4 Mei 2024

Resensi: Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini

Riza Almanfaluthi
Maghza Pustaka, 2020
187 halaman

Buku ini ditulis oleh suami dari salah satu rekan kantor. Beliau juga merupakan kakak tingkat satu almamater dengan saya. Di sela kesibukannya sebagai pejabat di salah satu instansi pemerintah, ternyata masih bisa meluangkan waktu untuk menulis. Salut...semoga 30 hari menulis yang saya lakukan ini juga bisa menjadi langkah awal seperti beliau.

Buku ini merupakan kumpulan fragmen-fragmen pendek yang dialami oleh penulisnya maupun orang-orang di sekitarnya. Tentu saja penulisnya menyertakan sederet informasi tambahan -yang berasal dari riset maupun buku yang pernah dibacanya- beserta hikmah yang bisa dipetik dari setiap kisah. Penyajiannya terbagi dalam tiga tema yakni spirit, kulasentana dan nuraga. Ada beberapa kisah yang saya suka di buku ini:
1. Karena Gengsi dan Kehormatan -seringkali ortu memaksakan anaknya untuk masuk ke sekolah favorit padahal menjadi ikan besar di kolam kecil juga bisa menjadi pilihan.
2. KRL di Jalur Tiga -sesuatu yang ditakdirkan lepas dari tangan, maka memang itu tak baik bagi kita dan niscaya Allah sudah mempersiapkan penggantinya.
3. Apalagi Kebaikan Suamimu? -tulisan ini mengajak pembacanya mendaftar semua kebaikan para suami, tentu untuk diingat tatkala kita sedang sebal dengannya hehe...
4. Misteri Roseto -keajaiban penduduk Roseto yang berumur panjang karena berkah silaturahim dan suka berbagi.

Membaca buku ini bagi saya seperti menyeruput teh di sore yang sedang hujan. Meresapi hikmah di setiap ceritanya memberikan efek heartwarming. Rasanya agak sedikit aneh saja ketika mendapati ada nama-nama familiar di beberapa kisah haha...kan istrinya temen kantor yang tentu sering cerita tentang keluarganya. Entahlah mungkin saya saja yang tidak terbiasa menuliskan hal tentang diri saya dan keluarga. Ini sekaligus menjawab alasan saya suka menuliskan review buku dan film di blog. Mungkin nanti pelan-pelan akan belajar. Buku ini sepertinya diterbitkan secara indie ya, jadi bagi yang ingin membeli bisa langsung ke ig penulisnya. Ohiya, buku ini sukses membuat saya mulai membaca buku karya Malcolm Gladwell (yang sering bangeet dikutip dan di-mention di buku ini).

#day4

2 Mei 2024

Film: Sleepless In Seattle



Gara gara habis nonton TAOL, saya jadi kangen dengan film romcom favorit saya sepanjang masa, Sleepless In Seattle. Film ini diperankan oleh Meg Ryan dan Tom Hanks.
Cerita sedikit ya tentang alurnya. Sam (Tom Hanks) adalah duda yang baru pindah ke Seattle bersama anak laki-lakinya, Jonah. Suatu hari Jonah menelpon siaran radio (siaran curhat gitu) dan berakhir dengan Sam yang menceritakan tentang mendiang istrinya kepada penyiar yang menjulukinya Sleepless in Seattle. Siaran tersebut menjadi viral sehingga membuat Annie (Meg Ryan) seorang jurnalis menjadi tertarik, kemudian menuliskan surat untuk bertemu di Empire State Building. Jonah yang membaca surat Annie merasa itu adalah jodoh yang tepat bagi ayahnya. Hal ini karena Annie menuliskan untuk bertemu di Empire State Building di hari Valentine -terinspirasi oleh film An Affair to Remember yang dianggap simbol cinta sejati-. Sam menentang Jonah karena jarak Seattle-New Yok bagai Sabang-Merauke (dari ujung ke ujung). Jonah pun kabur ke New York dan endingnya sebagaimana pakemnya romcom.
Yang unik dari film ini bagi saya adalah dua tokoh utamanya sama sekali tidak pernah mengobrol dan hanya berpapasan atau melihat dari jauh saja sampai ending cerita tapi romansanya tetap "dapet". Ngobrol aja engga, apalagi skinship. Mungkin bisa dibilang cinta pada pandangan pertama bagi Sam atau pada pendengaran pertama bagi Annie. Kalau dipikir memang agak tidak realistis ya, tapi justru itu esensinya film kan. Kalau cari yang realistis ya dunia nyata aja haha.  
Film ini dibuat tahun 1993, namun saya baru menontonnya di tv sekitar tahun 1998/99. Saya ingat malam itu harusnya belajar matematika untuk ulangan harian kelas 1 SMA. Namun karena ada film bagus, jadi saya menunda belajarnya ke waktu subuh. Demi...entah dapat nilai berapa ulangan waktu itu. Yang berkesan cuma filmnya haha...sampai pagi-pagi saya pun siaran ulang ke teman sebangku. I'm a such storyteller memang. 
Film ini pun kemudian mendorong saya untuk menonton An Affair to Remember -yang digadang-gadang simbol true love di film ini- serta film reunited-nya Hanks dan Ryan You've Got Mail (yang ini saya tonton waktu SMA kelas 2 atau 3). See...always snowball watching:).

#day3

Film: The Architecture of Love



Kali ini saya akan reviu film yang baru banget ditonton...The Architecture of Love (TAOL). Sejak tahu bakal jadi difilmkan, jujur saya pengen banget nonton ini. Alasannya karena dari semua novel Ika Natassa yang difilmkan, TAOL ini yang paling sweet ceritanya (menurut saya). Tahu kan ya selera film saya romcom yang happy ending.
Kesan pertama saat nonton, sinematografinya bagus banget. Very eyes pleasing, pemandangan beberapa lanskap New York yang megah, dan sudut pengambilannya gambarnya juga apik. Saya jadi berasa nostalgia film romcom You've Got Mail yang vibenya sedikit mirip. 
Tentang ceritanya secara garis besar sama dengan novelnya. Ada perbedaan di beberapa detail seperti penyebab perceraian Raia karena suaminya selingkuh (di novel engga), panggilan Bapak Sungai ke River dilakukan Raia seperti halnya almh istri River (di novel hanya Raia memanggil demikian, sementara River memanggil Ibu Hari Raia bukannya Ibu Gentong), Raia kerja di toko buku selama di New York (di novel engga), novel baru Raia ada judulnya di film (omg!), tapi yang paling menggangu perubahan ending terkait Diaz. Ya paham sih penyesuaian plot diperlukan untuk mempercepat  sehingga pas durasi film dan memperkuat pesan dari film, which is tentang keberanian untuk mencintai (lagi). Tapi masa iya semua pemeran cowoknya harus falling for Raia (ups spoiler wkwk).
Anyway, kalau acting sih ga usah diragukan ya. Nicsap dan Putri Marino juara banget chemistrynya. Meski gambaran saya tentang penampilan River di novel agak lebih dark and messy dibanding di film (di novel Rivernya merokok juga). Pemeran lainnya juga bagus. Ada pemeran Erin yang seksi (saya yang cewek aja demen lihatnya^^), dan Aga yang agak awkward tapi baik banget sm abangnya. 
Overall, saya menikmati filmnya. Bagi yang ingin dapet feel yang lebih dalem, bisa baca novelnya (di situ si River ngilang timbulnya lebih lama).  Tapi di film kyknya lebih banyak kissingnya ya, agak risih jg saya (padahal kalau film korea atau barat fine aja haha...standar ganda).

Prop Novel Raia

Credit photo: ig @ikanatassa

#day2

1 Mei 2024

Resensi: Underground

Ika Natassa
GPU, 2010
549 halaman

Mengawali tekad 30 hari menulis, here we go reviu tentang novel yang ditulis Ika Natassa ketika berusia 19 tahun. Novel ini bercerita tentang kehidupan dan persahabatan sekitar 10 VJ Underground (channel music semacam MTV dan VH1 di United Stated). Bagaimana mereka berkutat dengan kesibukan tapping, off-air, kuliah, tugas, hangout, partying dengan segala bumbu kehidupannya. 

Membaca novel ini adalah dampak dari bacaan sebelumnya. Ya saya memang seringkali melakukan snowball sampling dalam memilih bacaan. Ketika suka dengan satu novel, pasti penasaran dengan karya lain dari penulis yang sama. Kesan pertama saya dari novel ini adalah nostalgic. Draft pertama novel ini ditulis tahun 1996, yang memang saat itu MTV sedang hits banget. Tontonan wajib para muda mudi. Pantas saja jika novel ini lantas mengambil tema yang sama. Kalau dirilis pada waktu itu mungkin akan sangat mengena, namun novel ini baru dirilis di tahun 2010 yang mana sepertinya MTV tak se-hype dulu lagi. Saya cukup lama menyelesaikan novel ini, karena bukunya cukup tebal. Btw, novel ini berbahasa Inggris ya. Namun bukan bahasa Inggris yang rumit. Tidak ada konflik yang menonjol dalam ceritanya, mungkin karena tokohnya banyak. Saya sempat agak lost di awal karena belum hafal nama tokoh-tokohnya. Ada Liv-Stefan, Claire-Micha, Heather-Jared, Aliyaah-Shareef, Alisha-Gavin, plus para mantan, rekan kerja, rekan kuliah dan banyak lagi. Rasanya mirip seperti Melrose Place or Beverly Hills versi novel. Singkat kata, saya menikmati membaca Underground meski tidak untuk dibaca ulang hehe... Membaca dalam bahasa Inggris tetap lebih melelahkan.

#day1

8 Mar 2024

Resensi: Heartbreak Motel

Ika Natassa

Gramedia Pustaka Utama, 2022

391 halaman

Novel ini berkisah tentang Ava Alexandra, seorang aktris terkenal yang selalu totalitas dalam setiap film yang dibintanginya. Penuturannya menggunakan alur flash back berselang seling antara masa lalu dan masa kini, mengikuti perjalanan Ava dari awal karir, membintangi film breakthroughnya, cinlok dengan aktor pasangan mainnya walau akhirnya kandas, kemudian pertemuannya dengan Raga -cowok yang tidak mengenal sosok aktris Ava Alexandra-, juga kisah masa kecilnya yang ternyata tidak semulus karirnya.

Ini kali kedua saya membaca novel Ika Natassa dan saya menyukai kisah Ava. Novel Ika yang pertama saya baca adalah The Architecture of Love, namun entah mengapa tidak terlalu berkesan *btw, saya membaca ulang novel itu setelah ini dan ternyata bagus juga haha...mungkin dulu saya bacanya kurang khusyu ya. Heartbreak Motel ini sedikit mengingatkan saya dengan Maya Kitajima (komik Topeng Kaca). Ava mirip dengan Maya dalam hal terlalu mendalami perannya, namun Ava membutuhkan waktu untuk move on dari perannya dengan cara menyepi di sebuah hotel. Inilah mungkin yang menjadi alasan judul novelnya. Ini bukan novel yang berakhir dengan wedding seperti novel romance pada umumnya, novel ini bak dialog hati Ava dalam setiap situasi yang dihadapinya tanpa ada ending yang puncak. Namun berkatnya, saya jadi bisa memahami alasan artis yang repot-repot berseteru dengan netijen yang komen negatif di akunnya, padahal dicuekin saja lebih praktis. Membaca novel ini seperti diajak untuk menerima seorang Ava yang ternyata jiwanya rapuh. Saya menikmati detil kebiasaan artis yang terungkap di novel ini, seperti memanggil dengan nama peran selama menjalani syuting walau tidak sedang di depan kamera. Ika Natassa serius melakukan risetnya sebelum penulisan novel ini. Secara keseluruhan, novel ini membuka pengalaman baru tentang sisi kehidupan artis yang tidak sesempurna kelihatannya dan sukses membuat saya jadi ingin membaca novel Ika Natassa yang lain. Oh satu hal lagi yang saya suka, i love the bickering between Ava and her bestfriend. Lucu, gemes dan bikin saya ngiri ingin punya bestfriend yang tetap erat meski sudah berkeluarga.

19 Feb 2024

Resensi: The Architecture of Love



The Architecture of Love
Ika Natassa
GPU 2016, 301 halaman

Novel ini bercerita tentang Raia dan River. Mereka berdua sama-sama pernah terluka (walau dengan cerita yang berbeda), sama-sama melarikan diri ke New York, sama-sama seniman (Raia penulis, River arsitek), dan saling menyembuhkan satu sama lain. 
Deskripsinya cukup singkat aja hehe... Saya membaca novel ini dua kali, entah mungkin kali pertamanya sempat terjeda lama (maklum ibu ibu baca sesempatnya) jadi rasa novelnya kurang berkesan. Namun di kali kedua membacanya (setelah sulit move on dari Heartbreak Motel), wow...i love this story. Alur cerita novel ini mudah ditebak sebenarnya. Namun untuk alur yang familiar, penulis mesti pintar mengaduk rasa pembaca agar tetap menarik dibaca dan... Ika Natassa seperti biasa berhasil melakukannya dengan baik. Saya menikmati setiap tarik ulur hubungan Raia dan River (ya...perasaan manusia memang rumit haha), interaksi mereka yang lambat namun tetap berasa nyess di hati (haha...agak lebai ya). Tapi betul, saya jadi bersemangat menantikan filmnya dan berharap seandainya novel Raia benar benar diwujudkan oleh Ika Natassa (pleaseee^^). Oiya, ilustrasi novel ini ciamik banget, dari cover sampai sketsa beberapa spot ikonik NYC yang dijelajahi tokohnya (ceritanya River memang selalu menggambar setiap ngebolang). Jadi lumayan bisa mendukung imajinasi pembaca akan latar ceritanya. Loovee...


11 Feb 2024

Resep: Gyoza

Sudah lama banget ya tidak coba-coba resep. Hanif ternyata doyan gyoza, sekali makan bisa 5 haha... Kalau beli kan lumayan mahal ya, jadi cari-cari resep dan nemu yang simpel dari ig @resarere. 

Bahan:
500 gram daging ayam giling (prefer paha supaya lebih juicy)
2 siung bawang putih
2 siung bawang merah
1 sdt garam
1 sdm kecap asin (bisa diskip dengan tambah garam)
2 sdm saus tiram
2 sdm minyak wijen
1 telur
3 sdm tepung tapioka (kurleb 50 gram)
Daun bawang iris secukupnya (kalau mau lebih harum, tumis atau siram dengan minyak panas sebelum dicampur ke adonan)
Kaldu jamur (opsional)
Kulit gyoza 40 lembar

Cara membuat:
1. Campur semua bahan, masukkan tepung tapioka paling akhir. 
2. Diamkan minimal 15 menit di kulkas agar adonan lebih set
3. Bungkus adonan dengan kulit gyoza. Olesi kulit dengan minyak atau air supaya lebih lentur. Bisa dilipit-lipit atau bentuk suka-suka.
4. Kukus selama 15 menit. Jangan lupa olesi alas kukusan atau loyang (jika kukus pakai loyang) dengan minyak supaya tidak lengket.
5. Gyoza siap disimpan, bisa digoreng, kukus atau panggang.

Jadinya kurang lebih 40 pcs

Untuk kulit gyoza, bisa beli gyoza skin dengan merk tokyo belly di supermarket harga Rp28.000 berat 300 gram (isinya sekitar 35 lembar ukuran 10cm) atau yang lebih ekonomis ada di shopee nama sellernya kulit dimsum lokasinya di tangerang harganya sekitar 12 ribuan isi 40 ukuran 10cm. Ada juga yang ukuran 8cm tapi saya belum pernah beli. 
Selamat mencoba^^v

Review: Living Room No Matsunaga-san

Lama ngga nulis blog padahal banyak ide di kepala. Ya begitu kalau kerjaan sedang banyak jadi malas mau menulis hehe... Kali ini saya akan r...