4 Mar 2014

Resensi: Midnight in Austenland


Shannon Hale, Bloombury, 2012

Charlotte adalah wanita biasa. Ia bertemu dengan James, lalu menikah dan mempunyai dua anak yang sempurna. Ketika bisnisnya semakin sukses, ternyata kehidupan rumah tangganya mencapai titik balik. James meninggalkan Charlotte dan menikahi wanita itu. Hubungannya dengan anak-anaknya yang beranjak remaja pun tak berjalan mulus. Hingga suatu ketika, ia menemukan daftar "things to do before 30" di diary lamanya. Di antara sekian target, ia menuliskan "membaca novel Jane Austen" yang belum dilakukannya. Tak disangka ia menemukan penghiburan saat membacanya. Lalu ketika ia memutuskan "perlu" berlibur sejenak, destinasi pilihannya jatuh pada Austenland. Sebuah resort di Kent, Inggris di mana pengunjungnya dapat merasakan kehidupan di era Austen -rok lebar, korset dan berkuda- dan berperan menjadi orang lain bersama aktor di resort tersebut. Charlotte tak tahu apakah liburannya ini akan membantunya melihat lebih jernih segudang masalah yang dihadapinya atau malah akan semakin membuatnya terpuruk sebab hidupnya jauh dari kesempurnaan Austenland...

Buku ini adalah seri kedua dari serial Austenland. Tapi keduanya memiliki tokoh utama yang berbeda jadi membacanya tak perlu berurutan. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran saat membaca serial ini adalah penulisnya pasti sangat maniak dengan Jane Austen. Sampai-sampai tercipta ide tentang Austenland, suatu resort di mana pengunjungnya bebas berperan jadi yang ia mau dan hidup ala Jane Austen. Meski sempat lama membaca bagian awalnya -karena hidup Charlotte yang sedemikian miserable-, lambat laun cerita makin seru bahkan banyak kejutan di alur ceritanya. Seri kedua ini agaknya terinspirasi dari karya Austen, Northanger Abbey yang bernuansa gothic dan ada misteri-misterinya. Saya juga salut dengan tokoh utama karena ia tak melupakan anak-anaknya walau tengah 'berlibur sejenak' di Austenland. Novel ini membuat saya berpikir bahwa yang terjadi pada Charlotte juga bisa terjadi pada siapa saja, bahwa hidup memang selalu naik dan turun. Tapiiii...di balik semua itu pasti ada hikmah. Seperti halnya Charlotte, berlibur di Austenland ibarat menjauh dari pusaran badai sehingga ia bisa melihat dengan lebih jelas segala permasalahan hidupnya untuk kemudian berusaha memperbaikinya...^^

21 Des 2013

Ulang Tahun ke-6

Aiiih tak terasa sudah bulan Desember. Lama nian tak diapdet blog ini. Maklumlah kesibukan kerja ditambah mengurus anak kerap membuat saya tidak mood untuk menulis dan lebih memilih membaca hehe...
Anak semata wayangku akhirnya berusia 6 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya dan sudah menjadi tradisi sejak saya kecil ulang tahun tak lengkap rasanya tanpa hidangan nasi kuning. Hanya tahun kemarin saja saya tidak membuatkan nasi kuning karena menunggui utinya yang kala itu sakit. Setahun ternyata sebentar sekali ya... Tahun ini saya lebih pede dengan kemampuan masak saya hoho...*sombong. Urusan belanja dan memasak lauk (tahu kan nasi kuning lauknya banyak^^) saya tangani sendiri. Khusus nasi kuning saya subkontrak ke si mbak yang memang pintar bikin nasi kuning. Sayang karena sibuk masak plus  banyak acara di hari sabtu itu, saya jadi lupa motoin nasi kotaknya *halah...
Hanif di usianya yang ke-6 tambah pandai, meski saya koq merasa ni anak sedang suka melawan. Walau sudah dibilang tak boleh, tetap aja dilakukan ketika tak diawasi. Di sekolah laporan dari gurunya Hanif belum bisa menyelesaikan tugas tanpa bantuan shadow teacher. Padahal kalau di rumah bisa loh...meski masih pakai reward. Namanya juga anak-anak ya... Kadang masih ketawa-ketiwi, teriak meski tak sesering dulu daaan suka mencubit pipi!!! Hadoooh...ni gara-gara bapak sama emaknya suka gemes sama Hanif jadi ditiru sekarang. Alhamdulillah Hanif gemar membaca walau bacanya ngawur. Nunjuk tulisan di buku sambil ngoceh ngga jelas padahal dia sudah bisa membaca 2 suku kata. Suka menirukan iklan di tivi juga akibat sering nonton tv sama si mbak. Saya sebenarnya dilema punya mbak yang sayang sama Hanif tapi di sisi lain Hanif sering diajak nonton tv apalagi sukanya nonton Pesbuker-_- Soal sekolah...haah...saya sudah galau tingkat dewa nih. Intinya Hanif belum dapat sekolah...mungkin tar aja ceritanya kalau lagi mood. Hikmahnya beberapa minggu saya browsing dan hunting sekolah adalah saya jadi banyak baca artikel parenting yaaaang...sudah jarang banget saya lakukan sejak aktif bekerja. Rasanya jadi terpacu kembali untuk berusaha menjadi ibu yang lebih baik lagi. Selama ini saya akui Hanif agak terabaikan karena pulang ke rumah dalam keadaan yang sudah capek lahir batin. Malah sering terbersit rasa iri kalau melihat anak teman yang 'normal'. Astaghfirullah...padahal Allah pasti selalu memberi yang paling pas untuk umatNya dan saya tahu itu. Semoga segala sesuatunya akan ditunjukkan jalannya dan dipermudah... Amiiin... Semoga ibu bisa membimbingmu menjadi orang yang berguna bagi ummat, anakku sayang... Selamat milad Haniif xxx I love you

Hanif sekarang...setinggi tumpukan 15 dus makan

2 Okt 2013

Resep: Cilok




Sudah jadi kebiasaan saya dan Hanif kalau makan siomay, pasti tanpa bumbu kacangnya. Merusak rasa original siomay yang dari sononya udah enak (berkat msg yang entah seberapa banyak hehe...). Nah...akhir pekan lalu saya melihat ada bumbu kacang bawaan siomay di kulkas saya. Terpikirlah bikin cilok sebagai sarana menghabiskan bumbu kacang.
Bahannya:
250 gram tepung tapioka
250 gram tepung terigu
2 siung bawang putih, parut
1 sdt garam
1 sdt msg (haha ketahuan kan ini buat konsumsi emaknya)
1/2 sdt merica bubuk
400 ml air panas
Daun bawang, iris tipis

Cara membuat:
  1. Campur semua bahan. Masukkan air panas sedikit demi sedikit sambil diulen pakai spatula kayu (jangan sekali-kali pakai tangan...panas hehe). Hentikan penambahan air jika dirasa adonan sudah cukup kalis (lagi-lagi pakai perasaan). Pengalaman saya 400 ml air pas sampai kalis. Mengulennya memang agak ekstra (alot soalnya).
  2. Bulatkan sesuai selera dengan dua tangan. Boleh juga diisi potongan telur. Adonannya beda dengan adonan bakso, yang ini lebih liat. Sementara adonan bakso bisa dibentuk dengan mudah dengan telunjuk dan ibu jari.
  3. Didihkan air dalam panci, masak sampai mengapung dan tiriskan. Siap disantap hangat-hangat dengan bumbu kacang. Pakai abon cabe juga enak. 
Kali ini Hanif ngga makan. Selain agak alot (pas dingin), saya pakai msg agak banyak di adonan. Tapi koq rasanya ngga terlalu gurih juga ya. Asin samar-samar saja... Anyway...selamat mencoba.

27 Sep 2013

Resep: Steamed Patin in Pot



Pas ada ikan patin tapi ngga punya daun pisang dan kemangi. Jadilah masakan ini, Steamed Patin in Pot...alias Patin Kukus hehe... Meski rasanya ngga senendang pepes patin, patin kukus ini wuenak (dasarnya ikannya udah enak). Yang jelas proses mengolahnya juga jadi lebih singkat karena minus bungkus-bungkus pake daun pisang.

Bahan-bahannya:
600 gram patin potong (saya biasa beli yang sudah potongan, isinya 4 potong besar bagian badan patin)
3 lembar daun salam
4 lembar daun jeruk
2 batang sereh, geprek dan potong 5 cm-an
1 butir tomat, potong-potong
Bumbu halus:
5 butir bawang putih
3 butir kemiri
3 cabe kriting
2 cabe rawit
1/2 ruas jahe
1 ruas kunyit
Garam dan gula secukupnya

Cara membuat:
1. Cuci bersih patin. Uleg semua bumbu, jika memakai blender usahakan jangan menambahkan air (nah lo mana bisa? makanya diuleg aja hehe...)
2. Campur ikan, bumbu halus dan tomat dalam baskom, cicipi bumbu sampai rasanya pas. Diamkan 15 menit.
3. Letakkan sebagian daun dan sereh di dasar pinggan tahan panas, taruh ikan di atasnya dan tutup lagi dengan sisa daun dan sereh.
4. Kukus selama 30 menit. Angkat dan siap dimakan dengan nasi hangat. Hmmm...yummm...

Hasilnya jadi agak berkuah, tapi enak karena air berasal dari kaldu ikan. Makanya saya tidak menyarankan menambahkan air ketika menghaluskan bumbu karena rasa ikan akan menjadi hambar. Selamat mencoba.

17 Sep 2013

Resensi Buku: Nancy Drew Files #62: Easy Mark

Cover aslinya...jadul ya
Kali ini Nancy diminta oleh Harrison Lane, Anggota Komite Brewster Academy untuk menyelidiki pelaku 'pengubah nilai' di database sekolah. Kasus ini melibatkan putri ketua komite yang menjadi salah satu 'klien' dari pelaku. Awalnya Nancy berpikir kasus ini akan selesai dengan menyelidiki pemilik rekening di mana uang dari para klien ditransfer. Tapi ternyata identitas yang digunakan adalah milik seorang wanita tua sebatang kara dan telah meninggal. Sementara para 'klien' semuanya dikontak via akun email sekolah. Maka tak ada jalan lain bagi Nancy selain menyamar untuk dapat masuk ke sekolah sebagai tutor pelajaran tambahan. Salah satu murid tutornya adalah Victor Paredes, computer-freak yang bermasalah dengan nilai bahasa inggrisnya. Selain itu ada Miss Phyllis Hathaway yang merupakan kandidat kuat calon kepala sekolah tetapi tidak terpilih. Ada juga Dana MacCauley yang sepertinya sedang mengalami kesulitan keuangan di perusahaan komputer miliknya. Mereka berdua terlibat dalam membangun seluruh sistem komputerisasi di Brewster. Kecurigaan Nancy menjadi sedikit bias ketika ia mulai terlibat dengan Victor, yang menurutnya cukup menyenangkan sebagai teman.

Ini buku pertama Nancy Drew yang saya baca. Saya seringkali membaca namanya di serial Hardy Boys, yang bukunya ada di perpus sekolah saat saya SMA. Malahan saya lebih dulu menonton film-nya yang diperankan oleh Emma Roberts dan saya suka banget. Makanya sudah sejak lama pingin baca bukunya. Tapi ketika membaca yang ini, koq rasa-rasanya lebih dewasa ya. Setelah baca di wikipedia, ternyata memang Nancy Drew terdiri dari beberapa versi. Versi originalnya adalah Nancy Drew Story (usia pertengahan remaja). Sementara Nancy Drew Files yang saya baca adalah versi lebih dewasa. Agaknya Nancy sudah lulus sekolah, tapi memilih untuk tidak kuliah. Tentang alur ceritanya sendiri, saya cukup menikmati. Meski bila dibandingkan Lima Sekawan dan Trio Detektif, ceritanya ngga terlalu seru karena minus adegan penyanderaan dan ngga ada kejar-kejaran dengan penjahat (yang selalu ada di Lima Sekawan hehe..). Di sisi lain, ada cerita roman yang cukup membantu saya menikmati buku ini. Nancy diceritakan sudah jadian dengan Ned, tapi tetap ada saja yang naksir. Buku ini cocok dibaca oleh pemula bahasa inggris. Tak terlalu tebal dan bahasanya juga mudah. Mungkin lain kali saya akan membaca yang versi teen-nya.

Berikut beberapa gambar dari filmnya yang highly recommended untuk ditonton. Saya sampai punya vcdnya:p

Nancy "Emma" Drew...dengan baju vintagenya

Nancy and Ned

16 Sep 2013

Hanif dan Gadget

Sudah bukan rahasia lagi kalau Hanif sangat suka memainkan gadget, apapun! Mulai dari handphone, kamera digital, tab dan laptop. Mungkin tak hanya Hanif saja, hampir semua anak rata-rata juga suka dengan gadget. Hanya saja untuk Hanif, hal ini sedikit banyak turut mempengaruhi perilakunya. Seperti berteriak-teriak menirukan suara karakter angry birds atau yang terkini adalah lari-larian tanpa henti akibat game Subway Surfer. Sisi positifnya (walau ngga banyak) adalah ia semakin berani bereksplorasi -yang beberapa kali berakhir dengan kerusakan -_-. Gadget juga seringkali saya jadikan reward alias iming-iming agar Hanif mau melakukan apa yang saya minta. Saat ini porsinya berinteraksi dengan gadget jauh berkurang. Ini saya lakukan atas pertimbangan dari guru dan terapisnya. Alhasil HP dan netbook saya pun boring alias ngga diisi game macem-macem...biarlah demi anak. Nah...kali ini saya ingin memejeng (bahasa apaa ini?) foto-foto Hanif dan gadgetnya. Cekidot!

1. Hanif dan Laptop



Hanif kecil (7 bulan) suka menirukan ayahnya di depan laptop. Berlagak pura-pura mengetik, padahal yang ada keyboard digebrak-gebrak. Hasilnya notebook tecra yang setia menemani saya sejak kuliah pun afkir dengan keretakan pada keyboardnya.  Heleuh... Kalau yang ini, Hanif sekarang dengan netbook HP saya lengkap dengan headset. Dia sudah mahir menggunakan mouse bahkan bisa mencari sendiri lagu atau video yang disukanya.


2. Hanif dan Handphone




Dari bayi Hanif sudah suka kutik-kutik handphone. Yang lebih lucu lagi, saat saya baru ganti HP samsung (S3 mini) tiba-tiba ada telepon masuk, saya kebingungan belum tahu cara mengangkat panggilan, lalu Hanif yang ada di sebelah saya dengan santainya men-swipe gambar telfon hijau di layar HP. Jiah...anakku lebih jago rupanya hehe... Alhamdulillah untuk HP masih awet meski kadang Hanif suka melemparnya (lagi-lagi gara-gara Angry Birds).

3. Hanif dan Digital Camera




Suatu ketika si ayah iseng mengutak-atik kamera DSLRnya di rumah. Hanif kontan saja tertarik. Daaan...seperti biasanya kamera pocket Canon milik saya lah yang dikorbankan untuk memuaskan keingintahuan Hanif. Lihat saja gayanya mengoperasikan kamera lengkap dengan tripod. Alhasil, hari itu juga kamera saya langsung rusak. Gimana engga, dihidupin dimatiin berkali-kali. Bahkan setelah dimatikan dan lensanya belum masuk sempurna, sudah dihidupkan lagi. Namanya anak-anak dikasih tahu teteup aja. Hiks...

4. Hanif dan Galaxy Tab



Kalau yang ini, baca ceritanya di sini dan di sini. Samsung GT-1000 ini memang bandel. Bahkan berkali-kali dilempar oleh Hanif (paling jauh pernah sejauh 4 meter), tetap bisa beroperasi meski kadang lemot. Tapi overall gadget ini masih berfungsi dengan baik. Posisinya sedikit terlupakan dengan adanya S3 mini haha... Kalah pamor. Mungkin Hanif sudah bosan juga.


5. Hanif dan DVD Player


Hanif suka sekali nonton VCD. Tapi hanya di bagian-bagian tertentu. Jadi ia kerap mem-fast forward atau me-rewind untuk melihat bagian yang disukanya atau dianggapnya lucu berulang-ulang. Diperlakukan seperti itu tiap hari, rusaklah DVD player doorprize saat gathering kantor 3 tahun lalu. Sepertinya optiknya harus diganti tapi saya tunda dulu sampai Hanif mengerti bagaimana merawat barang-barang di rumah. Haaah...emaknya jadi 'libur' nonton DVD.



31 Agu 2013

Resep: Nugget Tempe


Sapu-sapu dulu... Sebulan ngga ditengok ni blog. Harap maklum kesibukan ramadhan, lanjut mudik dan langsung digempur oleh kerjaan kantor plus bimbingan laporan mahasiswa. Fiuh... Mumpung masih bulan syawal tak lupa saya mengucapkan met idul fitri minal aidin wal faizin amiin. Mohon maaf lahir dan batin.
Postingan kali ini tentang resep yang rasa-rasanya sudah lama banget ngga posting hasil eksperimen. Saya masih menyempatkan diri untuk masak makanan di pagi hari. Tapi yang standar saja sayur dan lauk. Beberapa waktu lalu iseng browsing resep, ketemulah resep nugget tempe (entah di blog siapa lupa, insya Allah pahalanya tetap dihitung Allah karena sudah menginspirasi saya hehe...).
Bahan:
Sepotong tempe (kurleb 200 gram)
Ayam kurleb 100 gram
1 butir telur
Setengah batang wortel (lebih banyak juga boleh)
3 biji bawang merah
2 siung bawang putih
Merica secukupnya
Garam secukupnya
Air atau susu cair secukupnya
Larutan tepung (untuk pencelup)
Bread crumbs aka tepung tempura (saya pakai mama suka)
Cara membuat:
1. Haluskan tempe dengan ulekan dan cincang ayam fillet. Campurkan keduanya dengan telur, wortel parut,bawang yang telah dihaluskan (kalau saya diparut, males ngulek), garam dan merica. Tambahkan air atau susu bila teskstur masih belum homogen alias menyatu. Bagusnya pake food processor ya tapi berhubung ngga punya ya seadanya. Jika terlalu cair, don't worry tambahkan saja tepung terigu sampai mendapatkan adonan yang pas (pake perasaan aja, masak ya kayak gitu apa2 pake perasaan -_-'). Ohya, jangan lupa cicipi.
2. Tuang adonan ke loyang atau wadah tahan panas yang sudah dilapisi plastik. Tekan-tekan supaya padat. Hal ini penting karena adonan yang tidak padat akan membuat nugget mudah patah. Kukus selama 15 menit.
3. Angkat dan dinginkan sampai benar-benar dingin kalau perlu masukkan kulkas. Setelah dingin potong sesuai selera dan simpan dalam kulkas.
4. Ambil nugget secukupnya, celupkan dalam larutan tepung dan air (jangan terlalu cair ya) lalu gulingkan di tepung tempura. Sisihkan. Setelah selesai goreng dalam minyak panas dengan api sedang sampai kecoklatan. Hidangkan.
Hasilnya cukup memuaskan. Enak dan Hanif suka. Sekali bikin bisa untuk cemilan sekaligus lauk. Selamat mencoba.
Hasilnya 10 biji @seukuran dobel finger (agak kegedean sich).

Review: Living Room No Matsunaga-san

Lama ngga nulis blog padahal banyak ide di kepala. Ya begitu kalau kerjaan sedang banyak jadi malas mau menulis hehe... Kali ini saya akan r...