21 Jul 2025

Mendadak Musikal Keluarga Cemara


Minggu lalu adalah minggu yang hectic. Beberapa tenggat jatuh di tanggal yang sama membuat saya sempat bergadang. Kebiasaan saya ketika kerja (selain menulis) supaya tidak mengantuk sembari mendengar playlist secara acak di youtube. Tiba-tiba sebuah lagu mampir ke telinga saya dengan suara khas Quinn Salman. Eh lagu apa nih koq enak batin saya. Ternyata lagu yang berjudul Indah Apa Adanya itu salah satu lagu dari musikal Keluarga Cemara. Saya penasaran lalu mengulik lebih jauh lagu lagu lainnya. Waah bagus bagus... Alhasil saya impulsif check out tiket musikalnya pas di hari terakhir show. Rupaya musikal tersebut sudah digelar selama sebulan liburan sekolah. Kali ini saya izin ke suami untuk tidak ajak anak anak. Selain karena tiketnya tinggal sedikit, durasi jadi pertimbangan mengingat Hanif dan Karim seringkali minta keluar ketika nonton bioskop. Sekalian mau jeda sejenak dari hiruk pikuk penilaian uts. Berhubung ini kali pertama menonton musikal jadi saya pilih tiket yang paling murah. Nama seatnya obstructed view, yang anehnya tidak ada di denah seat. Kursi tersisa hanya 1 paling ujung kiri. Harganya 150 ribu, masih dapat diskon dari poin jadi 135 ribu. Haha...emak emak modis pokoknya.

salah satu pintu masuk di sebelah kiri pintu mall

Pada hari H pertunjukan saya berangkat dengan KRL lanjut ojek online ke lokasi yakni Ciputra Artpreneur. Awalnya saya pikir lokasinya di dekat Mal Ciputra Grogol. Eh ternyata waktu input tujuan di Gojek baru sadar kalau tempatnya di Ciputra World Kuningan. Sesampainya di sana, ternyata antrian lift menuju lantai 11F penuh. Jadinya saya pakai eskalator. Lumayan juga, saran maksimal datang 30 menit sebelum show untuk antisipasi lift penuh. Kalau ditambah harus cari parkir mobil, mesti spare waktu lebih awal lagi. 

view dari seat obstructed (ada TV di sebelah kiri)

Pas masuk ke area duduk, barulah saya ngeh ternyata obstructed itu terhalang tiang panggung jadi tidak bisa full dapat view stagenya. Sisi positifnya sih kursinya depan banget jadi bisa lihat pemainnya secara close up. Alhamdulillahnya lagi saya dapat kursi di sisi kiri panggung yang ternyata banyak adegan dalam rumah yang dilakukan di sebelah kanan panggung. Tapi di sebelah panggung juga terpasang televisi ukuran 42 inch sehingga tetap bisa menonton bagian panggung kiri yang terhalang.  Not bad lah untuk pengalaman pertama.


Cerita yang diangkat di musikal ini adalah dari awal perkenalan abah dan emak, menikah, punya anak Euis dan Ara, bangkrut karena tertipu, pindah ke desa, adaptasi sampai penerimaan yang ditutup dengan kelahiran si bungsu Agil. Sejujurnya saya bukan penggemar serial Keluarga Cemara dulu. Menurut saya ceritanya agak sedih, meski mereka bahagia ya dalam kesederhanaan. Tapi agak tidak relate bagi saya yang anak komplek saat itu *hilih gaya ya. Lalu yang bikin saya pengen nonton musikal ini ya lagu-lagunya. Begitu menyaksikannya secara langsung...wooow...bagus bangeeet. Lagu-lagunya engga ada yang failed, dimainkan secara live orkestra, dipadu dengan koreo yang apik dan kostum yang meriah. Setting panggungnya dan lighting juga oke banget. Padahal panggungnya tidak terlalu luas tapi diatur secara efisien untuk dapat digunakan berbagai adegan hanya dengan sedikit geser-geser. Jadi dejavu ingat komik favorit saya Topeng Kaca, oh gini ternyata panggung teater. Bisa multifungsi, kadang jadi kamar, berikutnya bisa jadi panggung aksi demo.

Kalau dari sisi konten musikalnya, ternyata ga sesedih serialnya jaman dahulu. Malah ini terasa meriah ada unsur komedinya, romannya dan juga haru. Penciptanya juga cerdik memasukkan unsur kekinian seperti beberapa lagu viral di tiktok, velocity dan ancaman dihukum ke barak ala kang dedy mulyadi wkwk. Bahkan ada satu kejadian ada penonton anak yang nangis lumayan kencang di tengah dialog, dengan santainya malah dimention dan jadi jokes oleh aktornya. Meski bapaknya lantas buru buru bawa anaknya keluar. Akting aktor-aktrisnya jempolan, saya kebagian nonton yang castnya ga ada Quinn Salman. Tapi ada Abby Galabby yang jebolan IMB jadi emak, lalu ada Mang Saswi dan Sita RSD jadi penduduk desanya. Kemudian di akhir show dapat surprise show dari Rapot yang membawakan lagu Opak Party. Awalnya ga tahu ini artis apa dari mana haha. Saya sampe googling oh ternyata podcaster. Dalam rangka strategi marketing di tahun ini, ada 7 lagu original musikal yang dinyanyikan oleh beberapa artis. Tahun sebelumnya lagu musikal hanya direkam oleh pemeran musikalnya (original cast recording). Kemudian para artis tersebut diundang sebagai kejutan atau gimmick di akhir beberapa show secara acak. Untuk sesi siang yang saya tonton ya Rapot itu, lalu yang sesi malam kabarnya ada Vidi Aldiano. Total durasi musikal sekitar 2,5 jam plus istirahat 20 menit di tengah. So far puas untuk pengalaman pertama menonton musikal. Jadi pengen nonton lagi waktu tahu ada Musikal Petualangan Sherina di TIM minggu depannya. Eh tapi tiketnya sudah sold out haha... Alhamdulillah dompet amaan. Lagipula kalaupun masih ada, saya juga akan berpikir ulang karena belum bisa bawa anak-anak. Bagi yang mau mengajak anak, harus dipastikan anak bisa tenang selama pertunjukan. Karena kalau ribut atau menangis, memang bisa mengganggu konsentrasi pemainnya. Sekian, akhirnya jadi dorongan untuk menulis blog lagi setelah setengah tahun haha.

18 Jul 2025

Resensi: Twenties Girl


Sophie Kinsella, 564 halaman
GPU, 2010

Masih edisi membaca ulang karya Sophie Kinsella. Tema novelnya kali ini adalah hantu. Hhmm...genre romcom berpadu mistik...kayak menarik ya.

Novel ini bercerita tentang Lara yang baru saja putus dari pacarnya (tapi masih yakin mereka akan bersatu kembali). Di sisi lain, ia juga menghadapi masalah pekerjaan, Natalie, partnernya di biro rekrutmen yang didirikan bersama mendadak memutuskan tidak kembali dari liburannya. Padahal Natalie-lah yang lebih berpengalaman di bidang talent-recruitment dibanding dirinya. Kemudian terjadi hal yang aneh saat ia menghadiri pemakaman Sadie (adik dari neneknya), tiba tiba saja ia bisa berkomunikasi arwah Sadie -yang muncul dalam versi usia 20-an. Hantu Sadie memintanya untuk mencarikan kalungnya yang hilang atau ia akan terus menghantui Lara. Pada kenyataannya Sadie tak sekedar meminta Lara mencari kalung, tapi juga menyuruh Lara berkencan dengan dalih agar ia bisa merasakan hal yang tak sempat dilakukannya dulu .

Buku ini adalah salah satu novel standalone dari Sophie Kinsella. Temanya lengkap. Bagian romantis-komedinya ada di cerita hubungan Lara-Sadie dengan Ted pria pilihan Sadie pun kisah cinta Sadie di masa lalu. Sisi misteri ala detektif di cerita pencarian kalung dan asal usul Sadie, serta kisah zero-to-hero-nya pada kisah perjuangan Lara menyelesaikan berbagai pekerjaan head-hunter (dibantu oleh Sadie). Ketika membaca ulang novel ini, saya jadi ingat lagu-lagu Bernadya. Haha...yang lagi hits. Lara awalnya susah move-on setelah diputuskan oleh pacarnya. Sebagai pembaca, saya jadi miris karena jadinya agak-agak stalker. Namun interaksinya dengan arwah Sadie memberinya kerepotan lain yakni melacak keberadaan kalung Sadie.  Misterinya mendapat porsi yang lumayan signifikan di novel ini. Di beberapa bagian agak mengingatkan saya pada film Titanic. Akhirnya lambat laun Lara pun menyadari kesalahannya dan bisa menerima break-upnya berkat nasihat dari Sadie. Positifnya tokoh Lara ini, ia sangat berbakti kepada orang tuanya pun pada Sadie, arwah nenek yang bahkan belum pernah ditemuinya semasa masih hidup. Untuk thrillernya, seri ini menyuguhkan alur paling tidak terduga daripada novel Kinsella lain yg pernah saya baca. Tapi sebaliknya kisah romannya jadi berasa agak kurang chemistry. Kelamaan di bagian susah move-on dan misteri mungkin membuat porsi romansanya jadi sedikit. Bagi penggemar misteri plus roman, saya rekomen banget novel ini.

22 Sep 2024

Pergi ke Dokter Gigi



Hari ini saya pergi mengantar Hanif ke sebuah klinik gigi di kawasan BSD. Kenapa jauh jauh ke BSD? Karena dokternya sudah cocok. Selama proses tindakan tambal 2 gigi, Hanif bisa berbaring dengan tenang dan saya pun duduk manis mengamati. Diam-diam saya merasa terharu. Ini adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi Hanif.

Hanif pertama kali tumbuh gigi di usia 7 bulan dan mulai tanggal gigi susunya di usia TK B kalau tidak salah. Pengalaman kali pertama ke dokter gigi tak lancar. Kondisinya saat itu gigi depan bawahnya sudah sangat goyang tapi tak kunjung lepas. Waktu saya bawa ke dokter gigi, Hanif tidak mau duduk di kursi periksa. Lalu saya pangku tapi ia masih meronta sampai saya jatuh terduduk. Hanif pun saya jepit dengan kaki, ketika ia berteriak, dokter dengan sigap mencabut gigi depannya. Haha...

Setelahnya saya memutuskan untuk memperkenalkan dulu aktivitas ke dokter gigi pada Hanif tanpa menunggu giginya ada keluhan. Kunjungan ke 1 dan 2 masih mingkem. Alhamdulillah kunjungan ke 3 mau disikatin giginya. Perjuangannya kala itu adalah menunggu antrian. Pulang kantor, saya akan mampir untuk daftar. Kemudian setelah makan dan sholat saya akan kembali dengan Hanif dengan memperkirakan antriannya. Pernah dapat giliran hampir jam 10 malam dan menunggu bersama Hanif berarti ngider mengikutinya ke mana mana. Tapi alhamdulillah dapat dokter yang sabar, bahkan cuma bayar 50 ribu ketika Hanif tidak kondusif atau tindakan tidak berhasil dilakukan. Saat itu Hanif masih belum mau dibor sehingga untuk menghindari lubang yang terlalu dalam, disarankan oleh dokter minimal 3 bulan sekali harus dicek. Sayangnya kemudian bu dokternya ini berhenti praktek sejenak karena mau fokus menyelesaikan studi spesialisasinya.

Berikutnya saya pun mencoba ke klinik pratama dimana kartu BPJS suami terdaftar. Alhamdulillah dokternya cukup kooperatif dan mau mencoba menangani Hanif dengan petunjuk dari saya. Salah satu tips untuk membuat Hanif tahan membuka mulutnya adalah dengan menghitung sampai angka tertentu yang disepakati. Lumayan lah ya jadi kepakai BPJSnya, meski tetap harus antri dan jam periksa gigi juga terbatas tak seperti dokter umum. 

Kemudian tibalah pandemi yang membuat kunjungan ke dokter gigi tak dilakukan selama setahun lebih. Ketika Hanif mengeluh sakit gigi, saya ajak periksa dan ternyata lubangnya dalam. Karena khawatir kena syaraf, dokter klinik bpjs menyarankan ke spesialis gigi anak. Lalu saya ke dokter spesialis gigi anak di bintaro. Setelah diperiksa, beliau menyarankan untuk dilakukan tindakan operasi di rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap. Kebat kebit lah hati saya. Ya Allah...operasi. Saya jadi menyesal tak mengajak Hanif ke dokter gigi saat pandemi. Saya diberikan rekomendasi beberapa nama koleganya yang praktek di RS. Pilihan saya jatuh pada RS Sari Asih. Ketika diperiksa di sana, dokternya menyatakan tidak harus operasi tapi harus memakai bor untuk tindakannya. Rencananya Hanif akan diberikan seperti obat bius oral sehingga dalam kondisi setengah sadar ketika tindakan. Kemudian saya pun diberikan rujukan ke dokter anak untuk konsul dosis dan mendapatkan resepnya. Ternyata eh ternyata obat tersebut tidak ada di setiap rumah sakit, saya pun diminta ke RS Harapan Kita karena obat tersebut biasa digunakan untuk anak yang akan operasi jantung. Whaat...tambah deg degan saya jadinya. Tapi ya sudahlah bismillah. Pergilah saya ke Harapan Kita untuk menebus obat. Sesampainya di sana ternyata harus ada pengantar dari RS asal karena termasuk obat keras. Ya sudah lah saya balik mengurus surat tersebut, lalu kembali beberapa hari kemudian. Alhamdulillah setelah lengkap syaratnya, saya berhasil membeli obat yang diminta. Tahu berapa harganya? 27.000 rupiah. Haha...mahalan ongkos bolak baliknya. Kemudian pada hari tindakan gigi, Hanif diminta untuk minum obat tersebut setengah jam sebelumnya. Obatnya berbentuk kristal yang harus dicairkan dengan air oleh bagian farmasi. Tapi salahnya saya tidak mencicipinya dahulu, ketika diminumkan Hanif memuntahkannya hampir separuh. Katanya pahit. Lha...gimana ini ga sempat ke farmasi lagi karena sebelumnya saja antri banget. Akhirnya saya terus terang ke dokternya. Ya sudah bu kita coba saja dulu. Dokternya pun memberi pengertian ke Hanif kalau harus pakai alat bor. Alhamdulillah saat itu Hanif mau dan cukup kooperatif padahal kondisinya sadar dan tidak terlihat mengantuk. Ketika pulang barulah ia tertidur pulas di taksi haha... Hikmah dari kejadian ini adalah Hanif mulai mau ditreatment dengan alat bor. Alhamdulillah...

Dokter tersebutlah yang sampai saat ini masih jadi tujuan jika Hanif ada keluhan gigi yang agak serius. Kami tidak lagi ke RS Sari Asih karena antriannya yang aduhai tapi ke sebuah klinik gigi swasta di BSD tempatnya praktek. Karena lumayan jauh dan agak mahal, Hanif juga saya biasakan dengan dokter gigi yang lebih dekat rumah. Kadang ke klinik BPJS kalau saya ada waktu luang untuk antri atau ke sebuah klinik swasta lain jika ga sempat antri. Namun memang belum ketemu yang secocok dokter yang itu. Padahal saya lihat cara penanganannya biasa saja, tapi Hanif terlihat lebih tenang. 

Ada beberapa hal yang saya pelajari selama membiasakan Hanif ke dokter gigi:
  1. Gali rekomendasi dokter gigi dari jaringan emak emak dan medsos. 
  2. Sempatkan untuk melakukan perkenalan dengan dokter gigi saat anak mulai memasuki usia tanggal gigi susu. Jangan menunggu ada keluhan.
  3. Jelaskan sebenar benarnya kondisi anak sehingga dokter bisa memutuskan sanggup atau tidak menanganinya. 
  4. Terus berusaha dan berdoa. Insha Allah akan ditunjukkan jalannya.
Saya perhatikan ada dokter yang mau belajar menangani Hanif meski bukan spesialis anak dan ada juga yang terlihat tidak mau repot-repot meski yang bersangkutan dokter spesialis (bukan spesialis gigi anak memang). Ya, intinya tergantung karakter dokternya juga. Contohnya dokter gigi umum di klinik BPJS malah sabar banget dengan Hanif, namun memang dalam beberapa kasus, ia tetap merujuk Hanif ke spesialis gigi anak. Jadi silakan dicari sesuai dengan budget yang dimiliki, semoga diberikan jodoh dokter gigi yang cocok dengan anak kita. Aamiin YRA.

Resensi: Undomestic Goddess



Sophie Kinsella, 506 halaman
Gramedia Pustaka Utama, 2005

Novel ini berkisah tentang Samantha yang bekerja di salah satu firma hukum ternama di London. Ia bekerja siang malam 7 hari dalam seminggu demi mengejar impiannya menjadi partner. Ketika impiannya mulai tampak di depan mata, ia baru menyadari bahwa dirinya melewatkan satu tahapan pekerjaan yang berakibat kerugian jutaan dollar bagi firma hukumnya. Merasa shock dengan kenyataan tersebut, tanpa sadar ia melangkahkan kaki meninggalkan kantornya, menaiki kereta tanpa tujuan dan tiba di sebuah desa kecil. Kelaparan dan haus membuatnya mampir ke sebuah rumah. Namun terjadi kesalahpahaman sehingga tuan rumah menyangka Samantha datang melamar sebagai housekeeper. Karena tak punya pekerjaan lagi, Sam pun mulai menjalani peran barunya meski...ia sama sekali tak bisa masak, bebersih, dan apapun yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga...

Novel ini termasuk novel standalone dari Sophie Kinsella yang saya suka. Sudah pernah saya baca beberapa tahun yang lalu dan saya baca ulang karena sudah lupa ceritanya. Ide cerita kali ini adalah tentang wanita karir yang super sibuk kemudian terpaksa beralih ke slow living karena kasus hukum. Beberapa waktu belakangan slow living menjadi tren di tengah maraknya isu kesehatan mental akibat tekanan kerja. Membaca ulang novel ini jadi terasa lebih relate bagi saya saat ini (meski tekanannya tak sebesar yang dialami Sam). Seperti biasa, membaca novel ini seperti mendapat paket lengkap. Kisah zero-to-hero nya dapet (dari ga bisa apa apa sampai mahir urusan rumah), romcom-nya ada (ketemu tukang kebun yang simpatik😍) dan misterinya juga ada (konspirasi kasus hukum Sam). Dari kisah Sam, saya belajar bahwa tragedi bisa terjadi kapanpun dan kadang ada kalanya merasa tak ada jalan keluar, namun ketika kita tetap berusaha mungkin akan ada pintu lain yang terbuka, pintu yang tak pernah diduga sebelumnya. Ah...novel romcom kan memang selalu happy ending, haha...memang iya. Tapi bukankah kita juga bisa berdoa dan mengusahakan happy ending?

29 Agu 2024

Film: Heartbreak Motel (2024)



Yeay...akhirnya nonton juga filmnya di minggu terakhir tayang di bioskop dan...saya lumayan surprise.
Film dibuka dengan adegan Ava bekerja sebagai housekeeping di sebuah hotel, kemudian berselang-seling dengan adegan Ava yang sedang akting, Ava di luar syuting, Ava remaja dan Ava kecil di tengah pertengkaran orang tuanya. Di kehidupannya sebagai housekeeper hotel, ia bertemu Raga -tamu hotel yang kerja di bidang finance-, sementara di kehidupan artis dia bertemu Reza -aktor lawan main yang kemudian jadi kekasihnya-. 

Saya surprise dengan alurnya, berbeda dengan novel meski ada beberapa hal yang sama. Di awal saya sempat menerka Ava punya kehidupan ganda, yang mana tak ada di novelnya. Kemudian voila...di tengah film barulah saya paham arah alurnya. Secara umum, saya lumayan menikmati film ini. Alurnya unik (sudah saya singgung sebelumnya), aktingnya jempolan (terutama Laura Basuki, bisa ya akting tanpa kata-kata tapi feelnya tetap sampai ke penonton) dan visualisasinya juga bagus. Namun saya agak kesulitan membedakan Ava dan Reza di kehidupan biasa dengan Ava dan Reza yang sedang syuting jadi pasangan suami istri *mbatin loh ini udh nikah atau belum sih.

Lalu karena saya baca novelnya, saya merasa ada bagian esensial yang hilang. Versi novelnya Ava yang mengalami childhood trauma sulit mencintai dirinya sendiri. Oleh karenanya ia suka akting, menemukan kesenangan menjadi orang lain sehingga untuk kembali menjadi dirinya, ia perlu menyepi di hotel yang ia sebut Heartbreak Motel. Di versi film, hotel lebih tampak sebagai pelarian Ava ketika terkena kasus dengan Reza, terlebih ia sampai menyamar sebagai housekeeper. Di novel, Ava kekeuh tidak mau mengungkap identitas aslinya dari Raga karena merasa Raga tidak akan mencintai 'Ava' yang sebenarnya. Di filmnya, sosok Ava yang sulit menerima dirinya sendiri ini seperti kurang tegas ditampilkan, lebih kepada panic attack yang kerap muncul dipicu hal-hal yang mirip trauma masa kecilnya. Lalu saya suka banget dengan scene di novel ketika Raga nembak "aku mau jadi orang yang menemani kamu menerima dirimu sendiri" *auto meleyot. Tapi ini ga ada di film hiks. Yaah, adaptasi novel dengan batasan durasi film memang tak mudah sehingga ceritanya dibuat sedemikian rupa. Mudahan nanti dibuat serial yang mirip novelnya *maunya saya. Oh iya satu lagi yang beda, di versi film Reza Malik (yang diperankan Reza Rahardian) berkali-kali lipat lebih tampol-able alias nyebelin daripada versi novelnya *hadeeh.

27 Agu 2024

Resensi: The Duke and I



Julia Quinn, 483 halaman
GPU, 2013

Inti cerita buku ini tentang hubungan palsu yang akhirnya jadi cinta betulan. Tokoh utamanya adalah Daphne (anak ke-4 dari Bridgerton bersaudara) yang merasa kerap di'friend-zone'kan oleh para pria di sekitarnya. Ia menyenangkan dijadikan teman tapi tidak untuk diperistri. Di sisi lain ada Simon Basset yang bertekad untuk tidak menikah karena 'luka' masa kecil. Padahal para ibu menganggapnya sebagai the most eligible bachelor untuk jodoh putrinya. Kemudian dalam suatu kejadian, Simon bertemu Daphne dan membuat kesepakatan. Daphne berharap pamornya naik dengan mengencani Simon dan Simon ingin menghalau para ibu yang berebut menyodorkan putrinya. 

Menurut saya, alur buku ini mudah ditebak dan agak sedikit membosankan. Tipikal historical romance. Kenapa serialnya begitu hits? Hhmm...saya menduga mungkin visualisasinya berperan besar. Walau saya belum berminat menontonnya. Sejujurnya membeli ebooknya di googleplay karena sedang diskon dan penasaran ceritanya.

Saya bukan penggemar historical romance ya, lebih suka yang genre roman modern (seperti Sophie Kinsella) atau fantasy (dongeng). Tapi saya suka Pride and Prejudice pada masanya haha (review di sini, sini, dan sini). Saya mulai kenal novel historical romance ketika SMA. Kebetulan ibu dari teman saya Dewi gemar membaca genre tersebut jadi saya diperbolehkan pinjam. Dari situ saya jadi tahu bahwa ada banyak levelnya, dari yang lite, medium, sampe 'kipas-kipas' haha.... Tidak banyak sih yang saya baca, cukup tahu aja. Saya pernah baca karangan Barbara Cartland (ini termasuk light), seri Harlequin (dari light sampai kipas ada) dan Nora Roberts (agak kipas sih ini). Kalau serial Bridgerton ini termasuk light menurut saya. Serinya ada 7 buku, masing-masing menceritakan kisah cinta dari 7 anggota keluarga Bridgerton walau tidak urut kelahiran. Daphne diceritakan pertama karena ia putri tertua meski anak ke-4. Biasanya saya suka dengan cerita yang berkaitan dalam satu universe. Tapi yang ini belum mendorong saya untuk ingin membaca seri berikutnya. 

Resensi: Gelap Terang Hidup Kartini


KPG, 2022 

Dulu saat masih sekolah, saya mengenal sosok Kartini sebagai pahlawan emansipasi wanita di Indonesia. Beliau mendirikan sekolah bagi para wanita di Jepara yang kala itu lazimnya tidak mengenyam pendidikan. Pemikirannya diketahui dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang merupakan kumpulan surat Kartini kepada Ny. Abendanon. Hanya sebatas itulah yang saya dapat dari pelajaran sejarah. Padahal saya merasa memiliki keterikatan dengan sosok Kartini, hanya karena lahir di tanggal yang sama haha...

Ketika Tempo menerbitkan seri tokoh bangsa, saya juga tak langsung tertarik. Maklum saya bukan penikmat biografi *lirik buku tentang Pak Hatta yang belum tuntas dibaca. Baru dibaca 1 dari 3 buku. Tapi ketika mengangkat Kartini, saya tertarik karena alasan sentimentil yang saya sebut sebelumnya daan...karena film Kartini besutan Hanung berhasil memantik rasa penasaran saya untuk mengenal sosok Kartini lebih jauh.

Meski disajikan secara singkat, buku ini banyak mengulik tentang pergolakan batin Kartini. Lahir sebagai putri bupati, tidak lantas membuatnya berdiam melihat ketidakadilan yang dialami kaum perempuan pada masa itu. Mulai dari perlakuan terhadap ibunya yang 'cuma' istri selir (ia bahkan tak boleh memanggil ibu pada ibu kandungnya), tradisi pingitan hingga pernikahan 'paksa'. Keterbukaan ayahnya Bupati Jepara turut berperan dalam perkembangan Kartini. Sang ayah mengizinkannya bersekolah (meski sampai sekolah dasar), melanggankan berbagai bacaan (yang membuatnya bisa mengasah kemampuan menulis dan berkorespondesi), membebaskannya dari pingitan (yang hanya dijalani Kartini 4 tahun), tidak memaksanya menikah, bahkan memberinya izin untuk bersekolah ke Belanda (meski tidak jadi berangkat). Selain kiprahnya yang sudah jamak diketahui seperti mendirikan sekolah wanita dan mengangkat nilai ukiran Jepara, Kartini juga pemikir yang gelisah. Hal ini dia tuangkan dalam berbagai tulisan ilmiah (sejak usia 16 tahun!). Sebagian besar ditulis dengan nama ayahnya dan nama samaran. Kegelisahannya juga tercurah melalui korespondesinya ke beberapa teman yang ternyata tak hanya Ny. Abendanon. Ada Estella -tokoh sosialis Belanda dan Ny. Ovink -isteri asisten residen Jepara. Total suratnya mencapai 361 pucuk surat (termasuk surat adik-adik Kartini). Yang dibukukan konon hanya sekitar 115 surat, wow... 

Buku ini jg mengungkap berbagai pandangan tentang kiprah Kartini. Sebagian pihak merasa Kartini adalah produk Belanda karena hubungannya yang intens dengan tokoh Belanda. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pemikirannya cukup radikal untuk perempuan pribumi pada masa itu. Ketika akhirnya Kartini menerima pinangan Bupati Rembang pun (padahal sebelumnya ia menentang pernikahan paksa), banyak pendapat diungkap tentang alasan Kartini. Mungkin karena rasa sayangnya pada ayahanda yang mulai sakit-sakitan (yang selama ini sudah memberinya banyak kebebasan di tengah pandangan sinis orang lain), atau bisa juga ia telah melihat tak selamanya pernikahan yang dijodohkan itu buruk (dari pernikahan 2 saudarinya yang bahagia), atau karena didorong oleh kekecewaan tidak jadi berangkat sekolah ke Belanda. Tak ada yang tahu pasti. Konon Bupati Rembang melamar Kartini karena wasiat almarhumah istrinya yang mengagumi Kartini. Terlepas dari berbagai pandangan tentang Kartini, kiprahnya di usianya yang hanya seperempat abad telah mendorong kebangkitan (kembali) kiprah perempuan Indonesia. Kok kembali? Ya, jadi menurut buku Kisah kisah Pahlawan Nusantara (kapan kapan direviu) diungkap bahwa sesungguhnya peminggiran kaum perempuan bukanlah budaya feodal Jawa melainkan pengaruh dari Belanda sendiri. Konon 100 tahun sebelum Kartini lahir, kiprah perempuan sudah lazim diakui contohnya nenek buyut Pangeran Diponegoro yang juga memimpin pasukan. Menarik ya...

Membaca buku ini membuat saya menyadari bahwa saya berbeda dengan Kartini😏. Kayaknya saya tidak mungkin seberani beliau, memiliki pemikiran yang berbeda. *saya tipe-tipe malas konfrontasi. Singkat kata, biografi membuka cakrawala pandangan kita terhadap kondisi zaman tertentu. Oke saya akan mulai membaca biografi, ga novel melulu. Karena ditulis oleh jurnalis, buku ini seperti reportase yang mengungkap berbagai sudut pandang tentang satu peristiwa. Rasanya seperti jadi detektif,  menduga-duga alasan dari tindakan sang tokoh. Hal ini berbeda dengan biografi ala novel yang pernah saya baca, dimana tidak ada perdebatan pandangan di dalamnya. Di dalam buku ini, juga menyebutkan banyak judul buku lain tentang Kartini sebagai referensi. Mungkin suatu saat kalau saya tertarik, akan saya baca. Mungkin...entah kapan hehe...

Review: Living Room No Matsunaga-san

Lama ngga nulis blog padahal banyak ide di kepala. Ya begitu kalau kerjaan sedang banyak jadi malas mau menulis hehe... Kali ini saya akan r...