18 Okt 2026

Musikal Mar

view dari kursi terdepan balkon atas

Setelah pertengahan tahun lalu perdana nonton Musikal Keluarga Cemara, saya selalu ingin menonton musikal lagi. Qadarullah beberapa kali ada musikal belum rejeki nonton, entah karena bertepatan dengan acara keluarga atau telat tahunya jadi tinggal seat yang mahal hehe... Alhamdulillah bulan Mei lalu ada Musikal Mar yang digelar oleh rumah produksi yang sama dengan Musikal Keluarga Cemara dan waktunya pun pas setelah periode penilaian akhir semester. Ceritanya ini self reward ya. Tempatnya di Ciputra Artpreneur sama juga dengan yang lalu. Namun kali ini sy ambil seat di balkon atas, viewnya penuh walau berjarak agak jauh dari panggung, tetep sih beli yang paling murah ^^.

Musikal Mar ini berkisah tentang kisah romansa antara Sersan Mayor Marzuki dan Perawat Aryati dengan latar belakang peristiwa Bandung Lautan Api. Kisah dibuka dengan Aryati masa depan yang bertutur tentang kisahnya pada cucunya. Mulai saat perkenalan antara Sersan Mayor Mar yang ganteng tapi awkward dengan Suster Aryati yang cantik di warung Ambu, kemudian mereka terpaksa menjalani hubungan jarak jauh saat Mar dipindahtugas ke Yogyakarta, keduanya bertemu kembali di Jakarta, pulang dan menikah di Bandung sampai terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Sepanjang pertunjukan diiringi dengan koreo apik dari lagu-lagu Ismail Marzuki. Oh iya musikal ini adalah tribute untuk komposer Ismail Marzuki walau saya agak heran kenapa lokasinya tidak di TIM.

Kali kedua nonton musikal memberikan pengalaman yang berbeda dengan pertama kalinya. Selain viewnya lebih penuh, genre ceritanya kali ini romansa dan lagunya lagu-lagu nostalgia. Lagu favorit saya adalah Payung Fantasi. Kalau adegan yang paling saya suka adalah semua scene di Warung Ambu yang ceritanya jadi tempat nongkrong muda mudi kala itu. Lucu aja meski kadang ada bagian yang saya tak paham karena berbahasa Sunda. Interaksi Mar dan Aryati juga bikin gemes di awal perkenalan, karena cowoknya kaku kayak kanebo kering sementara ceweknya malu-malu kucing. Adegan peristiwa Bandung lautan api divisualisasikan dengan megah menggunakan tirai transparan memproyeksikan kobaran api. Ceritanya sad ending ya (maaf kalau spoiler), namun ternyata tak sampai membuat saya terbawa perasaan. Padahal cewek-cewek di sebelah saya banyak juga yang nangis. Entah mungkin karena alurnya sudah terlalu familiar -bukan berarti ga menarik ya-. Somehow agak mengingatkan saya tentang cerita masa lalu Diana (Wonder Woman) juga kisah Candy Candy yg juga jadi perawat saat perang. Mungkin juga saya sibuk kagum dengan pergantian setting panggung yang terlihat sangat jelas dari balkon. Bagaimana warung bisa dibolak balik jadi rumah sakit, ditambah dinding jadi stasiun, jadi tempat pengungsian. Keren banget. Pengalaman kedua di Ciputra Artpteneur ini membuat sy menyadari bahwa sound di sini sedikit kurang jelas, beberapa kali obrolan pemainnya kurang bisa saya tangkap sehingga saya harus ekstra fokus jika percakapannya agak panjang. Namun saya cukup puas menonton Mar kali ini meski harus keluar rumah selama total 6 jam (berangkat jam 1 siang, tiba kembali di rumah jam 7 malam). Kalau pertunjukannya saja berlangsung dari jam 14.40 sampai dengan 17.10 dengan jeda 20 menit (jam 16.00-16.20). Kalau ditanya lebih suka mana Mar atau Keluarga Cemara, saya lebih suka Keluarga Cemara sih karena lagu-lagunya lebih sesuai selera saya.

scene di warung Ambu

scene di rumah sakit

scene di stasiun

the wedding

visualisasi Bandung Lautan Api

mengabadikan jalan terjal menuju balkon atas wkwk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resep Gyoza Juicy

Hanif sangat suka gyoza. Sebetulnya saya cukup sering membuatnya, namun menggunakan adonan yang sama dengan dimsum. Beda di kuli...