17 Jun 2012

Kue Mangkok


Hanif doyan banget makan kue mangkok yang 5000-an isi 5. Saking seringnya beli jadi terpikir untuk coba bikin sendiri. Percobaan pertama gagal total alias bantet. Yang kedua kalinya baru sukses horee... Tapi setelah dipikir-pikir nyiapin bahannya cukup ribet, harus ada tape singkong dan air soda. Pernah diganti pakai ragi instan, yaah...Hanif ngga doyan karena terlalu berasa tape/asem. Jadi mendingan beli aja deh hehe. Sing penting sudah pernah coba dan sukses toh *dasar males.com

Ini dia resepnya (dari resep Fatmah Bahalwan NCC)
Bahan:
Adonan I  : 125 gram tape singkong
                  150 gram gula pasir (aslinya 175 gram)
Adonan II : 100 gram terigu
                  150 ml air
                  50 gram gula pasir (aslinya 75 gram)
Adonan III: 200 gram tepung beras
                  200 ml air dingin
150 ml air soda
1 sdt baking powder
Pewarna makanan secukupnya

Cara membuat:
  1. Campur bahan adonan I hingga rata, sisihkan. Masak 150 ml air dan gula (adonan II), lalu masukkan terigu sedikit demi sedikit. Airnya tidak perlu sampai mendidih, cukup sampai gula larut.
  2. Campur bahan adonan III, lalu masukan adonan I dan adonan II, aduk terus sampai rata. Saring dengan saringan kawat.
  3. Masukkan air soda dan baking powder. Diamkan selama 3-5 jam di tempat hangat (misal: dekat magic com).
  4. Setelah didiamkan, adonan akan terlihat mengembang dengan gelembung-gelembung udara di permukaannya. Tambahkan pewarna makanan secukupnya.
  5. Panaskan panci kukusan dengan cetakan di dalamnya selama 5 menit, tuang adonan ke dalam cetakan sampai penuh, kukus lagi selama 20 menit. Jangan dibuka sebelum 20 menit.
Tips:
  1. Gunakan tape singkong yang sudah matang dan empuk banget
  2. Jangan membuka air soda sebelum adonan selesai disaring. Apalagi belinya di warung trus minta diplastikin, jangan!!! Mendingan bawa sekalian sama botolnya agar karbonasinya masih ada.
  3. Ketika mencampurkan adonan II dengan adonan I dan III, cek jangan sampai adonan II masih panas karena ragi tape bisa mati.
  4. Jangan mengolesi cetakan dengan minyak, karena bikin bantet dan ngga mekar. Ini berdasarkan percobaan pertama, walau sebenarnya ngga jelas juga bantet gara-gara cetakan dioles minyak atau adonan II kepanasan atau air sodanya udah menguap hehe. Selamat mencoba...





The Gifted Club dan Mama Aku Lulus


Dua novel ini sudah saya baca sejak beberapa waktu yang lalu. Keduanya sama-sama mengambil tokoh utama anak berkebutuhan khusus, tapi di area yang berbeda. The Gifted Club membidik ABK ekstrem kanan –anak berbakat-, sedangkan Mama Aku Lulus tentang anak autis. 

Buku pertama berkisah tentang persahabatan antara Asyiria, Dian, Matthew, dan Iman. Mereka berempat bersekolah di tempat yang sama dan sama-sama terkenal bermasalah di kelasnya. Matthew dan Iman suka membolos, Asyiria kerap kali panik berlebihan, dan Dian –baginya tiada hari tanpa berkelahi dengan temannya-. Pihak sekolah sudah menyerah terhadap kelakuan Asyria, Matthew, Dian dan Iman. Tapi tidak dengan Bu Siska, adik kepala sekolah. Beliau akhirnya mendapat izin untuk memberikan pelajaran tambahan di luar jam sekolah pada mereka berempat. Akhirnya persahabatan terjalin di antara mereka dan mengkuak bahwa mereka ternyata anak-anak berbakat. Asyiria piawai menulis, Dian supel dan selalu bersemangat, Matthew jago matematika, dan Iman jenius di bidang musik. 

Buku kedua berkisah tentang hidup seorang Disa. Disa yang lahir dengan normal, tapi terlihat cuek dan lambat bicara di usia 3 tahun ternyata didiagnosa autis. Meski demikian, Disa tetap menyimpan keinginan bersekolah di SD –yang saat itu belum ada SD inklusi-. SD yang ada hanya menerima anak-anak ‘normal’. Ternyata doa Disa terjawab, sebuah SD bersedia menerimanya apa adanya meski sempat ditentang oleh beberapa guru sekolah itu sendiri. Selanjutnya kisah mengalir tentang perjalanan Disa menikmati masa-masa sekolahnya hingga berhasil lulus SD.

Kedua buku ini cukup menarik, mengulas tentang ABK tanpa harus membuat kening berkerut hehe... Terus terang saya lebih suka –dan lebih cepat- membaca novel daripada buku/artikel ilmiah. The Gifted Club mengajak pembacanya menyelami kehidupan anak-anak berbakat –yang di luar terlihat seperti anak lainnya tapi sebenarnya mereka juga membutuhkan perhatian khusus-. Sayangnya hubungan mereka dengan teman-teman sekolahnya tidak diceritakan lebih detil. Buku ini terfokus pada kehidupan mereka berempat dan orang-orang terdekatnya sampai mereka meraih sukses di masa dewasa. Tapi saya belajar banyak tentang ABK rentang kanan dan sisi kehidupan mereka dari buku ini. Sementara buku kedua lebih mengharu biru bagi saya. Kisah hidup Disa –waktu kecil- mirip dengan Hanif. Dari buku ini saya jadi memahami betapa indahnya pendidikan inklusi. ABK belajar bersosialisasi dengan lingkungan normal yang heterogen –tak hanya sesama ABK saja-, sementara anak lain dapat belajar berempati atas keadaan si anak ABK. Selama ini saya terus berpikir kalau Hanif mungkin akan menghambat proses belajar jika ia sekolah di sekolah umum. Tetapi di buku ini digambarkan bahwa teman-teman sekolah Disa menerima keadaan Disa apa adanya, bahkan mereka sigap menjadi ‘tim dokter’ setiap kali Disa terserang kejang di sekolah. Anda. Saat membaca bagian kelulusan Disa, saya pun ikut menangis. Yah...bagi orang tua ABK, pencapaian apapun oleh sang buah hati pastilah terasa luar biasa. Dua buku yang mencerahkan tak hanya bagi orang tua ABK, tapi juga untuk semua orang. Happy reading^^...