27 Sep 2011

Bolu Kukus Mocaf


Hasil uji coba berbagai resep non terigu untuk cemilan Hanif, ini dia salah satunya yang berhasil. Masih pake gula sih...yah sekali-kali:p. Pernah coba pakai gula stevia ngga bisa ngembang:(. Resepnya saya dapat dari milis NCC, diposting sama mbak Indrawulan (thx banget ya mba). Saya modifikasi sedikit dengan memperbanyak tepung maizenanya karena kalau pakai resep asli, bolkusnya agak keras. Baking powder juga saya hilangkan sebab membuat bokus jadi terlalu banyak remah. Ini resepnya:
100 gram gula pasir
60 gram tepung mocaf
60 gram tepung maizena
1 butir telur
1/2 sdt TBM
75 ml air
Pasta pandan/mocca secukupnya
Vanili secukupnya
Cara membuat:
1. Kocok telur, gula, setengah bagian TBM dan vanili sampai adonan mengembang dan licin.
2. Masukkan tepung dan air secara bergantian, sambil dikocok dengan kecepatan rendah.
3. Masukkan sisa setengah bagian TBM dan kocok dengan kecepatan tinggi selama kurleb 7 menit.
4. Campur pasta mocca sesuai selera dan masukkan adonan ke dalam cetakan.
5. Kukus selama kurleb 10 menit.
Tips:
Jangan terlalu penuh ketika mengisi air panci kukusan dan pakai api yang agak besar agar uap yang dihasilkan banyak dan bolunya mekar.
Bolkus dapat disimpan di kulkas hingga 3 hari, dan dikukus kembali ketika hendak dihidangkan.
Untuk 10 buah (pake cetakan bolkus yang C)

Libur Panjang


Sejak lulus kuliah, saya tidak pernah pulang ke rumah orang tua lebih dari 10 hari. Iyalah jatah cuti setahun maksimal 12 hari, belum kalau dipotong cuti bersama. Tapi lebaran kemarin saya dan Hanif mudik ke kampung hampir sebulan!!! Pertengahan ramadhan kami berdua sudah bertolak ke Maos, Cilacap. Untunglah setelah pensiun, ayah saya memutuskan untuk pindah ke Maos, kampung kelahirannya, dan menjual rumah kami di Kediri. Jadi mudik pertama saya berdua dengan Hanif jadi lebih dekat, hanya 6 jam perjalanan dengan kereta api. Alhamdulillah, Hanif cukup tenang selama perjalanan meski saya tetap meminta bantuan tetangga untuk mengantar ke stasiun Gambir. Bawaannya banyak hehe....
Liburan di desa membuat Hanif banyak bereksplorasi alias ngider melulu. Bagaimana tidak kebun luas dan rumah padhe-budhe gede-gede. Ditambah lagi dietnya yang ngga terkontrol membuat Hanif seperti kelebihan energi bangun jam 6 pagi dan tidur larut jam 12 malam. Bahkan Hanif sempat hilang beberapa kali. Seringnya keluar dari rumah ngga ketahuan. Rumah di desa mana ada yang berpagar, akses ke belakang dan samping kiri kanan terbuka. Untung selalu ketemu, entah di rumah saudara atau tetangga. Tapi tetep aja saya kebat kebit, takut nyampe jalan raya yang jaraknya hanya 150m dari rumah mbahnya. Bergaul dengan sepupunya juga menambah kosakata Hanif, terutama nama makanan pantangannya seperti: es krim, bakso, mi, permen. Haha...saya seneng tapi juga pusing. Mudah-mudahan setelah tambah besar, Hanif akan lebih mudah diberi pengertian tentang pantangannya.
Liburan ini juga kesempatan bagi saya untuk birul walidain. Ibu saya kena stroke sejak 2007 silam dan sekarang keadaannya sulit berjalan, bicara tidak jelas dan sering menangis. Tapi ibu saya masih bisa mengingat dengan baik nama teman-teman sekolah saya dan resep masakan yang diinginkannya. Apalagi ketika menjelang lebaran pembantu yang biasa merawat ibu dan masak minta libur seminggu, otomatis sayalah yang mencuci, masak dan merawat ibu. Alamaak...bener2 ujian kesabaran. Saya yang ngga biasa bangun pagi hehe...harus bangun pagi nyuci, memandikan ibu lalu Hanif, masak, menemani Hanif main, dan tidur larut gara2 Hanif ngga tidur-tidur. Hanif yang ngga tahan dikurung di dalam rumah sering kabur tiap ada orang yang buka pintu. Karena jengkel, saya marahi Hanif eh...yang nangis bukan hanya Hanif, ibu saya juga ikut nangis. Begitulah setiap Hanif nangis, mbah utinya ikutan nangis. Ya...mungkin ibu saya merasa nelangsa kali ya ngga bisa belain cucu. Tapi kan namanya anak2 dilarang ini itu pasti nangis, saya jadi bingung kalau Hanif dan utinya sedang kontes menangis. Dan kalau ada pepatah “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”, baru saya rasakan sekarang. Sesabar-sabarnya meladeni ibu, kadang masih muncul jengkel di hati meski tidak keluar kata-kata ketika ibu dilarang makan pantangannya tapi malah nangis atau baru diganti bajunya tapi ngompol lagi. Saya jadi sadar kalau stok sabar saya ternyata tipis banget. Kalau sudah begitu, biasanya saya inget2 aja ibu sudah ribuan kali gantiin popok saya, nyuciin baju saya, piring bekas makan saya, masakin apa yang saya mau, bergadang waktu saya sakit bahkan sering saya muntahin tiap kali naik bis AKAP. Jadi kalau cuma begini aja sih, masih ngga ada apa-apanya yang saya lakukan dibandingkan dengan yang sudah ibu lakukan selama 28 tahun hidup saya.
Yah, liburan kali ini walau capek tapi senang bisa sedikit nyenengin orang tua meski belum maksimal. Hanif pulkam jadi tambah gemuk dan item kata tetangga hehe...iyalah makannya sembarangan dan main mulu. Insya Allah liburan sekolah Desember mendatang mudik ke Maos lagi...horeee....

20 Sep 2011

Pergi ke Pantai Ayah

Libur lebaran kemarin saya dan Hanif sempat pergi ke Pantai Ayah sama Mbah Kung. Hanif seneng banget bahkan sampai dua kali nyebur. Sayangnya waktu Hanif berenang ngga ada fotonya, karena Mbahnya kurang neken tombol shutter kameranya. Maklum biasa pegang kamera manual, tiba-tiba pegang yang digital...jadi gaptek deh hehe... Baru nyadar waktu slesai berenang, alhasil fotonya cuma pas terakhir aja. Waktu jalan-jalan di jembatan dan naik perahu.... Foto dengan Mbah Kung pun ngga ada karena lupa ganti baterai kamera jadi baterainya keburu habis:p

Hiks...lagi-lagi minta es krim...

16 Agu 2011

Mengirim Kartu Lebaran

Hanif belajar mengirim kartu lebaran di sekolah. Kartunya dibuatkan ibu guru, nantinya anak-anak tinggal menempelkan perangko dan mengeposkannya ke Pak Pos yang datang ke sekolah. Kartunya dialamatkan ke mbah di Maos.

Mengantri dengan tertib untuk membeli perangko. Hanif ngga sabaran...jadinya nomor satu beli perangkonya.

Dibantu ibu guru menempel perangko....


Usai memasukkan surat ke kotak pos...

Update 7 September 2011: kartunya baru nyampe, soalnya alamatnya kurang jelas hehe...*salahkan emaknya Hanif!!

13 Agu 2011

Autism is Treatable

Saya pertama kali melihat spanduk tentang buku karangan Kak Kresno ini bukan di toko buku atau pameran buku, tapi malah di stand media pameran kreasi anak bangsa yang digelar Kementerian Perdagangan berbarengan dengan Pesta Buku Jakarta bulan lalu. Saya langsung tertarik dan berpikir ‘ini buku terbitnya kapan? Koq sama sekali ngga ngelihat di pameran buku?’. Saya coba cari di ECC Bintaro pun tidak ada. Saking kepinginnya, akhirnya saya beli buku ini secara online.
Buku yang diterbitkan Elex Media ini ditujukan untuk orang-orang yang peduli terhadap autisme, khususnya para orang tua yang dianugerahi anak-anak spesial. Isi buku secara garis besar adalah step-step bagaimana meyakinkan orang tua bahwa autisme bukanlah akhir dunia dan ‘autisme dapat diterapi’. Hal ini menjadi penting karena orang tua adalah kunci utama keberhasilan terapi pada anak autis. Sering kali yang terjadi adalah orang tua terlambat mengenali gejala, bersikap defensif terhadap diagnosis psikiater dan merasa terbebani dengan keberadaan si anak spesial. Penjabarannya terbagi atas 17 bab, yang dianjurkan untuk dibaca 1 bab per hari agar dapat lebih dihayati dan direnungi sehingga diharapkan dalam 17 hari (atau 3 minggu) orang tua dapat bersikap lebih positif dalam menangani buah hatinya. Makanya di cover buku ini tertulis ‘3 pekan menuju keberhasilan terapi’.
Bab-bab awal buku ini menjelaskan tentang pentingnya deteksi dini dan menegaskan bahwa spektrum autis sangatlah ‘luas’. Autis tidaklah selalu identik dengan antisosial dan obsesi berlebihan terhadap sesuatu. Anak-anak dengan spektrum autis ringan, gejalanya sangatlah samar dan bisa jadi penanganan menjadi terlambat jika orang tua tidak aware. Kecurigaan orang-orang sekitar akan buah hati kita hendaknya dipandang positif sebagai ‘early warning’ yang harus segera ditindaklanjuti. Bab-bab selanjutnya adalah bagaimana membangun mental dan semangat orang tua. Saya suka pembalikan paradigma yang diuraikan Kak Kresno. Tidak sembarang orang bisa jadi menteri karena tidak semua orang bisa melakukan tugas seorang menteri. Ketika terpilih jadi menteri, pasti dong bangga. Lalu kenapa kita tidak bangga punya anak autis? Allah tak memilih semua orang jadi orang tua anak autis karena tidak semua orang bisa. Allah menobatkan para orang tua terpilih karena mereka mampu. Selama ini stigma yang ada di masyarakat adalah kalau ada apa-apa dengan anak, orang tuanya yang salah. Jadi seringkali autisme dipandang sebagai hukuman. Buku ini mengajak kita melihat autisme sebagai tantangan yang insya Allah bisa ditaklukan karena Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan hambaNya. Dengan bahasa yang mudah dicerna, buku ini memberikan suntikan semangat dan energi positif pada diri saya. Bahkan saya menjadi berani bermimpi lebih tinggi untuk Hanif. Jadi para orang tua, pendidik dan siapa saja yang peduli autisme, bacalah buku ini dan mari percaya bahwa ‘Autism is Treatable’. Coba buku ini ada dari dulu-dulu yaa...

12 Agu 2011

9,10,11

Adalah suatu kebetulan jika buku fiksi yang saya baca bulan ini membentuk urutan angka. 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setyawan dan 11 Patriot-nya Andrea Hirata. Tanpa disengaja membacanya pun berurutan hehe... P
Buku yang pertama sa ya dapatkan dari seorang teman sebagai hadiah ultah. Yang bersangkutan tahu benar bahwa tak ada hadiah lain yang paling saya suka selain buku, sampai-sampai dengan lihainya bertanya pada saya ‘apa saya pernah baca 9 Summers 10 Autumns’. Ketika saya jawab ‘belum, emang kenapa?’, alasannya ‘kata temen bagus, penasaran pengen baca’ dan saya ngga ke-geer-an sama sekali kalau mau dikasih kado hehe... 9S10A, kita singkat saja demikian (kayak nama boyband korea ya), adalah novel pertama dari Iwan Setyawan. Ceritanya tentang seorang anak sopir angkot di Malang yang akhirnya bisa melanglang buana sukses menjadi Manajer di New York City. Iwan, dengan gaya flash back, diceritakan berkisah pada orang ketiga tentang hidupnya dari masa kecil hingga tiba di NYC. Karena itu judulnya 9S10A, selama itulah Iwan tinggal di New York dan ‘curhat’ kepada seorang anak kecil berseragam merah putih. Menurut saya, anak kecil ini mungkin representasi dari jiwa kanak-kanak Iwan yang selalu merindukan rumah. Awalnya saya mengira akan mendapatkan kisah dramatis pencapaian sukses seorang anak kampung sebagaimana Negeri 5 Menara dan Laskar Pelangi. Ternyata yang lebih menonjol di buku ini adalah ‘kehangatan keluarga’. Meski keluarganya bukan keluarga yang ‘sempurna’, kasih sayang dan pengorbanan satu sama lain-lah yang menjadikan setiap anak di keluarga Iwan meraih suksesnya masing-masing. Kehangatan itu juga membuat Iwan akhirnya memutuskan cukup selama sembilan musim panas dan sepuluh musim gugur saja, ia berada di benua yang berbeda dengan keluarganya.

Buku berikutnya saya beli di Pekan Buku Jakarta yang lalu. Satu-satunya buku yang saya beli hehe... Pengiritan. Novel ketujuh Andrea ini tipis sekali jika dibandingkan novelnya yang lain. Makanya saya bilang ini appetizer sebelum main course novel Andrea yang kedelapan ‘Ayah’. Novel ini berkisah tentang kecintaan Ikal terhadap sepak bola yang disebabkan oleh masa lalu sang ayah. Sayangnya ambisi Ikal menjadi pemain timnas terpaksa kandas, barulah kemudian ia beralih ke bulutangkis sebagaimana dikisahkan di novel sebelumnya. Gagal mewujudkan mimpi sang ayah membuat Ikal berjuang mendapatkan kaos ‘Figo’ –pemain favorit ayahnya- saat petualangan backpacker keliling Eropa bersama Arai. Kocak dan lucu sekaligus mengharukan –khas Andrea Hirata. Oh iya, novel ini ada CD lagunya loh. Ciptaan Andrea sendiri, hebat eui. Saya salut dengan Andrea. Saya selalu berpikir bahwa penulis fiksi yang didasarkan dari kisah hidupnya sendiri akan jadi ‘mandeg’ ketika cerita telah sampai pada titik di mana ia hidup saat ini. Tapi Andrea tidak, malah ia berhasil memunculkan banyak tokoh dari kisah hidupnya tanpa terlalu menonjolkan Ikal sendiri. Ngga berkesan pamer gitu hehe... Bahkan ia tidak sungkan-sungkan membuat Ikal terlihat konyol seperti di novel dwiloginya yang lalu –sampai2 saya jengkel bacanya-. Yah...walau berawal dari zero to hero, hero tak selamanya jadi hero terus kan? Hehe...ngga nyambung. Garis merah dari bacaan saya kali ini adalah ‘the power of family’ –halah:p. Jadi pengen pulaaang...

The Joy of July

Bulan Juli lalu adalah bulan yang membahagiakan. Haha...karena si ayah pulang liburan selama 1 bulan. Ya...kami berdua memang ditinggal di Indonesia, sementara si ayah berjuang menyelesaikan S2nya di Australia. Sebenarnya awalnya kami berencana untuk menyusul di tahun 2011 ini, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Hanif adalah prioritas kami sekarang. Demi keberlanjutan terapinya, akhirnya saya dan Hanif tetap tinggal di Indo. Toh tinggal setahun ini.

Kepulangan si ayah kali ini ternyata membuat Hanif senang, ibunya juga sih hehe... Ada beberapa perubahan yang nyata dibandingkan kepulangan ayahnya yang lalu-lalu. Jika sehari-harinya Hanif tidur dengan saya, ketika ada ayahnya ia hanya mau tidur dengan ayahnya. Bahkan saya masuk kamar untuk mengambil baju pun tidak boleh karena dikiranya saya mau tidur di kamar hehe... Saat saya harus pergi sendiri tanpa si ayah, Hanif kebingungan dan nangis harus ikut ibu atau tinggal di rumah dengan ayah. Padahal sebelumnya kemana pun saya pergi, Hanif pasti ngikut. Perkembangan terapinya pun membaik, ia lebih enjoy. Satu lagi perubahan yang kentara, Hanif tambah gemuk. Gimana engga, si ayah camilannya banyak hehe... Alhamdulillah, ternyata meski ditinggal lama bonding ayah dan anak tetep ada. Padahal kalau lagi ‘nonton ayah’ –istilah Hanif untuk komunikasi via Skype dengan si ayah-, ia harus ditarik-tarik untuk sekedar bilang ‘hallo ayah’. Setelahnya langsung ngacir. Untungnya liburan kali ini timingnya juga pas dengan awal masuk sekolah. Setidaknya saya tidak sendirian menjalani orientasi sekolah dan wawancara dengan pihak sekolah Hanif. Kami juga tidak pergi ke mana-mana selama sebulan itu. Selain sibuk dengan persiapan sekolah Hanif –orientasi, wawancara, sosialisasi kegiatan-, kami cuma sempat ke pesta buku jakarta dan mengunjungi pameran kreasi anak bangsa di JCC.

Bulan Juli yang menyenangkan. Semoga Agustus sampai Desember ini berlalu dengan cepat dan si ayah juga lancar menyelesaikan kuliahnya, jadi cepet pulang. Moga-moga juga bisa penempatan Jakarta. Haha...berharap boleh kan?. Amiin..

Review: Living Room No Matsunaga-san

Lama ngga nulis blog padahal banyak ide di kepala. Ya begitu kalau kerjaan sedang banyak jadi malas mau menulis hehe... Kali ini saya akan r...