27 Sep 2011

Libur Panjang


Sejak lulus kuliah, saya tidak pernah pulang ke rumah orang tua lebih dari 10 hari. Iyalah jatah cuti setahun maksimal 12 hari, belum kalau dipotong cuti bersama. Tapi lebaran kemarin saya dan Hanif mudik ke kampung hampir sebulan!!! Pertengahan ramadhan kami berdua sudah bertolak ke Maos, Cilacap. Untunglah setelah pensiun, ayah saya memutuskan untuk pindah ke Maos, kampung kelahirannya, dan menjual rumah kami di Kediri. Jadi mudik pertama saya berdua dengan Hanif jadi lebih dekat, hanya 6 jam perjalanan dengan kereta api. Alhamdulillah, Hanif cukup tenang selama perjalanan meski saya tetap meminta bantuan tetangga untuk mengantar ke stasiun Gambir. Bawaannya banyak hehe....
Liburan di desa membuat Hanif banyak bereksplorasi alias ngider melulu. Bagaimana tidak kebun luas dan rumah padhe-budhe gede-gede. Ditambah lagi dietnya yang ngga terkontrol membuat Hanif seperti kelebihan energi bangun jam 6 pagi dan tidur larut jam 12 malam. Bahkan Hanif sempat hilang beberapa kali. Seringnya keluar dari rumah ngga ketahuan. Rumah di desa mana ada yang berpagar, akses ke belakang dan samping kiri kanan terbuka. Untung selalu ketemu, entah di rumah saudara atau tetangga. Tapi tetep aja saya kebat kebit, takut nyampe jalan raya yang jaraknya hanya 150m dari rumah mbahnya. Bergaul dengan sepupunya juga menambah kosakata Hanif, terutama nama makanan pantangannya seperti: es krim, bakso, mi, permen. Haha...saya seneng tapi juga pusing. Mudah-mudahan setelah tambah besar, Hanif akan lebih mudah diberi pengertian tentang pantangannya.
Liburan ini juga kesempatan bagi saya untuk birul walidain. Ibu saya kena stroke sejak 2007 silam dan sekarang keadaannya sulit berjalan, bicara tidak jelas dan sering menangis. Tapi ibu saya masih bisa mengingat dengan baik nama teman-teman sekolah saya dan resep masakan yang diinginkannya. Apalagi ketika menjelang lebaran pembantu yang biasa merawat ibu dan masak minta libur seminggu, otomatis sayalah yang mencuci, masak dan merawat ibu. Alamaak...bener2 ujian kesabaran. Saya yang ngga biasa bangun pagi hehe...harus bangun pagi nyuci, memandikan ibu lalu Hanif, masak, menemani Hanif main, dan tidur larut gara2 Hanif ngga tidur-tidur. Hanif yang ngga tahan dikurung di dalam rumah sering kabur tiap ada orang yang buka pintu. Karena jengkel, saya marahi Hanif eh...yang nangis bukan hanya Hanif, ibu saya juga ikut nangis. Begitulah setiap Hanif nangis, mbah utinya ikutan nangis. Ya...mungkin ibu saya merasa nelangsa kali ya ngga bisa belain cucu. Tapi kan namanya anak2 dilarang ini itu pasti nangis, saya jadi bingung kalau Hanif dan utinya sedang kontes menangis. Dan kalau ada pepatah “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”, baru saya rasakan sekarang. Sesabar-sabarnya meladeni ibu, kadang masih muncul jengkel di hati meski tidak keluar kata-kata ketika ibu dilarang makan pantangannya tapi malah nangis atau baru diganti bajunya tapi ngompol lagi. Saya jadi sadar kalau stok sabar saya ternyata tipis banget. Kalau sudah begitu, biasanya saya inget2 aja ibu sudah ribuan kali gantiin popok saya, nyuciin baju saya, piring bekas makan saya, masakin apa yang saya mau, bergadang waktu saya sakit bahkan sering saya muntahin tiap kali naik bis AKAP. Jadi kalau cuma begini aja sih, masih ngga ada apa-apanya yang saya lakukan dibandingkan dengan yang sudah ibu lakukan selama 28 tahun hidup saya.
Yah, liburan kali ini walau capek tapi senang bisa sedikit nyenengin orang tua meski belum maksimal. Hanif pulkam jadi tambah gemuk dan item kata tetangga hehe...iyalah makannya sembarangan dan main mulu. Insya Allah liburan sekolah Desember mendatang mudik ke Maos lagi...horeee....