Resensi: Satine dan Langit Mengambil

Ika Natassa, 2024 dan 2025
Gramedia Pustaka Utama

Sejujurnya saya terlalu malas untuk membuat postingan berbeda untuk dua novel karya Ika Natassa. Satine terbit di tahun 2024. Saya baru membacanya di tahun 2025 akhir setelah membelinya di awal tahun 2025. Sementara Langit Mengambil terbit di awal tahun 2026. Kali ini saya bahkan ikutan PO bukunya yang plus merchandise. Begitulah minat baca saya akhir-akhir ini, kadang giat, seringnya malas. Lebih memilih untuk tidur atau membaca webtoon yang lebih singkat. Ternyata saya tak ada bedanya ya dengan penggemar dracin hehe...lebih suka short escape.

Oke...kita mulai dari Satine. Berkisah tentang Satine, seorang bankir yang punya segalanya, kecuali jodoh. Dari sini bisa tertebak ya ke mana arah ceritanya. Satine bertemu dengan Ash melalui dating agency. Keduanya bersepakat untuk contract dating pada awalnya, namun berkembang menjadi lebih dalam karena Satine dan Ash adalah dua orang yang membawa luka pengasuhan. Satine yang selalu dituntut sempurna, Ash dengan trauma kekerasan domestik. 

Sementara itu Langit Mengambil bercerita tentang Tara, jurnalis investigasi, yang kehilangan segala setelah insiden penculikan yang dialaminya saat bertugas melakukan penyelidikan terhadap sindikat judi online. Insiden tersebut berdampak pada orang-orang di sekitarnya, termasuk Raka suaminya.

Dua novel ini depressing wkwk. Tapi Satine lebih mudah dibaca alias lebih ringan konfliknya dibandingkan Langit Mengambil. Ketika membaca Satine, saya merasa relate dalam hal rasa kesepian dalam keramaian yang dialami Satine. Wanita yang berkarir akan merasakan hal yang sama saat sebagian besar temannya sudah menikah sementara ia belum. Masalah komunikasi anak dengan ortu pun terasa familiar, urusan komunikasi memang tak semudah teori di perkuliahan. Membaca Satine ini masih terasa vibe Ika Natassa banget, background bankir, wanita karir yg chic ditambah pengetahuan baru tentang art -yang menjadi kesukaan tokoh Ash-.

Dalam Langit Mengambil, bisa dibilang sangat berbeda. Di sini tema coping with traumatic event sangat mendominasi. Sepanjang novel banyak monolog yang dilakukan Tara dan Raka. Saya sampai merasa stress sendiri, menyimak bagaimana Tara menolak semua orang, berpura-pura baik-baik saja sampai akhirnya mulai membuka diri. Bahkan saya pun bisa memaklumi ketika Raka seperti menemukan nyaman ketika bertemu dengan 'old fling' karena kesehariannya sudah lelah mengikuti sandiwara Tara. Ada porsi misteri di novel ini terkait investigasi Tara, tapi terasa nanggung krn tidak mendalam dan sudah berat di porsi tragedinya. At the end, saya jadi belajar dari peristiwa Tara bahwa ketika menghadapi pihak yang coping with trauma, harus banyak sabaar, menunggu dan berserah pada Allah, sang Maha Pembolak balik Hati. Udah gitu aja...^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Spectrum Education and Treatment Centre

Review Mesin Jahit Brother JS1410

Rental Buku di Bintaro