4 Des 2012

Rental Buku di Bintaro

Dulu saya hampir tak pernah melewatkan setiap event book fair, kini sebaliknya saya hampir tak pernah lagi ke book fair. Pertimbangannya banyak, selain penghematan budget membeli buku, kadang diskon yang didapat impas dengan cost perjalanan saya menuju lokasi book fair, dan kecenderungan perempuan (saya maksudnya) gelap mata kalau lihat diskon padahal bukunya ngga perlu banget. Jadilah buku menumpuk di rumah tanpa sempat terbaca dengan alasan sibuk ngantor, ngurus anak, dll. Kini saya berusaha lebih bijak terhadap passion buku saya, apalagi kenyataannya saya tak sebebas dulu dalam membelanjakan uang. Akhirnya mulailah saya kembali pada persewaan buku, hal yang dulu sangat akrab dengan akhir pekan saya di masa SMU. Ada dua tempat persewaan buku di Bintaro yang lumayan sering saya sambangi dan akan saya review di tulisan ini.

Yang pertama adalah Elex Comic Center. Dulu lokasinya di Ruko Multiguna, Bintaro sektor 3A tapi sejak setahun lalu pindah ke Ruko Kebayoran Arcade. Dari namanya tadinya saya pikir toko komik. Ternyata tak sepenuhnya salah, ECC adalah toko buku merangkap rental. Lantai 1 khusus menjual komik, lantai 2 menjual buku selain komik dari berbagai penerbit, dan rental bukunya ada di lantai 3. Untuk jadi member, syaratnya isi formulir dan bayar 50 ribu (10 ribu pendaftaran, 40 ribu deposit sewa). Kelebihan ECC adalah koleksi komiknya lumayan lengkap terutama komik-komik baru, kadang tiap jilid sampai ada 2 buku untuk komik yang diminati. Member juga mendapat diskon 10% tiap pembelian buku di ECC, pada event khusus (biasanya akhir bulan pas lagi bokek) diskonnya bisa sampai 30%. Ada juga fasilitas baca di tempat (sampe puas) dengan membayar 7.500 untuk member dan 15.000 untuk nonmember. Trus yang enak lagi, kadang kita bisa request novel baru untuk disewakan. Biasanya akan langsung dikabulkan kalau bukunya terbitan Gramedia grup, tinggal ambil di lantai bawahnya kan. Kekurangannya mungkin lokasinya yang jauh dan koleksi novelnya juga tak terlalu lengkap, masih kalah banyak dengan komiknya. Harga sewanya 13% dari harga beli buku dan dendanya 30% dari harga sewa per hari. Lama sewa maksimal 7 hari.

Rental buku yang kedua adalah Beebook, terletak di Jalan Bintaro Permai Pondok Betung. Adanya di pengkolan sebelum tempat futsal dan brimob (kalo ngga salah haha...ngga jelas ya). Tokonya nyempil di pojokan, kayaknya sudah ada sejak saya masih kuliah deh. Cuma baru saat saya di rumah ini, saya sempetin ke sana. Meski tempatnya kecil, koleksi novelnya lumayan lengkap. Pemiliknya ibu-ibu seumuran ibu saya, beliau kerap merekomendasikan buku apa saja yang bagus. Kadang beliau belum baca tapi anaknya sudah baca katanya. Pantesan koleksinya bagus-bagus dan up to date, ternyata yang punya demen baca juga. Syarat pendaftarannya cuma fotokopi KTP dan bayar 10 ribu untuk selain pelajar dan pelajar bayar 5 ribu. Kelebihan Beebook tentu koleksi novelnya yang beragam dan up to date, lalu pemiliknya yang friendly dan pandai merekomendasi. Kekurangannya koleksi komiknya ngga terlalu banyak, malah saya lihat banyak komik lama tapi ada juga yang baru. Harga sewa novel antara 4 ribu sampai 10 ribu, lama sewa 7 hari (walau tertulis 3 hari). Belakangan baru saya tahu kalau sewa novelnya banyak, ternyata lama waktu sewanya bisa lebih panjang lagi. Tapi jeleknya, kasihan yang ngantri pengen pinjam buku yang sama seperti yang pernah saya alami. 

Nah, dengan adanya rental buku, saya tetap bisa membaca buku tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam plus tak menambah tumpukan buku di sudut kontrakan saya yang sudah sempit. “Rent-read-review”, slogan Beebook itu sepertinya lebih sesuai bagi saya sekarang ini^^.

Membaca Ebook di Nokia E63


 
Di era digital kini, kita bisa membaca buku dalam bentuk elektronik melalui PC, tab, maupun smartphone. Meski saya masih jauh lebih suka buku cetak, format ebook mengakomodir keinginan saya membaca buku-buku yang belum terbit versi cetaknya di Indonesia atau tidak tersedia di rental (hehe...ini alasan orang kere yah). Banyak free ebook yang bisa didownload dari internet. Cara paling gampang dan praktis untuk membaca ebook adalah melalui smartphone yang hampir semua orang punya dan pasti dibawa ke mana-mana. Jadi tak ada alasan untuk tidak sempat membaca. Berhubung HP saya Nokia E63, kali ini saya akan menulis tentang cara membaca ebook di HP yang saya punya. Bisa jadi cara ini juga sama untuk HP lain yang ber-OS Symbian. 
Cara pertama, menggunakan PDF reader yang sudah terinstall di dalam E63. Cara ini efektif untuk ebook berformat PDF, dengan font yang agak besar. Jika fontnya kecil, huruf tetap tidak terbaca ketika di zoom- to fit width. Kalau di-zoom in sampai teks terbaca jelas, halamannya akan jadi tidak pas satu layar. Jadilah tangan pegel karena harus scroll kanan kiri setiap baca 1 baris.
Nah cara kedua, pakai quickword (quickoffice) yang juga bawaan E63. Tentu yang dibaca harus berekstensi .doc. Pakai quickword lebih enak, karena font bisa diperbesar sesuai dengan keinginan dan tampilan layar akan menyesuaikan tanpa harus scroll kanan kiri. Format PDF juga bisa dicopy-paste ke word lewat PC, trus disave msword 97-2003 agar bisa dibuka di quickword. Kelemahan quickword kita tidak bisa menandai halaman yang terakhir kita baca karena memang tak ada halamannya. Tapi hal ini bisa diakali dengan ‘switch to editing mode’ lalu tambahkan teks sebagai penanda, bisa pakai nama atau kata unik yang tak ada di dalam ebook dan disave. Jadi setiap kita mau baca lagi, tinggal ‘find’ kata penanda.
Cara ketiga saya ketahui baru-baru ini, ternyata ada ebook reader untuk smartphone berbasis symbian. Namanya Albite Reader. Aplikasi ini bisa membaca format epub dan txt. Kelebihan epub, selain banyaknya ebook yang berformat epub, size file epub biasanya kecil sehingga mempercepat proses mendownload. Fitur Albite Reader sama seperti ebook reader, bisa ganti ukuran font, warna layar, ada bookmarks, dll. Aplikasinya bisa didownload secara gratis di http://albite.org/reader . Ada beberapa versi albite reader, bacalah dulu keterangan HP apa saja yang compatible untuk tiap versi. Kalau tidak salah, yang saya download Albite Reader 2.2 yang no touch (saya agak lupa juga). Kalau kelemahannya,pengalaman saya waktu membuka aplikasi dan loading setiap chapternya agak lama. Entah karena HP saya yang emang lemot atau dari aplikasinya.

beginilah tampilan albite reader...

Update 25 Maret 2013:
Cara keempat adalah memakai ebook reader Bubue Book Reader. Aplikasi ini bisa membaca file .txt dan .epub. Kelebihannya dibandingkan albite adalah adanya bookshelf yang memudahkan kita memilih koleksi ebook, efek membalik kertas sehingga berasa membaca buku beneran^^ dan loadingnya cepat. Aplikasi ini juga tetap terbuka jika kita membaca sms yang diterima saat tengah membaca ebook. Namun di sisi lain fitur yang ditawarkan Bubue tak selengkap Albite hanya ada change font, jump page, dan chapter list, minus bookmark, night mode dan find word. Bubue Book Reader bisa didownload secara gratis di ovi store maupun berbagai webblog. Untuk Nokia E63, saya memakai Bubue versi 1.20.

bookshelf di bubue
tampilan ebook bubue
Anyway, ada banyak jalan ke Roma dan ada banyak cara juga untuk tetap membaca kapan pun dan di mana pun. Happy reading and keep reading!!!

Resensi: Dragon Slipper




Jessica Day George, Bloomsburry, 2007

Demi mengangkat derajat keluarganya dari kemiskinan, Creel menuruti saran konyol bibi asuhnya. Mengumpankan dirinya pada naga yang dipercaya tinggal di gua di puncak bukit yang tertinggi agar seorang ksatria (yang kaya tentu saja) menyelamatkan dan menikahinya. Meski cerita tentang naga itu kedengarannya hanya mitos dan mungkin sang ksatria akan urung menikahinya karena ia bukanlah seorang putri, tidak cantik, juga miskin, siapa sangka mitos tentang naga itu benar adanya. Sang naga yang bernama Theoradus terpaksa membawa Creel masuk ke sarangnya di dalam gua. Theoradus  ternyata tidak berniat memakannya. Ia naga yang baik dan hobi mengkoleksi sepatu, bukannya emas seperti dugaan kebanyakan orang. Theoradus telah hidup enam ratus tahun lebih di dalam gua dan ia menghindari manusia. Maka ketika mengetahui bibi Creel berhasil meyakinkan putra tuan tanah untuk menyelamatkan Creel dari tawanan naga, Theoradus bingung karena ia tak ingin ada pertumpahan darah. Akhirnya Creel menawarkan diri untuk menyelesaikan masalah dengan imbalan sepasang sepatu koleksi Theoradus. Theoradus setuju dan Creel memilih selop biru yang cantik dan berdesain unik. Meski awalnya Theoradus keberatan atas pilihan Creel, ia tetap menepati janjinya. Creel turun gunung dan bertemu putra tuan tanah. Ia berkata bahwa sang naga tiba-tiba mati karena usia tua jadi ia bisa keluar dengan selamat. Creel juga berpesan agar mengatakan pada bibinya bahwa dirinya akan pergi ke King’s Seat, ibukota kerajaan untuk mencari kerja agar tak menjadi beban sang bibi. Lalu Creel pun melanjutkan perjalanannya meninggalkan kota Carlieff menuju King’s Seat dengan memakai selop barunya yang ternyata tak hanya mempertemukannya dengan naga-naga lain tapi juga seorang pangeran...

Sewaktu kecil, saya suka sekali dongeng klasik. Sampai-sampai saya punya favorit spot di rumah teman ayah yang anaknya punya satu set dongeng klasik hard cover. Kini begitu banyak dongeng-dongeng modern yang ditulis ulang dari dongeng klasik maupun kreasi baru. Jessica Day George adalah salah satu penulis dongeng modern favorit saya. Salah satu kelebihan dongeng modern adalah penyimpangan ‘pakem dongeng’. Jika biasanya tokoh utama adalah putri cantik yang lemah lembut ala ‘princess’, Creel sama sekali tak cantik, muka berbintik, tetapi pemberani. Ia berani mempertahankan haknya bahkan di hadapan bangsawan kerajaan. Tentu ini bisa menginspirasi pembacanya untuk tampil ‘berani’ seperti Creel. Lalu naga yang biasanya kejam bin mengerikan, di buku ini malah digambarkan hobi mengkoleksi sepatu, kaca patri, bahkan anjing. Saya geli sendiri saat membacanya. Dari segi plot, Jessica meramu kisah ‘selop naga’ ini dengan ketegangan yang terjaga dari awal sampai akhir cerita. Klimaks cerita di mana terjadi peperangan dengan naga begitu menegangkan sampai saya rela bergadang membaca saking penasarannya. Dialog antar para karakternya juga  lucu dan bahasa yang digunakan sangat mudah dimengerti hingga saya lupa kalau sedang membaca dalam bahasa Inggris. Endingnya...bahagia (hore!!!) walau ada sedikit sedih. Beberapa misteri dibiarkan belum terjawab di ending. Mungkin dikarenakan ‘selop naga’ ini adalah seri pertama dari serial Dragon Slipper. Hhmm dongeng yang seru...jadi pengen baca sekuelnya^^

Review: Living Room No Matsunaga-san

Lama ngga nulis blog padahal banyak ide di kepala. Ya begitu kalau kerjaan sedang banyak jadi malas mau menulis hehe... Kali ini saya akan r...