur antara experience di dua timeline berbeda, perpindahannya mulus dan tidak membuat bingung. Kadang penulis menceritakan pengalamannya sendiri atau keluarganya, pengalaman orang lain yang dikenal, pengalaman orang lain yang dibacanya atau kisah kaum teladan terdahulu. Terus terang saya kagum, penulis bisa mengolah berbagai kisah, fiqih singkat dan merangkainya menjadi cerita yang mengalir. Rujukannya banyak sampai 4 lembar panjangnya daftar pustaka buku ini. Rasanya seperti membaca kombinasi tulisan perjalanan berpadu tuntunan ringkas ibadah haji dan umrah hehe. Tapi tentu ini lebih mudah dibaca karena berupa tuturan kisah. Buku ini cocok dibaca untuk yang mau persiapan ibadah haji atau umrah, juga untuk yang ingin ikut merasakan pengalaman spiritual yang dialami penulis. 

Sebagai orang yang belum pernah ke Baitullah, tadinya saya sempat berpikir andai saja buku ini dilengkapi foto-foto tempat yang menjadi latar ceritanya pasti akan memberikan visual yang menambah rasa batin saat membacanya. Namun saya teringat bahwa di pengantarnya ditulis penulisan buku ini direncanakan setelah ibadah umroh jadi pasti di sana fokus ibadah. Sementara jika menggunakan foto orang lain, pasti akan ada persoalan hak cipta dan sebagainya. Aah...memang harus berimajinasi sendiri supaya makin kuat doanya untuk ke Baitullah^^

Resensi: Log In: Habib dan Onad

Husein Ja'far Al Hadar, 2025
Penerbit Hiatus, 200 halaman

Pertama tahu buku ini dari iklan di email. Konon materi buku ini diambil dari podcast Habib Ja'far dan Onad. Jujur saya bukan penggemar podcast *orang visual saya. Pun tak tahu siapa Onad tapi saya tahu Habib Ja'far dan kiprah dakwahnya yg 'anak muda' banget. Itulah yang kemudian mendorong saya membeli buku ini kala peluncurannya di mizanstore.com.

Buku ini dikemas dalam 20 bab (termasuk epilog) dengan judul-judul yang cukup provokatif. Maksudnya kerap kita dengar ditanyakan oleh orang-orang yang belum atau baru kenal Islam. Contohnya 'kalau Tuhan Maha Esa, kok, agama banyak?' 'katanya Islam damai, kok, boleh perang?' 'kok Islam engga asyik, dikit-dikit haram'. Menarik yaa, bahkan saya sendiri jadi mikir jawab apa ya kalau ada yang nanya begitu. Penjelasannya ditutur dengan bahasa yang ringan dan kerap menggunakan analogi sederhana sehingga mudah dipahami. Meski demikian Habib tetap merujuk pada ayat Al Quran dan hadits. Di beberapa kalimat sengaja dicetak dengan warna biru tebal untuk membantu pembacanya menangkap pokok gagasan yang penting. 

Ekspektasi saya ketika membeli buku ini adalah menjadi tambahan amunisi ketika berhadapan dengan pertanyaan anak, baik anak sendiri maupun anak mahasiswa. Namun ternyata setelah membacanya saya jadi semakin 'bangga' jadi muslim dan semakin yakin bahwa Allah Maha Penyayang. Kenapa Allah menciptakan neraka, merahasiakan waktu kiamat, bahkan memberikan manusia akal dan kehendak meski Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tentang Islam yang sesuai fitrah manusia, berpuasa tetapi boleh berbuka, beribadah tetapi juga boleh beristri, perceraian yang meski Allah benci tapi diperbolehkan, ketakwaan yang sesuai dengan kemampuan, juga bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Islam adalah toleransi, tanpa paksaan dan diibaratkan seperti pohon besar yang menaungi semuanya. Ya...meski judulnya Log In, buku ini tidak lantas mengajak orang lain untuk masuk Islam. Buku ini lebih ke memperkenalkan Islam dengan bahasa yang mengalir dan logika yang mudah diterima. Sekali lagi bukan ngajak log in ya (kayaknya itu diambil dari nama podcast-nya kalau tidak salah). Di dalamnya tidak ada sama sekali pernyataan yang menghakimi agama lain. Mungkin karena latar pendidikan Habib Ja'far adalah filsafat Islam, makanya berbagai analogi yang digunakan di buku ini 'kena' banget dan membuat saya berpikir 'iya juga ya'. At the end, buku ini cocok bagi kamu yang ingin tahu tentang Islam atau mungkin ingin me-refresh keimanan sebagai seorang muslim. Kalau nanti Log In jilid 2, saya pasti akan beli sih.

21 Nov 2025

Antara Diary, Blog dan Instagram

Saya suka menulis sejak SD. Meski tetap tak suka ketika harus mengerjakan mengarang bebas yang tak pernah absen dari ujian Bahasa Indonesia kala itu. Bagi saya menulis itu harusnya tanpa beban dan tanpa paksaan. Maka saat itu saya mulai menulis diary. Hanya menceritakan keseharian dan apa yang saya rasakan. Tidak pula untuk konsumsi orang lain.

Ketika dewasa, saya menghindari menulis diary. Memilih untuk curhat langsung saja pada Allah dan beberapa kawan dekat. Jujur agak khawatir ketika tumpahan emosi sesaat yang berjejak tersebut akan menimbulkan konflik di kemudian hari. Tapi saya tetap ingin menulis. Saat itu baru mulai trend blogging dan saya pun ikut membuatnya. Topiknya seputar keseharian saat itu yakni mengurus anak kala mengambil cuti panjang sekitar 2 tahun. Jadilah isi blog ini review buku dan film (karena saya suka baca novel dan nonton tapi bukan yang hobi banget), resep (dulu sempat dipaksa berkutat di dapur karena hanif harus diet CFGF) dan cerita perjalanan (biar ada cerita untuk dikenang). Namun lepas 2 tahun dan saya mulai aktif bekerja kembali membuat menulis blog jadi on-off.

Ketika sekarang muncul Instagram, saya masih memilih blog. Entah mungkin karena Instagram terlalu riuh dan saya merasa agak kurang nyaman berbagi di sana. Pun tulisannya tidak bisa terlalu panjang. Mungkin juga saya yang tidak terlalu pede tulisan saya dibaca orang lain tapi tetap ingin menulis di ruang publik. Gimana dong? I know i'm weird. Di sini saya merasa bisa menuliskan tanpa beban, tentunya tentang topik yang aman ya mengingat bisa diakses oleh siapa saja. Berharap bisa sedikit memberi manfaat, tapi tidak mau terlalu terlibat dalam polemik perbedaan pendapat. I just wanna write...just as simple as that

Kalau tulisan ilmiah...yaa saya masih harus belajar banyak terkait hal itu. Apalagi profesi saya saat ini mengharuskan output tulisan ilmiah setiap tahunnya. Banyak pakem-pakem dan aturan yang sampai sekarang saya masih terus belajar untuk mempraktikkannya. Belum bisa menikmati tidak lantas membuat alasan untuk tidak melakukan. Kan digaji untuk itu salah satunya hehe... Kalau mau menulis bebas, ya di blog aja. Semoga dimampukan dan diberikan semangat dalam menulis.

Baik menulis artikel ilmiah maupun postingan ala-ala di blog, keduanya memberikan manfaat. Kepuasan karena sudah menghasilkan sesuatu pasti. Tapi yang lebih penting, menulis kerap membantu menata pikiran sebelum menuangkannya menjadi aksara bermakna. Tak jarang saya mereka ulang suatu kejadian di kepala saya dan mengingat apa yang saya rasakan saat itu. Di situ terjadi proses validasi perasaan yang ternyata penting dalam proses mencari ketenangan hati. Itu yang saya rasakan ya, bisa jadi setiap orang berbeda. Kebiasaan menulis katanya juga membantu untuk bisa berbicara di depan publik secara lebih runut. Nah apakah benar begitu? Mungkin ada benar karena saat ini saya merasa lebih lancar berbicara di depan umum. Namun bisa juga karena profesi saya sekarang menuntut saya semakin sering melakukannya. Meski ketika harus berbicara di luar rutinitas (selain di depan mahasiswa), saya sih tetap grogi hehe... Semoga Allah memberikan kekuatan untuk bisa terus menulis. Aamiin...

22 Jul 2025

Jumpa Baca

Kali pertama mendengar kegiatan Silent Reading di whatsapp grup salah satu komunitas kantor, yang terlintas di kepala adalah silent reader di grup whatsapp. Beberapa saat kemudian baru sadar bahwa itu kegiatan membaca bersama yang dilakukan secara online. Mungkin karena anggotanya kebanyakan emak-emak kantoran yang wiken pasti banyak acara, makanya diadakan online di jam istirahat seminggu sekali. Memaksa diri untuk membiasakan diri membaca, tujuan yang baik. Walau diri pribadi merasa ngapain ya nyalain zoom terus baca buku hehe... No offense ya, saya sudah mengakui tujuannya baik.
Beberapa waktu yang lalu perpustakaan kampus juga menggelar uji coba event yang sama. Namun secara offline di gazebo depan perpus. Nama kegiatannya Jumpa Baca akronim dari Jumat Pagi Membaca. Nama yang catchy. Kegiatan tersebut sepertinya mengadopsi kegiatan baca bareng oleh komunitas Silent Book Club, terlihat dari foto yang terpasang di flyer kegiatannya. Kebetulan pagi itu saya tidak ada kegiatan, jadilah ikut bergabung. Saya bawa salah satu buku yang baru saya beli dari teman kantor. Tentang memoar perjalanan haji dan umrah yang ditulis oleh sang suami dari rekan kantor tersebut (pan kapan akan direviu deh).
Total waktu bacanya hanya 30 menit untuk sesi ujicoba minggu ini. Berikutnya akan lebih lama ujar Kanit Perpus. Peserta diberikan alas duduk dari koran lama. Perpus juga menyediakan buku untuk dipinjam bagi yang tidak bawa buku sendiri. Sebagian besar pesertanya adalah mahasiswa, pustakawan dan dosennya cuma saya. Kayaknya cuma saya yang ga ada rapat Jumat pagi itu haha. 
Kesan setelah mengikuti kegiatan ini i feel refreshed. Sudah lama sekali tidak merasakan duduk tenang membaca, tanpa ada keriuhan, tanpa ada tekanan untuk harus paham, harus selesai dan dikumpulkan hehe. Rasanya seperti nostalgia membaca di masa sekolah. Ketika saya bisa tenggelam dalam cerita yang dibaca, kadang terdiam meresapi rasa bacaan sembari memandang keluar jendela. Aiih romantis ya haha. Dulu spot baca favorit saya di rumah adalah ujung sofa L yang dekat dengan jendela ke arah teras rumah. Yup, saya merasakan kembali moment of solitude itu di Jumpa Baca. Selama ini saya sih masih membaca walau kadang tak sampai satu bab di hari kerja. Saya kerap mengambil waktu baca sambil mengawasi anak main dan belajar atau sebelum saya tidur. Tapi tak jarang juga terlewat tak membaca karena terlalu lelah. Pun pernah sampai lupa alur cerita yang sudah dibaca atau sampai di mana kemarin (pembatas buku kadang dimainin bocah). Boro-boro mau immersed into the story ya. Tapi saya maklum dan bersyukur atas keriuhan anak-anak yang ada masanya. Makanya seneng banget ikut Jumpa Baca. Beda dengan Silent Reading online yang tetap di keriuhan ruang kantor, ternyata suasana outdoor membawa ketenangan. Walau agak dinyamukin sih haha...next semoga lokasinya lebih kondusif atau disediakan autan. Terima kasih panitia Jumpa Baca, definitely will join again selama tidak ada agenda bersamaan. Setiap orang kurasa butuh saat sendiri untuk menyadari dan merenungi apapun. Entah buku yang dibaca atau kejadian yang dilalui. Makanya ada anjuran sholat malam, the most solitude moment. Hayoo...yang susah bangun pagi hehe... #selfreminder

21 Jul 2025

Mendadak Musikal Keluarga Cemara


Minggu lalu adalah minggu yang hectic. Beberapa tenggat jatuh di tanggal yang sama membuat saya sempat bergadang. Kebiasaan saya ketika kerja (selain menulis) supaya tidak mengantuk sembari mendengar playlist secara acak di youtube. Tiba-tiba sebuah lagu mampir ke telinga saya dengan suara khas Quinn Salman. Eh lagu apa nih koq enak batin saya. Ternyata lagu yang berjudul Indah Apa Adanya itu salah satu lagu dari musikal Keluarga Cemara. Saya penasaran lalu mengulik lebih jauh lagu lagu lainnya. Waah bagus bagus... Alhasil saya impulsif check out tiket musikalnya pas di hari terakhir show. Rupaya musikal tersebut sudah digelar selama sebulan liburan sekolah. Kali ini saya izin ke suami untuk tidak ajak anak anak. Selain karena tiketnya tinggal sedikit, durasi jadi pertimbangan mengingat Hanif dan Karim seringkali minta keluar ketika nonton bioskop. Sekalian mau jeda sejenak dari hiruk pikuk penilaian uts. Berhubung ini kali pertama menonton musikal jadi saya pilih tiket yang paling murah. Nama seatnya obstructed view, yang anehnya tidak ada di denah seat. Kursi tersisa hanya 1 paling ujung kiri. Harganya 150 ribu, masih dapat diskon dari poin jadi 135 ribu. Haha...emak emak modis pokoknya.

salah satu pintu masuk di sebelah kiri pintu mall

Pada hari H pertunjukan saya berangkat dengan KRL lanjut ojek online ke lokasi yakni Ciputra Artpreneur. Awalnya saya pikir lokasinya di dekat Mal Ciputra Grogol. Eh ternyata waktu input tujuan di Gojek baru sadar kalau tempatnya di Ciputra World Kuningan. Sesampainya di sana, ternyata antrian lift menuju lantai 11F penuh. Jadinya saya pakai eskalator. Lumayan juga, saran maksimal datang 30 menit sebelum show untuk antisipasi lift penuh. Kalau ditambah harus cari parkir mobil, mesti spare waktu lebih awal lagi. 

view dari seat obstructed (ada TV di sebelah kiri)

Pas masuk ke area duduk, barulah saya ngeh ternyata obstructed itu terhalang tiang panggung jadi tidak bisa full dapat view stagenya. Sisi positifnya sih kursinya depan banget jadi bisa lihat pemainnya secara close up. Alhamdulillahnya lagi saya dapat kursi di sisi kiri panggung yang ternyata banyak adegan dalam rumah yang dilakukan di sebelah kanan panggung. Tapi di sebelah panggung juga terpasang televisi ukuran 42 inch sehingga tetap bisa menonton bagian panggung kiri yang terhalang.  Not bad lah untuk pengalaman pertama.


Cerita yang diangkat di musikal ini adalah dari awal perkenalan abah dan emak, menikah, punya anak Euis dan Ara, bangkrut karena tertipu, pindah ke desa, adaptasi sampai penerimaan yang ditutup dengan kelahiran si bungsu Agil. Sejujurnya saya bukan penggemar serial Keluarga Cemara dulu. Menurut saya ceritanya agak sedih, meski mereka bahagia ya dalam kesederhanaan. Tapi agak tidak relate bagi saya yang anak komplek saat itu *hilih gaya ya. Lalu yang bikin saya pengen nonton musikal ini ya lagu-lagunya. Begitu menyaksikannya secara langsung...wooow...bagus bangeeet. Lagu-lagunya engga ada yang failed, dimainkan secara live orkestra, dipadu dengan koreo yang apik dan kostum yang meriah. Setting panggungnya dan lighting juga oke banget. Padahal panggungnya tidak terlalu luas tapi diatur secara efisien untuk dapat digunakan berbagai adegan hanya dengan sedikit geser-geser. Jadi dejavu ingat komik favorit saya Topeng Kaca, oh gini ternyata panggung teater. Bisa multifungsi, kadang jadi kamar, berikutnya bisa jadi panggung aksi demo.

Kalau dari sisi konten musikalnya, ternyata ga sesedih serialnya jaman dahulu. Malah ini terasa meriah ada unsur komedinya, romannya dan juga haru. Penciptanya juga cerdik memasukkan unsur kekinian seperti beberapa lagu viral di tiktok, velocity dan ancaman dihukum ke barak ala kang dedy mulyadi wkwk. Bahkan ada satu kejadian ada penonton anak yang nangis lumayan kencang di tengah dialog, dengan santainya malah dimention dan jadi jokes oleh aktornya. Meski bapaknya lantas buru buru bawa anaknya keluar. Akting aktor-aktrisnya jempolan, saya kebagian nonton yang castnya ga ada Quinn Salman. Tapi ada Abby Galabby yang jebolan IMB jadi emak, lalu ada Mang Saswi dan Sita RSD jadi penduduk desanya. Kemudian di akhir show dapat surprise show dari Rapot yang membawakan lagu Opak Party. Awalnya ga tahu ini artis apa dari mana haha. Saya sampe googling oh ternyata podcaster. Dalam rangka strategi marketing di tahun ini, ada 7 lagu original musikal yang dinyanyikan oleh beberapa artis. Tahun sebelumnya lagu musikal hanya direkam oleh pemeran musikalnya (original cast recording). Kemudian para artis tersebut diundang sebagai kejutan atau gimmick di akhir beberapa show secara acak. Untuk sesi siang yang saya tonton ya Rapot itu, lalu yang sesi malam kabarnya ada Vidi Aldiano. Total durasi musikal sekitar 2,5 jam plus istirahat 20 menit di tengah. So far puas untuk pengalaman pertama menonton musikal. Jadi pengen nonton lagi waktu tahu ada Musikal Petualangan Sherina di TIM minggu depannya. Eh tapi tiketnya sudah sold out haha... Alhamdulillah dompet amaan. Lagipula kalaupun masih ada, saya juga akan berpikir ulang karena belum bisa bawa anak-anak. Bagi yang mau mengajak anak, harus dipastikan anak bisa tenang selama pertunjukan. Karena kalau ribut atau menangis, memang bisa mengganggu konsentrasi pemainnya. Sekian, akhirnya jadi dorongan untuk menulis blog lagi setelah setengah tahun haha.

Resensi: Satine dan Langit Mengambil

Ika Natassa, 2024 dan 2025 Gramedia Pustaka Utama Sejujurnya saya terlalu malas untuk membuat postingan berbeda untuk dua novel ...