Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan

18 Okt 2026

Review: The Sheep Detective (2026)

Suatu hari saya mengambil cuti untuk mengurus beberapa keperluan yang ternyata selesai lebih cepat dari perkiraan saya, mumpung masih ada waktu saya pun pergi nonton film. Dengan siapa? Sendirian. Koq bisa sih? Hehe...mungkin kapan kapan saya akan tuliskan tentang hal itu. Pilihan film saya jatuh ke The Sheep Detective, hasil dari googling sesaat sebelum nonton. Awalnya ingin Devil Wears Prada 2 tapi saya pikir nanti juga bisa streaming di Disney+ (saya ada akun bawaan paket Indihome).

Filmnya bercerita tentang George Hardy, seorang gembala yang eksentrik (diperankan oleh aktor yang jadi Wolferine -lupa namanya). Hardy sangat dekat dengan domba-dombanya bahkan kerap membacakan mereka buku-buku termasuk novel misteri. Dan ternyata setelahnya para domba itu saling diskusi menebak gerangan pelaku sebenarnya. Domba paling pintar di antaranya bernama Lily. Selain Lily, ada juga Mopple domba yang tak pernah lupa -di film ini para domba memiliki kemampuan selective amnesia, kecuali Mopple-, Sebastian si domba jantan yang penyendiri, Winter Lamb -anak domba yang lahir saat musim dingin sementara domba umumnya dibiakkan untuk lahir di musim semi-, domba kembar yang gemar menyeruduk (ga tahu namanya), dan beberapa karakter domba lainnya yang saya lupa hehe...

Di suatu malam berhujan deras, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkan George ditemukan tergeletak tak bernyawa di luar caravannya pada pagi harinya. Lily dan domba lain sangat terguncang lalu memutuskan untuk melupakan kejadian itu. Namun Lily urung melakukannya karena diingatkan oleh Mopple betapa Hardy sangat sayang kepada mereka semua. Lily, Mopple dan Sebastian akhirnya memutuskan untuk menyelidiki kematian Hardy dan berusaha memberitahukannya ke pihak yang berwenang.

Kesan pertama film ini mengingatkan saya pada Shaun The Sheep. Di sini para domba bisa berbicara satu sama lain, namun terdangar mengembik bagi manusia. Menonton film ini terasa campur aduk. Sedih, kocak dan tegang bercampur jadi satu. Sedih melihat para domba mengatasi kehilangan gembala yang disayanginya. Kocak menikmati tingkah polah domba-domba dengan karakternya masing-masing. Kemudian ada rasa tegang dari misteri kematian Hardy yang awalnya terkesan semua orang bisa jadi tersangkanya. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati The Sheep Detective. Kalau ada serialnya, saya mau banget menontonnya. CSI versi domba lah hehe...

ini salah satu scene terlucu, saat Lily dan Mopple untuk pertama kalinya keluar dari farm 
dan hendak menyeberang jalan raya *awang2en

pic: credit to google

25 Mei 2026

Review: Living Room No Matsunaga-san

Lama ngga nulis blog padahal banyak ide di kepala. Ya begitu kalau kerjaan sedang banyak jadi malas mau menulis hehe...


Kali ini saya akan review drama jepang sekaligus versi manga-nya. Tokoh utamanya bernama Miko. Ia terpaksa tinggal di rumah kos karena orang tuanya pindah untuk merawat neneknya di kampung sementara ia tinggal setahun lagi di SMA. Di rumah kos milik pamannya itu, Miko tinggal bersama 5 penghuni lain. Ada Matsunaga-san (Jun) desainer grafis, Kentaro bartender, Ryo mahasiswa, Akane chef, dan Asako pekerja kantoran. Kisahnya berkutat tentang Miko yang belajar hidup mandiri dan interaksinya dengan teman-teman kosnya. Tentu saja diwarnai kisah romansa dari masing-masing tokohnya.

Jujur tertarik nonton karena suka manganya. Sayang di Indonesia hanya terbit sampai nomor 4 kalau tidak salah, selebihnya saya baca ilegal (jangan ditiru ya). Manganya sampai volume 11. Artnya bagus banget sampai akhirnya membuat saya memutuskan untuk baca walau agak pesimis melihat sinopsisnya. Yang di pikiran ada kos campuran anak SMA dan orang dewasa muda...bawaannya langsung suudzon haha... Tapi ternyata tidak demikian, makanya dont judge book by its synopsis deh. Vibe sepanjang cerita semua penghuni kos seolah bertindak sebagai kakak bagi Miko -ngemong gitu- walau nantinya ada yang falling in love tapi tetap menjaga. Dengan tokoh lainnya penulis memang membebaskan hubungan sebelum menikah, namun pada Miko penulisnya mempertahankan sosoknya yang masih pure. Mungkin karena Miko masih sekolah dan Jun bertindak sebagai walinya (menggantikan paman Miko yang keluar negeri), tapi yang jelas kesempatan itu ada di rumah kos campuran bahkan kamar yang bersebelahan. Makanya saya merasa interaksi Miko dan Jun sweet banget. Bahkan di akhir Jun sampai pindah kos setelah menyatakan perasaannya pada Miko (ups spoiler). Versi manganya lebih slow burning romance nya, sementara di versi drama lebih cepat pace nya namun saya tetap dapat feel cerita yang sama. Akting pemainnya juga oke banget, meski di awal saya sempat merasa karakteristik fisik aktornya kurang pas dengan gambaran fisik versi manga. Pemeran Miko terlalu tinggi dan Jun kurang tinggi namun termaafkan dengan chemistry yang oke di antara keduanya. Drama ini rekomen untuk kamu yang suka drama minim skinship tapi tetap sweet.

aww


all cast: miko, ryo, akane, kenji, asako, jun

29 Agu 2024

Film: Heartbreak Motel (2024)



Yeay...akhirnya nonton juga filmnya di minggu terakhir tayang di bioskop dan...saya lumayan surprise.
Film dibuka dengan adegan Ava bekerja sebagai housekeeping di sebuah hotel, kemudian berselang-seling dengan adegan Ava yang sedang akting, Ava di luar syuting, Ava remaja dan Ava kecil di tengah pertengkaran orang tuanya. Di kehidupannya sebagai housekeeper hotel, ia bertemu Raga -tamu hotel yang kerja di bidang finance-, sementara di kehidupan artis dia bertemu Reza -aktor lawan main yang kemudian jadi kekasihnya-. 

Saya surprise dengan alurnya, berbeda dengan novel meski ada beberapa hal yang sama. Di awal saya sempat menerka Ava punya kehidupan ganda, yang mana tak ada di novelnya. Kemudian voila...di tengah film barulah saya paham arah alurnya. Secara umum, saya lumayan menikmati film ini. Alurnya unik (sudah saya singgung sebelumnya), aktingnya jempolan (terutama Laura Basuki, bisa ya akting tanpa kata-kata tapi feelnya tetap sampai ke penonton) dan visualisasinya juga bagus. Namun saya agak kesulitan membedakan Ava dan Reza di kehidupan biasa dengan Ava dan Reza yang sedang syuting jadi pasangan suami istri *mbatin loh ini udh nikah atau belum sih.

Lalu karena saya baca novelnya, saya merasa ada bagian esensial yang hilang. Versi novelnya Ava yang mengalami childhood trauma sulit mencintai dirinya sendiri. Oleh karenanya ia suka akting, menemukan kesenangan menjadi orang lain sehingga untuk kembali menjadi dirinya, ia perlu menyepi di hotel yang ia sebut Heartbreak Motel. Di versi film, hotel lebih tampak sebagai pelarian Ava ketika terkena kasus dengan Reza, terlebih ia sampai menyamar sebagai housekeeper. Di novel, Ava kekeuh tidak mau mengungkap identitas aslinya dari Raga karena merasa Raga tidak akan mencintai 'Ava' yang sebenarnya. Di filmnya, sosok Ava yang sulit menerima dirinya sendiri ini seperti kurang tegas ditampilkan, lebih kepada panic attack yang kerap muncul dipicu hal-hal yang mirip trauma masa kecilnya. Lalu saya suka banget dengan scene di novel ketika Raga nembak "aku mau jadi orang yang menemani kamu menerima dirimu sendiri" *auto meleyot. Tapi ini ga ada di film hiks. Yaah, adaptasi novel dengan batasan durasi film memang tak mudah sehingga ceritanya dibuat sedemikian rupa. Mudahan nanti dibuat serial yang mirip novelnya *maunya saya. Oh iya satu lagi yang beda, di versi film Reza Malik (yang diperankan Reza Rahardian) berkali-kali lipat lebih tampol-able alias nyebelin daripada versi novelnya *hadeeh.

13 Mei 2024

Resensi: Critical Eleven

Ika Natassa
GPU, 2015
344 halaman

Balik lagi ke karya Ika Natassa. Berhubung semua novelnya baru-baru ini saya baca, masih fresh di ingatan. Ini buku ketiga yang saya baca setelah Heartbreak Motel dan TAOL. Kemarin akhirnya nonton juga filmnya streaming. Jadi postingan hari ini akan sekalian membahas kesan dari filmnya.
Novel ini bercerita tentang Ale dan Anya yang menjalani Long Distance Marriage. Keduanya bertemu pertama kali bertemu di pesawat, dari situ lah asal judul Critical Eleven. Tiga menit kesan pertama, dan delapan menit kesan sebelum berpisah. Kemudian karena sesuatu hal, hubungan keduanya kini berada di ujung tanduk.

Kesan novel:
Seru novel ini. Padahal temanya berat tentang konflik rumah tangga. Alurnya dibuat maju mundur antara saat harmonis (masa lampau) dan saat perang dingin (sekarang). Sudut pandangnya bergantian antara Anya dan Ale. Ini membuat perasaan saya jadi jungkir balik (bergantian antara senyam senyum sampai hampir mewek) di setiap bagiannya. Selain itu, pembaca juga terus dibuat penasaran apa sih yang sebenarnya terjadi. Endingnya pun saya rasa pas, tidak over. Rasanya seperti melihat semburat cahaya matahari setelah melewati badai lautan. Haha...agak lebay ya saya. Tapi itulah yang saya rasakan dari cerita ini.

Kesan film: 
Hhm bagus tapi feelnya berbeda. Acting dan chemistry pemainnya oke, pemainnya all-star. Ada beberapa penyesuaian cerita, antara lain adanya part tinggal di New York dan alur film nya maju sedari awal. Tapi yang paling beda adalah kesan yang saya dapat dari tokoh Ale. Di film, saya merasa Ale egois dan menyalahkan Anya berlarut-larut. Sementara versi novelnya, Ale menyesali kesalahannya dan berusaha made up dengan tetap di sisi Anya walau terus ditolak. Mungkin juga durasi filmnya terlalu singkat untuk menggambarkan transisi sikap Ale. Kemudian ending filmnya happy sampai tak menyisakan ruang untuk berimajinasi haha, sementara novelnya open ending. Saya sih lebih suka versi novel meski saya tetap nangis saat nonton filmnya. Oiya, di film ini banyak adegan mesranya *menghela nafas haha...


#day13

8 Mei 2024

Film: Irish Wish (2024)



Di saat semua orang nontonnya Queen of Tears di Netflix, saya tetap nonton film romcom dan film ini yang main Lindsay Lohan! Rasanya sudah lama sekali sejak nonton film Lindsay Herbie Fully Loaded.

Film ini bercerita tentang Maddy, seorang editor dari karya penulis novel ternama Paul Kennedy. Namun kenyataan sebenarnya ia adalah ghost writer dari Paul yang dicintainya secara diam-diam. Tak disangka dalam peluncuran novel terbaru Paul (yang ditulis oleh Maddie), Paul malah jatuh hati pada Emma, salah seorang sahabat Maddie. Tiga bulan kemudian, Maddie dan sahabatnya terbang ke Irlandia untuk menghadiri pernikahan Paul dan Emma. Ia sempat kehilangan bagasi dan akhirnya naik bus menyusul sahabatnya. Di bus tersebut, Maddie berjumpa seorang pria Inggris bernama Eddie, yang merupakan fotografer. Keduanya sempat berdebat kecil tentang buku Paul. Ketika berjalan-jalan di sekitar kediaman Paul, Maddie menemukan bangku aneh dan mengucapkan perasaan terpendamnya untuk bisa menjadi pengantin Paul. Lalu tiba-tiba angis berhembus dan seorang wanita aneh muncul berkata bahwa keinginannya terkabul. Maddie pun terbangun dengan terkejut mendapati dirinya lah yang akan menikahi Paul. Dalam persiapan pernikahannya, ternyata fotografer pernikahannya tidak sepaham dengan ibunda Paul sehingga Eddie yang sebenarnya fotografer alam menggantikannya. Berikutnya adalah perjalanan Maddie sampai menyadari bahwa apa yang diinginkannya tidak selalu baik baginya. 

Ending film romcom mudah ditebak memang tapi justru itu intinya hiburan bagi saya haha.... It feels refreshing menonton kembali Lindsay Lohan, terlihat bertambah dewasa namun tetap chic dan cantik. Ga terlalu banyak komentar untuk plotnya, pasti happy ending. Acting para pemainnya lumayan, karakter Paul sengaja dibuat agak menyebalkan dari awal sehingga penonton pun akan langsung menerka dengan siapa tokoh utamanya berlabuh. Alasan utama nonton ini mostly memang nostalgia dengan Lindsay Lohan. I'm quite happy with this movie.


#day9

Antara Diary, Blog dan Instagram

Saya suka menulis sejak SD. Meski tetap tak suka ketika harus mengerjakan mengarang bebas yang tak pernah absen dari ujian Bahasa Indonesia ...